Ritual Unik 1 Suro di Desa Traji

Enggar Tri Lestari
Karya Enggar Tri Lestari Kategori Budaya
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Ritual Unik 1 Suro di Desa Traji

Betapa kayanya negeri ini, selain sumber daya alam yang melimpah ruah, negeri kita ini juga kaya akan berbagai tradisi kebudayaannya. Setiap tahun baru Jawa, orang Jawa biasa menyebutnya 1 suro, di sendang Sidhukun Desa Traji, Temanggung, Jawa Tengah, diadakan tradisi satu suro yang cukup unik. Sebenarnya tradisi ini hampir mirip dengan tradisi sekaten di Yogyakarta. Bedanya, sekaten di Yogyakarta berlangsung di depan keraton, namun tradisi satu suro di desa Traji berlangsung di area sendang Sidhukun (9×25 meter dengan kedalaman lebih dari 3 meter).
*Sendang adalah tempat yang mirip dengan kolam renang namun bawahnya masih terbuat dari tanah.

Beberapa hari sebelum puncak acara sepanjang Jalan Ngadirejo – Parakan sudah dipenuhi oleh pedagang musiman yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Sama seperti sekaten di Yogyakarta, baik sebelum atau sesudah hari H, tempat ini dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah dengan pasar malam yang turut meramaikan acara ini.

Di dekat sendang tersebut terdapat sumber mata air bertuah. Konon, disitu lah tongkat Sunan Kalijaga ditancapkan untuk mendapatkan air wudlu. Mata air di dekat sendang dipercaya oleh masyarakat setempat bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dll. Menurut juru kunci sendang tersebut, sesaji yang dibawa akan ditempatkan di pendopo dekat sumur tersebut. Sesaji berupa kepala kambing, bunga wangi, pisang raja dan buah-buahan lain, minuman kopi yang harus menggunakan wadah panci tertutup, wedhang santen dan ketan bakar yang semuanya itu disebut dengan “Angsung Bulu Bekti”.

Puncak acara diadakan pada malam 1 suro pada pukul 18.00 sampai 20.00 WIB. Ramai pengunjung dari berbagai daerah sejak sore sudah memenuhi Sendang Sidhukun. Dalam tradisi tersebut, setiap kepala desa tersebut harus menggunakan pakaian pengantin adat Jawa. Sedangkan warga lainnya terutama para lelaki terutama perangkat desa mengenakan pakaian adat Jawa juga. Mereka berjalan dari Balai Desa Traji hingga sendang Sidhukun sambil membawa gunungan yang berisi hasil bumi warga setempat. Sesaji yang dibawa antara lain jajanan pasar, kembang, kemenyan, ingkung, kepala kambing, minuman sedangkan gunungan terdiri dari kacang panjang, sawi, cabai, bawang merah, bawang putih, terong dan singkong.

Sesampainya di sendang, ribuan orang dari berbagai daerah sudah berkumpul di area sendang Sidhukun. Di tempat ini juga berlangsung tradisi layaknya seperti pengantin yang sering disebut kacar-kucur. Setelah pembacaan doa yang dipimpin oleh kepala desa setempat, gunungan itu dilempar ke  area sendang dan sekitarnya. Orang-orang berebut isi dari gunungan, diikuti beberapa orang yang rela menceburkan dirinya ke sendang Sidhukun. Beberapa pengunjung lainnya antre untuk mendapatkan air dari mata air sendang, yang diberikan oleh juru kunci sendang Sidhukun. Beberapa berkeyakinan akan mendapatkan berkah dan kemudahan jika mengikuti dan mendapat hasil dari gunungan tersebut. Setelah serangkaian tradisi dilakukan, kemudian kepala desa tersebut beserta istri diikuti oleh beberapa perangkat desa berjalan mengelilingi sendang Sidhukun.

Setelah kembali ke balai desa, kepala desa Traji beserta istri duduk berdampingan dan mendapat penghormatan berupa sungkeman dari seluruh perangkat desa. Pada kesempatan itu mereka membagikan uang logam kepada siapa pun yang sungkem sebagai simbol berkah atas ritual tersebut.

Selain itu ada juga pementasan wayang kulit selama beberapa hari di balai desa Traji. Perlengkapan wayang serta dalang didatangkan langsung dari Yogyakarta. Tak kalah ramainya, selama beberapa hari masih banyak pengunjung yang berada di sekeliling balai desa untuk menyaksikan pertunjukan wayang tersebut.

Konon katanya, tradisi tersebut bermula dari kisah dalang wayang kulit bernama Garu. Dia didatangi orang berpakaian bangsawan yang mengaku berasal dari Desa Traji dan meminta untuk mementaskan wayang kulit setiap 1 suro. Setelah mementaskan wayang Garu dibayar oleh orang itu berupa kunir 1 nampan, namun Garu hanya mengambil 3 kunir saja.

Saat hendak pulang Garu di diberi amanat oleh orang itu. Garu tidak boleh menoleh sebelum 7 langkah, namun Garu tidak mengindahkan pesan itu. Saat menoleh ternyata orang itu sudah hilang, tempat itu berubah menjadi sendang atau kolam dan 3 kunir yang diambilnya berubah menjadi emas batangan.

Setelah itu Garu sadar ternyata orang itu bukan sembarangan orang, lalu dia pergi ke sesepuh Desa Traji dan meminta setiap Suro ada pementasan wayang di desa tersebut.

Tradisi tersebut sempat mau dihilangkan, namun baru rencana saja warga setempat banyak yang mengalami kesusahan, gagal panen, kekeringan dan banyak orang sakit. Sehingga sampai sekarang tradisi  tersebut masih berlangsung setiap tahunnya dan tradisi budaya ini terus dilestarikan. Masyarakat hingga saat ini mempercayai akan mendapatkan rejeki melimpah, dagangan laris, tanaman pertanian subur, dll setelah diadakan ritual tersebut.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu dan di era zaman modern ternyata masyarakat masih mempercayai tradisi ini. Selain itu ritual ini mempunyai maksud-maksud yang lebih ilmiah, yaitu menumbuhkan kerukunan di antara warga desa Traji dan sekitarnya yang terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan.

  • view 323