Siapa yang Menanam Dia yang Menuai. Apa Iya?

Enggar Tri Lestari
Karya Enggar Tri Lestari Kategori Motivasi
dipublikasikan 22 Juni 2016
Siapa yang Menanam Dia yang Menuai. Apa Iya?

Akhir-akhir ini aku galau, apalagi kalau bukan tentang masa depan? Seolah-olah apa yang kuperjuangkan belum ada hasilnya. Lalu kuingat nasihat sederhana ini “Siapa yang menanam dia yang menuai”. Nasihat ini sudah menjadi jurus andalan orang-orang yang sudah sukses sejak dulu dan sampai kapan pun. Aku juga percaya itu ! Sangat percaya ! Tapi faktanya banyak petani yang tidak bisa memanen dari apa yang ia tanam, entah karena faktor hama, cuaca, atau bahkan hasil panenannya dicuri orang. Bahkan bisa juga mereka panen tapi ternyata harga di pasaran anjok, alhasil mereka tetap memanen tapi merugi. Kemudian aku mikir lagi “jangan-jangan aku sudah menanam tapi tidak bisa menuai, lalu apa coba faktor X nya”?

Merenung dan terus merenung, mencoba instropeksi diri. Aku seharusnya belajar dari seorang petani. Di sepanjang masa kalau dihitung entah berapa kali petani gagal panen. Lalu apa yang dilakukan petani? Apa mereka berhenti menanam di musim berikutnya? Nggak! Mereka tetap menanam, merawat dengan baik, selalu berharap dan berdoa agar hasil panenannya bagus sesuai yang diharapkan. Mereka tetap ingin memetik hasilnya, dengan berbagai resiko di depan yang mungkin terjadi. Jika tidak menanam, justru tidak akan mendapat hasil sama sekali.

Hidup ini adalah serangkaian sebab-akibat. Aku harus tetap percaya dengan pepatah itu. Kemarin aku bilang bahwa aku sudah berusaha tapi belum ada hasilnya. Ternyata hasil yang kumaksud kemarin itu adalah soal materi, makanya aku bisa mengatakan “belum ada hasilnya”. Aku bodoh. Aku pikir rata-rata manusia jaman sekarang juga seperti itu. Dunia memang sudah matrealistik, sehingga segala sesuatunya diukur hanya dengan materi, termasuk kesuksesan. Seharusnya aku bisa melihat sebuah hasil dari sudut pandang yang lain. Aku masih harus banyak-banyak bersyukur. Masih banyak banget nikmat Tuhan yang belum kusadari lebih dari sekedar hasil berupa materi.

…. kembali ke petani

Seperti halnya petani, mereka ingin hasil panennya baik dengan mencari akar masalahnya kemudian mencari solusinya, mulai dari dibuatnya memedi sawah, disemprotkan obat-obatan tanaman, dll. Barang kali saat ini usahaku masih kurang maksimal, usahaku masih kurang tepat, masih banyak terlalu mikir tapi sedikit bertindak, masih kurang pede, dll. Bisa dibilang juga aku baru keluar dari kandangnya. Baru beberapa bulan berjuang masa iya mau ujug-ujug menikmati hasilnya. Atau barangkali Tuhan memang menguji kesabaran dan keimananku. Barangkali Tuhan belum memberikan hasil yang kuharapkan karena imanku masih cetek, setan masih mudah menggodaku. Barangkali aku memang belum layak/belum bisa amanah merawat nikmat yang Tuhan berikan.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,……(QS. Al Isra [17] : 7)

Yang harus dilakukan adalah terus berjalan. Berjalanlah sesuai porsinya. Jika memang harus berjalan cepat, maka cepatlah berjalan. Jika harus berjalan lambat, tidak apa-apa, toh ada beberapa hal yang mengharuskan kita untuk tidak berburu-buru. Jangan lupa juga untuk memperbaiki yang belum baik. Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu mengetahui segala-galanya. Lakukanlah segala sesuatunya dengan hati yang ‘baik’. Semoga Tuhan berkenan memberikan segala sesuatunya yang terbaik. Barangkali di musim ini sedang gagal panen. Namun bisa jadi di musim berikutnya dilipatgandakan hasil panenannya atau ternyata ada banyak belut di dalamnya. Siapa yang tahu?

Dilihat 221