[ Surat Untuk Bapak dan Ibu Ku ]

Eni Rahayu
Karya Eni Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Februari 2017
[ Surat Untuk Bapak dan Ibu Ku ]

 

            Pak ma, sebentar lagi usia ku genap 20 tahun. Dan 20 tahun yang lalu, di sebuah kampung yang bisa dibilang amatlah terpencil, mama bersusah payah melahirkan ku dibantu dengan seorang dukun bayi. Mungkin saat itu dokter masih sangat jarang di kawasan itu. Mama berjuang keras agar bisa melahirkan ku dengan selamat, dan agar aku bisa melihat dunia dan seiisinya. Terimakasih untuk pengorbanan mu ma. Untuk pengorbanan yang pasti tak mampu ku balas dengan apapun, karena ku tahu saat melahirkan bisa saja kau kehilangan nyawa mu sendiri. Akan tetapi, alhamdulillah Allah berbaik hati mengijinkan bayi mungil itu dan ibunya selamat.

            Terimakasih pula untuk kalian bedua karena berkat cinta dan kasih sayang kalian, aku bisa tumbuh hingga saat ini. Kini gadis kecil itu perlahan mulai menapaki masa dewasa, bukanlah remaja lagi ataupun kanak-kanak. Dan saat ini, ia sedang menempuh pendidikannya di kota orang . Berkat kalian lah dia mampu melangkah sejauh ini. Siapa yang mengira gadis kecil itu diterima di universitas terbaik di negeri ini. Universitas yang mengusung nama negara kita. Jika bukan karena kasih sayang sang maha pencipta dan juga kalian, ia tak akan mampu berada disana. Berada di antara orang-orang hebat di negeri ini. Sambil terus memupuk harapan, ia lantunkan doa-doa terbaik agar kelak ia juga bisa menjadi salah satu orang hebat itu.

            Pak, ma mohon maaf apabila selama ini aku terlihat mempunyai angan-angan yang sangat tinggi. Aku teringat saat kalian marah, kalian pernah mengatakan “ Angan-angan mu terlalu tinggi, kau selalu ingin yang terbaik , dimana teman-teman mu cukup merasakan yang biasa-biasa saja. Tapi kau tidak, kau pasti menginginkan hal yang lebih dari mereka”. Entah itu perkataan yang sengaja ingin kalian utarakan selama ini, atau hanya terpengaruh emosi belaka, aku tidak tahu. Yang jelas, aku ingin meminta maaf untuk angan-angan ku yang mungkin terlalu tinggi dan memberatkan kalian. Kini aku menyadari itu pak ma. Tapi, aku un tak bisa menyalahkan angan ku begitu saja. Karena tanpa ia, mungkin aku tak bisa melangkah sejauh ini.

                  Aku teringat dulu kalian pernah bilang “ Kenapa ya saat anak-anak lain cukup disekolahkan di smp ataupun mts yang standar-standar saja , kenapa kau selalu memilih yang terbaik. Kala itu kau memilih mts negeri 1 kebumen. Dimana saat itu, mts 1 merupakan mts favorit di kota kita. Dan pasti biayanya juga bisa dibilang lebih mahal dari pada sekolah-sekolah yang lain. Lantas, saat kau sudah selesai mts, di saat teman-teman mu memilih untuk melanjutkan ke smk, agar kelak bisa langsung bekerja. Dengan harapan mereka tidak lagi memberatkan orang tua, dan bisa mencari uang sendiri, kau malah lebih memilih melanjutkan ke jenjang SMA. Dimana saat kau memasuki SMA, kesempatan bekerja lebih kecil dan kau harus kuliah untuk bisa bersaing dengan teman-teman mu yang lain. Kau selalu memilih yang berbeda dari teman-teman sekitar rumah dan juga saudara mu. “ Maaf pak ma, maaf jika pandangan ku berbeda dengan saudara atau bahkan teman-teman sekitar rumah. Tapi itulah yang membuat ku spesial. Mungkin, karena faktor lingkungan ku yang berbeda dengan anak anak sekitar rumah dan juga saudara ku, membuat angan-angan ku juga berbeda dengan mereka. Dengan bersekolah di tempat yang favorit, aku diajarkan untuk mempunyai mimpi yang tinggi. Setiap hari aku dihadapkan pada orang-orang hebat, sehingga tumbuh dialam bawah sadar ku, agar kelak aku pun harus bisa menjadi seperti mereka. Dan agar aku tidak takut untuk bermimpi, terlepas apapun background ku. Karena mereka pun dulu memiliki background yang tak jauh berbeda dengan ku, bahkan bisa lebih menderita dariku. Tapi, dengan semangat yang membara mereka berhasil membuktikannya saat ini. Karena dihadapkan hal-hal seperti itu setiap hari, maka aku pun selalu menginginkan hal hal yang terbaik dalam pendidikan ku. Karena untuk pendidikan dan impian, kita berhak mendapatkan yang terbaik.

                   Jika saja saat itu aku memilih untuk mengikuti teman-teman sekitar rumah ku atau saudara ku, yang bisa dibilang menerima hal-hal yang biasa-biasa saja. Atau ku perjelas, sekolah di tempat yang standar-standar saja, bukan sekolah di tempat yang favorit, mungkin aku tidak bisa sampai disini saat ini. Mungkin, aku juga akan seperti mereka, menjadi pegawai pabrik. Bukan, bukan berarti aku merendahkan mereka, sama sekali aku tak ada niat merendahkan mereka. Bahkan terkadang aku pernah merasakan iri yang amat sangat dalam terhadap mereka, karena mereka dengan usia yang sama dengan ku, tapi bisa memberikan jerih payah mereka. Mereka bisa membelikan barang-barang mewah kepada orang tua mereka. Aku belum bisa melakukan hal yang sama yang seperti mereka lakukan. Aku sampai saat ini masih saja meminta uang dari kalian.

                  Pernah aku mempertanyakan, apakah tepat keputusan ku meminta sesuatu yang istimewa dan berbeda dengan anak-anak lain? Dan sudahkah aku memberikan imbalan atas semua yang hal-hal istimewa yang aku minta dari kalian? Atau masih saja aku menjadi beban bagi kalian? Sempat terfikir kenapa aku tak memilih jalur yang sama dengan teman-teman sekitar rumah dan juga saudara ku? Yaa, agar paling tidak aku bisa memberikan kalian barang-barang mewah seperti yang teman-teman ku lakukan. Karena dengan berada di lingkungan yang bisa dibilang selalu favorit pun, prestasi ku tidaklah ikut favorit. Hanya, angan ku yang terus meninggi, tanpa aku pernah menyadari ataupun memikirkan kemampuan finansial keluarga ku. Maaf kan aku pak ma.

                 Tapi, dengan berada di lingkungan favorit, aku menyadari banyak hal. Bahwasannya, kalau aku ingin berbeda dengan yang lain, maka aku pun harus berani mengambil jalur yang berbeda pula. Mungkin, saat ini aku belum bisa memberi kalian barang mewah seperti teman-teman sekitar rumah ku. Dan saat ini kalian masih saja membiayai ku untuk pendidikan ku. Tapi, aku percaya semua ini tak akan sia-sia. Semua akan membuahkan hasil, kelak pada watunya.

                 Pak ma, kali ini aku juga ingin memberitahukan keinginan ku yang lain. Aku ingin bisa melihat dan menimba ilmu di Timur Tengah. Yaa, negara yang kurang lebih 4 tahun ini sedang ku pelajari lewat buku-buku dan juga literatur. Aku menempatkan pilihan ku pada Universitas Al-Azhar. Kenapa aku memilih Timur Tengah, dan juga Al-Azhar? Pertimbangan ku, yang pertama aku ingin belajar langsung di tempat yang selama ini hanya bisa ku pelajari lewat buku-buku dan juga literatur serta dosen. Kedua,sebagaimana yang kita tahu, Timur Tengah adalah tempat dimana para nabi dahulu menyebarkan islam, disana pasti banyak ulama-ulama hebat. Dan aku berharap, bisa menimba ilmu dari mereka. Ketiga, aku belum siap jika harus menimba ilmu di suatu daerah yang minoritas islam. Karena iman ku masih amatlah lemah, maka aku berfikir ada baiknya aku belajar di tempat yang masih kental akan islam.

                  Aku juga ingin memberitahukan cita-cita ku pak, ma. Untuk saat ini, aku ingin sekali kelak bisa membantu jamaah haji, aku ingin menjadi salah satu pemandu mereka.Jika kalian bertanya atas alasan apa? Aku pun belum bisa menjawabnya, hanya hati kecil ku tersentuh untuk melakukan itu, meskipun aku belum tahu bagaimana medannya. Semoga Allah mengijabahi keinginan ku. Aku juga ingin bisa melihat dunia lebih luas, aku selalu kagum akan orang-orang yang bisa mengelana ke duania sambil mencari jejak-jejak sejarah keislaman di bumi yang mereka pijaki. Aku ingin, suatu saat aku bisa melakukan hal yang demikian, dan memabagikan pengalaman ku lewat sebuah tulisan. Oh iya, pak bu aku lebih suka menulis, dari pada harus berbicara di depan banyak orang. Maafkan aku, jika kalian menginginkan aku bisa beran berbicara di depan banyak orang, nyatanya aku belum bisa memenuhi itu semua. Aku lebih suka mengekspresikan semuanya lewat tulisan. Seperti saat ini, aku menuliskan surat ini untuk kalian. Karena, saat aku berbicara langsung, aku tak yakin bisa mengucapkannya. Meskipun aku sendiri belum tahu, surat ini kapan aku berikan untuk kalian.

                     Oh iya pak bu, untuk bisa menggapai semua impian dan juga keinginan ku, tentunya aku tak bisa seorang diri. Karena aku bukanlah apa-apa tanpa kalian. Aku sangat membutuhkan doa dan ridha kalian, meskipun mungkin kalian tanpa diminta kalian akan terus mendoakan yang terbaik untuk ku. Dan aku pun juga harus berjuang untuk hal itu. Kalian selalu menanamkan untuk melibatkan Allah dalam segala hal, karena manusia bukanlah apa-apa tanpa sang pencipta.

                   Pak, bu aku selalu menekankan pada diriku sendiri untuk bermimpi setinggi mungkin, setinggi langit kalau bisa. Karena apa? Karena kata orang, jikalau impian mu yang setinggi langit tak terwujud, kau akan jatuh diantara bintang-bintang. Begitulah yang ku yakini bapak ibu.

                Kiranya sampai sini dulu surat ini kutulis. Maaf karena aku belum berani mengatakan secara langsung, tapi inilah keberanian ku. Menuliskannya pada sebuah kertas, berharap suatu saat kau akan membaca nya. Dan juga ini sebagai pengobat rindu ku pada kalian. Terakir, semoga Allah senantiasa memberikan kalian kesehatan dan juga umur yang barokah. Salam hangat dari anak sulung mu yang sedang berada di perantauan.

 

Depok, Asrama Universitas Indonesia

20 Februari 2017.

Pukul 10.30

Eni Rahayu

  • view 84