Surat Kecil untuk Ayah

Eni Rahayu
Karya Eni Rahayu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 September 2016
Surat Kecil untuk Ayah


                      Ayah, sengaja kutuliskan surat ini untuk mu.Entah suatu saat nanti kau akan membacanya, atau surat ini tetap akan ada dalam draft tulisan ku. Ayah, tentu kau tahu saat ini usia ku bukanlah remaja lagi. Yaa, aku sebentar lagi akan menapaki angka 20 dalam hidup ku. Tapi percayalah, aku tetaplah putri kecilmu.


                    Ayah, terkadang orang mengatakan bahwa anak perempuan akan lebih dekat terhadap ayahnya.Dan anak laki-laki akan lebih dekat terhadap ibunya. Entah mengapa, aku merasakan hal demikian, adik lebih dekat dengan ibu, sementara aku lebih dekat dengan mu.Mungkin karena masa kecil ku, kuhabiskan dengan mu. Mengingat saat itu ibu harus merelakan dirinya pergi merantau ke luar negeri. Tapi itu bukan berarti rasa sayangku berbeda terhadap kalian.Aku tetap menyayangi kalian sama besarnya.


                 Ayah, ada berbagai pertanyaan yang kerap kali muncul dalam benak ku.Terkadang saat aku begitu lelah, dan membutuhkan sosok kakak, seringkali aku bertanya “Mengapa aku dilahirkan menjadi anak sulung? Mengapa aku tak mempunyai seorang kakak? “. Begitu kufurnya aku kan yah? Tapi begitulah adanya, seringkali aku membutuhkan sosok kakak dalam hidup ku, rasanya aku ingin menumpahkan segala keluh kesah ku tehadapnya, membagi cerita ku terhadapnya. Tapi apa daya, itu semua hanyalah angan ku belaka. Nyatanya aku terlahir sebagai anak pertama.Yaa, anak sulung yang aku tahu harus menghadapi segalanya seorang diri, dan harus menjadi kuat agar bisa menjadi contoh yang baik bagi adik lelaki satu-satunya. Ayah, menjadi anak sulung ternyata bukanlah sesuatu yang mudah, bisakah aku menjadi kakak yang baik bagi adik ku?
Ayah, saat ini aku sedang melanjutkan pendidikan ku di kota orang. Dan ini kali pertama aku keluar dari rumah, untuk jangka waktu yang lama.Ini juga kali pertama, aku bebas menentukan kehidupan ku, karena ku tahu kalian telah memberikan kebebasan itu saat ini. Bukan, bukan berarti kalian lepas kendali sepenuhnya. Bukankah itu berarti kalian telah menganggap ku tumbuh dewasa?


                   Ayah, aku masih sangat ingat, saat itu aku baru saja menamatkan pendidikan ku di MTS, dan aku memiliki keinginan untu meneruskan sekolah di Magelang. Dan kau tentu sangat tahu, aku berusaha sangat keras untuk itu, hingga akhirnya aku mendapatkan peringkat 2 dalam ujian masuk sekolah tersebut. Dan ketika aku bilang rincian daftar ulangnya, tiba-tiba kau menolak keinginan ku dengan alasan itu sangatlah mahal, belum lagi nanti biaya sehari-hari nya.Kau bersikukuh menolaknya.Dan aku juga bersikukuh untuk tetap melanjutkan disana.Watak kita sama-sama keras, hingga akhirnya kau memutuskan untuk memberiku uang senilai 1 juta rupiah untuk melanjutkan hidup disana, dan semua keperluan lainnya harus ku tanggung sendiri, kau tak mau lagi ikut campur. Begitu ancaman mu saat itu.Hingga akhirnya aku menuruti keinginan mu, dengan berat hati ku lepaskan sekolah tersebut, dan aku melanjutkan pendidikan SMA ku di dekat rumah. Dan saat hari raya Idul Fitri tiba, barulah kau mengatakan alasan sejujurnya menolak keinginan ku untuk bersekolah disana.Katanya, kau belum tega melepas ku seorang diri, mengingat selama ini aku tumbuh bersamamu.Aku masih terlalu kecil untuk meninggalkan rumah, dan alasan mahalnya biaya hanyalah tameng untuk menutupi itu semua. Dan kau tahu persis aku tak mungkin berani melawan perintah mu.Karena aku bukanlah orang yang senekat itu.


                       Ayah, aku juga ingin tanya “ Mengapa kau tak mengantarku ke tempat aku menuntut ilmu untuk 4 tahun ke depan? Tak inginkah kau mengetahui bagaimana kondisinya? Tak penasarankah kau bagaimana kehidupan ku disana? Ataukah ini masih soal biaya? Bukankah kita cukup mampu untuk sekedar membeli tiket kereta api? Kau juga pasti tahu betul, ini tempat yang sangat asing bagiku, dan aku juga tak mempunyai sanak saudara disini. Lantas mengapa kau selalu membiarkan ku berangkat seorang diri ?Atau kau tak ingin aku tumbuh menjadi gadis yang lemah? Dalam novel-novel yang sering ku baca, bahwasannya dalam dinginnya sifat seorang ayah, ada begitu banyak kasih sayang yang tersimpan untuk anaknya, dan mereka tak mau anaknya tumbuh menjadi seseorang yang lemah, oleh karena nya mereka tak mau memanjakan anaknya. Akankah kau begitu juga? Inikah caramu mengajarkan ku untuk menjadi pribadi yang kuat? Tapi yah, taukah tangisku selalu pecah tiap kali aku sampai di tempat perantauan.Rasanya, aku ingin segera pulang ke rumah.Tempat ini terlalu keras bagiku.Tapi aku tahu, aku tak boleh menyerah begitu saja.Kau juga berjuang untuk pendidikan ku ini kan? Bahkan kau rela merantau lagi, untuk memenuhi kebutuhan ku, adik, serta ibu di usia mu yang tak lagi bisa dikatakan muda. Pasti sangat sulit bukan?


                   Ayah, aku juga ingin menyakan hal ini “ Mengapa kau selalu mengancam ku untuk menjauhi segala hal yang berhubungan dengan lawan jenis? “ Kau selalu berkata begini “ eni, Jangan sampai kamu mainan cowo ya ! Kalau sekali nya kamu mainan, tak nikahin sekalian, bapak bekali sawah. Malah enak bapak jadi ga perlu susah payah biayain sekolah mu”.Yaa begitulah kiranya mantra yang selalu kau ucapkan, bahkan aku sampai hafal di luar kepala.Kalau mantra itu telah kau ulangi, aku bisa apa selain mengiyakan, meski dalam hati selalu menolaknya.

- Surat ini belum selesai ku tulis ( Depok, 30 Agustus 2016) , Asram Mahasiswa UI-

  • view 706