Bahagia Psikologis dan Fisiologis: Mana yang Sering Kamu Alami?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kesehatan
dipublikasikan 10 Mei 2017
Bahagia Psikologis dan Fisiologis: Mana yang Sering Kamu Alami?

Menurut Ruut Veenhoven, dalam sebuah konferensi di Universitas Notre Dame, kondisi bahagia atau kebahagiaan sering disejajarkan dengan dengan kualitas hidup atau well-being. Socrates dan Plato pun melihat kebahagiaan sebagai keadaan harmonis antara keinginan jiwa dan hasrat agresif dalam diri. Ada kepuasan dalam diri seseorang ketika ia sedang berada dalam kebahagiaan. Kebahagiaan yang muncul tesebut dapat menambah semangat hidup karena makanan bagi jiwa kita telah terisi. 

Selain dari definisi para ahli, bahagia menurut masing-masing orang pasti berbeda-beda. Mungkin ada yang sama, seperti sangat bahagia ketika merasakan cukupnya kasih sayang, atau hanya dengan mendengarkan lagu favorit. Walaupun dalam teori kebahagiaan banyak menyebutkan kondisi psikologis, ternyata, ketika kita bahagia ada respon biologis dari tubuh juga, lho. 

Tubuh mengeluarkan hormon dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorfin ketika kita merasakan kebahagiaan juga ketika membutuhkan kebahagiaan. Hormon tersebut muncul sebagai respon biologis yang bersifat alamiah. Adanya kinerja hormon dopamin pada bagian mesokortikal otak membuat tubuh kita lebih memiliki emosi positif dan motivasi tinggi. Hormon oksitosin, atau hormon cinta, diproduksi tubuh ketika seseorang merasa dicintai sehingga memunculkan efek nyaman dan physically bahagia.

Hormon lainnya, yaitu serotonin, mampu membuat tubuh kita bahagia, memiliki mood atau suasana hati yang stabil, dan akhirnya membuat jiwa kita juga bahagia. Selain itu, daya ingat serta kemampuan kognitif meningkat ketika hormon ini diproduksi tubuh. Sedangkan hormon endorfin dalam tubuh membuat kita semakin bahagia karena ada saraf-saraf yang ditenangkan dan stres yang dialami semakin berkurang. Di setiap waktu, tubuh kita mengalami kebahagiaan psikis dan fisik yang hampir bersaman dengan adanya hormon-hormon tersebut. 

Ketika telah mengetahui adanya perasaan subyektif (perasaan bahagia) dan obyektif (munculnya empat hormon tersebut) dari tubuh kita, akan mudah mengetahui bagaimana cara kita untuk bahagia. Yaitu dengan cara memunculkan hormon-hormon tersebut secara alami melalui olahraga teratur, berjemur di bawah sinar matahari pagi, memakan makanan bergizi secukupnya seperti pisang, biji bunga matahari, antioksidan, protein, menjalin hubungan sosial yang baik, berpikiran positif, maupun bermain dengan hewan peliharaan. Jika diperlukan dan atas anjuran dokter, konsumsilah dopping lain pemicu hormon tersebut dengan terkendali. Usahakan penggunaan dopping hormon yang tidak merusak tubuhmu serta masa depanmu ya, gengs, untuk lebih membahagiakan tubuh dan psikismu!

 

*Dikutip dari berbagai sumber

  • view 84