[ SURAT DARI AYAH IBU MU ]

Eni Rahayu
Karya Eni Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2017
[ SURAT DARI AYAH IBU MU ]

 

            Nak, apa kabar mu di perantauan sana? Sudahkah kau makan hari ini? Bagaimana keadaan mu saat ini? Apakah kau masih tetap kurus seperti dahulu, ataukah sebaliknya? Katanya kau sibuk dengan kegiatan kampus mu ya nak? Apapun itu, kami ibu dan ayahmu selalu mnedoakan namamu dalam setiap sujud sujud kami.

 

            Nak, kami tahu sebentar lagi kau memasuki usia 20 tahun. Rasanya baru kemarin kamu terlahir dari rahim ibu, sekarang kau sudah bertambah dewasa saja. Maafkan apabila kau merasa kami kekang saat masih sma dulu. Kami masih ingat betapa setelah lulus madrasah tsnawiyah kau belajar keras agar bisa menuntut ilmu di kota orang, berembel-embelkan pesantren. Kami tahu kau belajar keras siang malam, agar bisa masuk ke sekolah tersebut. Dan ketika hari itu tiba, benar firasat kami, kau diterima di sekolah tersebut. Ku lihat betapa gembiranya kau saat itu, karena kau mengerahkan usaha kerasmu dan semua itu terbayarkan. Tapi apa setelah itu, kami malah tidak mengizinkan mu untuk bersekolah disana. Mungkin saat itu dalih kami mengatakan tentang biaya yang tak sanggup kami penuhi. Tapi, kau tahu bukan itu alasan utama kami nak. Kami hanya belum terlalu siap untuk melepas mu seorang diri, meskipun ku tahu di sekolah tersebut terdapat asrama yang akan menjaga mu 24 jam. Tapi, kami belum mampu membiarkan kau jauh dari kami. Kau tahu sendiri, ibumu telah berpisah dengan mu sejak kau berusia 3 tahun, dan baru kembali disisimu saat kau perlahan menjadi gadis kecil yang menawan, saat itu kau memasuki umur 12 tahun. Betapa ibumu rela kehilangan masa masa dimana kau sedang bertumbuh dengan menukarkan dirinya untuk membiayai sekolah mu. Bukan, bukan berarti ayah mu tak mau membiayaimu, hanya saja saat itu keputusan yang terbaik ialah ibumu merantau mencari uang, sementara kau dirawat ayahmu. Dan ibumu kembali saat kau memasuki jenjang mts, lalu 3 tahun setelah itu kau menginginkan untuk belajar di lar kota. Rasanya kami tak sanggup melepas mu begitu saja nak. Maafkan ayah dan ibu saat itu.

 

            Saat ini kau sudah merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup jauh dari rumah bukan? Bagaimana menahan rindu dan merawatnya? Bagaiamana sebuah perjumpaan dengan keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga dan kau nanti-nantikan. Diawal mungkin kau akan menangis tersedu sedan karena belum terbiasa dengan keadaan mu sebelumnya, tapi kami yakin lama kelamaan kau akan terbiasa. Oh iya pasti kau penasaran kenapa kami tak pernah mengantar mu ke tempat perantauan mu. Mungkin kami sering bilang alasan biayaya yang terlampau mahal untuk sekedar bolak balik. Tapi, sesungguhnya bukan itu nak. Kasih sayang kami tak hanya sebatas materi saja. Kami hanya tak ingin kau menjadi lemah saat melepaskan kepergian kami dari tempat mu merantau saat ini. Kami tak ingin melihat air mata mu tumpah. Kami tak ingin kau merasa lemah, dan juga kami tak tega jika harus meninggalkan mu seorang diri disana. Sehingga kami merasa alangkah lebih baiknya kau berangkat seorang diri tanpa kami. Jangan kau berfikir kami tak penasaran dengan lingkungan mu, kami tak penasaran dengan pergaulan mu disana. Sungguh jika kau tahu, kami sangat khawatir akan pergaulan, lingkungan, serta dirimu disana. Terlebih kau anak perempuan pertama kami, dan ini kali pertama mu jauh dari kami. Tapi, kami mengabaikan semua ke khawatiran itu, kami tepis perlahan karena kami percaya Tuhan akan menjaga mu lewat doa-doa yang kami panjatkan siang dan malam. Dan kami menaruh kepercayaan penuh terhadap mu. Kau pasti akan menjaga kepercayaan yang telah kami berikan kan? Kau juga ingin berjuang yang terbaik untuk masa depan mu bukan? Kami sungguh percaya kau mampu melewati semuanya disana, karena kami tahu kau adalah anak perempuan kami yang kuat. Yang beberapa tahun silam masih seorang gadis kecil lugu, dan kini sedang mengadu nasib di kota orang.

 

            Oh iya nak, kami tahu usia mu bukanlah anak remaja lagi. Perlahan kau memasuki usia dewasa. Dan kami tahu kau pernah mengalami virus merah jambu. Meski kau tak pernah menceritakan langsung kepada kami? Kenapa? Apakah kau terlampau takut hanya untuk sekedar menceritakannya kepada kami, karena ayah mu sering menodong mu dengan kalimat “Jangan mainan cowo dulu! Belum saatnya”. Sepertinya mantra itu mencengkram mu kuat, sehingga kau tak pernah membuka mulut terkait hal yang satu ini. Tapi kau tahu kan itu semua kami lakukan karena kami terlampau menyayangimu nak. Kami tak ingin kau salah langkah, kami tak ingin kau tersakiti dengan segala jenis virus merah jambu yang merebak di kalangan remaja seusia mu. Kami ingin kau mendapatkan pasangan yang terbaik nak, yang bisa mengantarkan mu ke surga-Nya. Yang bisa mendidik anak-anak mu kelak dengan sebaik-baiknya pendidikan, dan yang bisa menyakinkan kami bahwa kami tak salah melepasmu ke dalam pelukannya.

 

Kami ingin saat ini kau berjuang untuk masa depan mu nak. Yaaa, masa depan yang lebih cerah dar pada yang kami peroleh. Kami ingin kau tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang berguna serta bermanfaat bagi sekitar mu. Tetap semangat di perantaun sana ya nak. Meskipun kau tak pernah berucap akan kerinduan mu terhadap kami, dan kami pun tak pernah mengucapkan kerinduan kami terhadap mu. Tapi kami percaya masing-masing dari kita menyimpan kerinduan yang teramat dalam. Hanya saja kita tak tahu dan tak terbiasa mengucapkannya secara lugas. Tapi percayalah nak, dalam setiap perjumpaan kami dengan Tuhan (shalat) kami selalu mendoakan mu yang terbaik. Agar kau menjadi anak yang sholehah, menjadi wanita cerdas juga menjadi penolong kami di akhirat kelak.

 

Sampai disini dulu surat ini kami tuliskan nak. Tetap semangat, libatkan Allah dalam setiap urusan mu. Dan kami nantikan kedatangan mu di rumah. Salam rindu, ayah dan ibu mu.

           

  • view 62