Pertolongan Allah itu dekat

Pertolongan Allah itu dekat

Eni Rahayu
Karya Eni Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Mei 2018
Pertolongan Allah itu dekat

Pertolongan Allah itu Dekat

 

          وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“ ... Dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata ‘kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat”, Q.S Al-Baqarah ayat 214.

        Kali ini aku ingin bercerita tentang maha baiknya Allah, danjuga memang benar bahwa pertolongan Allah itu dekat.

        Tadi pagi, rabu 23 Mei 2018 sama seperti rabu-rabu biasanya selalu menjadi rabu yang menegangkan karena terdapat mata kuliah Islamologi. Mata kuliah yang menuntut kami kedisiplinan tingkat tinggi selama 3 tahun berkuliah. Bagaimana tidak, semua orang tahu dan sepakat bahwa batas maksimal keterlambatan masuk kelas pukul 08.15. Tapi, itu tidak berlaku pada mata kuliah Islamologi. Pukul 07.50 saja dosen kami sudah duduk rapi di kelas dan siap memulai pelajaran. Bagi mata kuliah ini kelas itu ya jam 08.00,dan tidak ada kata terlambat. Bagaimana coba perasaan para telaters seperti aku ini, menyiksa? Sangaaaat.

        Rabu ini menjadi pertemuan terakhir semester ini. Whaaa akhirnya kami lepas dari belenggu menegangkan setiap rabu pagi. Tapi jangan senang dulu, rabu ini juga kami ditagih revisian paper individu UTS dan paper UAS. As always sebagai seorang deadliner, aku tidak pernah menyiapkan dari jauh-jauh hari.

        Dan qadarullah pagi ini listrik di fakultas kami mati! Whoaaa kelabakan bukan main, mana printer di rumah rusak dan mana ada tempat print yang buka sepagi ini. Wal hasil aku pun harus mengojek kembali untuk mencari tempat printer yang buka. Alhamdulillah bapak ojeknya mau untuk menunggu ku ngeprint dn itu lamaaaaa. Gimana ga lama yang ngeprint banyak dan printernya Cuma bisa satu huhuhu. Mau nangis saat itu juga, tapi ya malu dilihat orang banyak.

        Pukul 07.53 dikabarkan bahwa dosen kami tercinta sudah ada di kelas. Waaaah bener kan , dia selalu berada di kelas sebelum jam 08.00. Tapi posisiku saat itu masih di tukang printer, pun belum semua paper ku di cetak huhuhu. Kalau bisa ingin rasanya punya jurus membelah diri, yang satu nge print yang satu nampilin muka di kelas. Tapi itu mustahil huhu.

        Aku baru  bisa keluar dari zona print-print –an pukul 08.14 dan sampe kampus pukul 08.24. Dan benar saja kampus gelap gulita. Meskipun kampus gelap gulita, aku masih tidak berani untuk menyelinap masuk kelas tersebut. Kenapa? Karena aku tau maksimal telat ya jam 08.00. Apa- apaan aku dateng jam 08.24, ya kena sembur dosen lah L

        Rasanya saat itu dunia mau runtuh L. Lebay sih, tapi kalau kalian ada di posisi ku mungkin juga merasakan kepanikan dan ketakutan yang tidak jauh berbeda. Bagaimana tidak, ini matkul ter dag-dig-dug sepanjang sejarah kuliah, dan di masa UTS aku udah ga masuk gara-gara telat juga. Dan ini, hari terakhir kuliah pun aku telat juga. WE KENAPA SIH, DEMEN BANGET TELAT L. Eh siapa bilang demen, ngaji ku loh nyampe jam 07.00 tadi pagi. Belum buat beres beres mandi segala macem, ya jelas telat lah aku L

        Loh kok malah jadi nyalahin ngaji? Enggak, we ga menyalahkan ngaji koook. Seriuuus, malahan tadi pagi sebelum ngaji aku berniat untuk tidak ikut ngaji dengan alasan masih mengerjakan tugas yang seharusnya udah dikerjain dari jauh-jauh hari. Tapi, aku tetep nekat untuk berangkat, karena memang alasan itu tidak logis, dan hati ini tidak rela meninggalkan ngaji. *Cieilah gaya bener. Tapi percayalah ini serius. Semacam ada perasaan bersalah dan bisikan “ Masa iya mau ninggalin ngaji, Cuma gara-gara tugas. Tugasnya belum selesai pun gara-gara kamu ga ngerjain dari jauh-jauh hari. YUUK AH NGAJI DULU, PASRAHIN SEMUANYA KE ALLAH. Minimal kalau mau izin, harus menghadap ustadz maupun ustadzahnya dulu, biar beliau tahu dan ridha dengan izin mu”. Yaa, kata-kata itu yang selalu menjadi pengingat tatkala ada keinginan untuk membolos ngajai. Terlebih bayang-bayang hukuman istimewa membuat ku enggan absen ngaji wehehe. Selain itu aku selalu percaya bahwa keberkahan itu datang dari banyak hal, dan salah satunya dengan mengaji. Terlebih yang membimbing kami para ustadzah dan ustadz yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Yaa, berharap mendapat barakah dan karamah.Tapi serius, banyak temen ku yang mendapat barakah ketika pada akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tugas mereka sebentar dan menunaikan kewajiban mengajainya. Ada saja dosen yang tiba-tiba tidak hadir beberapa menit kemudian setelah kami mendapat wejangan dari ustadz kami. Husnudzon kami, “ Ini namanya barakah mengaji” hehehe.

        Sama aku pun berpikir positif bahwa tadi pagi aku mendapat barakah dari mengaji. Bagiamana mungkin dengan keterlambatan 24 menit aku bisa masuk kelas tanpa kena omelan dosen. Dan aku masuk pada pukul 08.43. Kenapa jadi 43? Iya karena ternyata tidak mudah mengumpulkan keberanian untuk masuk kelas dan mengetuk pintu. Hingga akhirnya aku hopeless dan menitipkan paper di  meja gedung dan aku menuju musholla. Saat itu berbagai pikiran negatif muncul di benak. “ BAGAIMANA NASIB KU NANTI? AKANKAH AKU LULUS MATA KULIAH INI? UTS LALU AKU TIDAK MASUK, KALI INI AKU JUGA TERLAMBAT, PAPER KU JELEK. APAKAH ADA KESEMPATAN AKU LULUS ? SEMENTARA NOVEMBER NANTI HARUS PENELITIAN LAPANGAN KE PADANG? GA BISA NGEBAYANGIN KETIKA HARUS TINGGAL KELAS SAMA ADEK TINGKAT, DAN NGASIH TAU ORANG TUA HAL INI, CUMA GARA GARA AKU SUKA TELAT” rasanya saat itu juga aku tidak tahu lagi bagaimana arah ku ke depan. Yang aku tahu aku hanya berpasrah, karena pada kenyataannya aku memang tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada ku di depan nanti. Kita memang bisa berusaha, tapi Allah maha menentukan bukan.

        Yang aku tahu saat itu hanya satu, aku harus kembali ke Tuhan ku. Aku mengambil wudhu dan bersiap siap untuk melaksanakan sholat dhuha. Tpi sebelum sholat dhuha terdapat kabar dari teman-teman untuk menyuruh ku masuk kelas saja, karena saat itu banyak teman yang keluar masuk kelas. Jadi ga bakalan ketahuan. Kalau kalian tahu bagaimana perasaan ku saat itu. Perasaan ku bercampur antara senang tapi takut. Akhirnya ku putuskan untuk sholat dhuha 2 rakaat terlebih dahulu untuk memantapkan hati. Dan setelah itu dengan segala keberanian yang sesungguhnya masih sangat kecil ini aku memutuskan untuk masuk kelas secara menyelinap. Tas dan leptop ku ku titipkan di ruang jaga musholla. Dan aku hanya membawa badan masuk ke dalam kelas. Pelan-pelan dengan langkah mengendap aku memasuki kelas dan hap! Aku berhasil masuk dan duduk di kursi, seolah aku tadi izin ke kamar mandi, padahal aku baru masuk kelas.

        Kalian tahu rasanya? Rasanya seperti dunia ku tidak jadi runtuh. Ia kembali lagi membawa pelajaran yang amat sangat berharga. Dan rasanya kecemasan-kecemasan sebelumnya  melayang begitu saja. Umpatan-umpatan yang terpendam di hati menguap begitu saja. Mengingat betapa baiknya Allah mengizinkan ku mengikuti kelas tanpa di ketahui dosen, bahwa aku telat. Sungguh rasanya seperti semua beban lepas dan semua ketakutan itu lenyap. Pun rasa syukur ku bertambah dan pemahaman ku juga bertambah bahwa “ Pertolongan Allah itu amatlah dekat”. Belum jadi aku menangis, beliau memberikan kenikmatan dengan aku bisa masuk kelas. Jadi, absen UTS dan UAS ku amaaaan! Yeaaaayyy!

        Jadi, pada intinya jangan cepat beragumen apalagi berburuk sangaka terhadap Allah. Harus ngurangin negatif thinking dan banyakin positif thinking, dengan dibarengi usaha yang maksimal dan ibadah yang maksimal tentunya!

        Sekian ceritaku. Salam hangat! Jangan lupa membaca ar-rahman dan al waqiah setiap hari yaaa J

                                                        Depok, 23 Mei 2018

 

  • view 45