#03 Sebuah Keputusan

Langit Senja
Karya Langit Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Oktober 2016
#03 Sebuah Keputusan

Sudah hampir satu bulan lamanya aku mengurung diri di rumah Re, pulang. Ya cara terbaik untuk menyembuhkan lukaku adalah dengan bercerita kepada Ibu. Tersungkur di pusaranya. Dan berdo’a untuknya. Setelah malam itu, aku berdo’a pada Tuhan Re, “Ya Allah, hatiku sedang terluka karena penolakan. Inikah yang namanya karma masa lalu, atau hanya ujian dariMu agar aku lebih kuat? Beri aku petunjukMu Ya Allah. Aku tak ingin larut dalam kesedihan. Sesungguhnya setan amat senang melihat manusia terpuruk dan meratapi hidupnya.” Pintaku malam itu saat hujan, salah satu waktu yang mustajab terkabulnya do’a.

Kau tahu? Esoknya, pagi-pagi buta aku mengemas pakaian dan menuju stasiun. Memesan tiket pulang ke Madiun. Ya aku harus menenangkan pikiranku. Menata kembali hati yang telah hancur. Kata orang, sejauh dan selama apapun kau merantau, kampung halaman tetaplah jadi tempat terbaik untuk kembali.

Paman dan Bibi bertanya apa yang membuat aku tiba-tiba pulang. Apakah ada sesuatu yang mendesak? Apakah aku sakit? Mungkin mereka amat khawatir melihat raut mukaku saat itu.

“Kenapa kamu pulang Lif? Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini, kamu sakit Nak?” bibi hati-hati sekali menanyaiku. Paman mengangguk tanda setuju dengan Bibi.

Aku hanya menggeleng dan tersenyum kecil agar Paman dan Bibi percaya bahwa aku baik-baik saja dan semoga mereka tidak semakin khawatir. “Tidak ada apa-apa kok Bi, Paman, Alif baik-baik saja. Alif Cuma kangen Ibu, besok Alif mau ziarah ya Bi.”

“Ya sudah, kamu istirahat aja dulu ya. Sepertinya perjalananmu melelahkan.” Kata Bibi lagi

Aku hanya mengangguk pelan dan berlalu meninggalkan mereka yang mungkin sedang kebingungan dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padaku. Lima langkah menuju kamarku rasanya seperti lima ribu langkah Re.

***

Ibuku sayang, anakmu yang nakal ini pulang bu, disaat seperti ini aku rindu pelukan Ibu. Aku rindu omelan Ibu karena lagi-lagi telah datang seorang anak perempuan mengadukan bahwa aku selingkuh darinya. Lalu seperti biasa Ibu sibuk menenangkannya. Iya Bu, anak nakalmu ini kini sedang menanggung hukuman atas dosaku padamu dan pada gadis-gadis itu Bu. Kemarin malam lamaranku telah di tolak seorang gadis bu. Gadis yang aku yakin sekali bahwa dia akan jadi menantu pilihan Ibu.

Gadis itu, baik perangainya, luhur budinya, cantik parasnya, luas pergaulannya dan yang terpenting bagus agamanya. Bukankah poin terakhir itu yang Ibu pesankan padaku sebelum Ibu menghadap Yang Maha Kuasa? Aku tersedu di makam Ibu.

***

Usai berziarah, aku pulang ke rumah dan menghabiskan waktu di dalam kamar. Bermuhasabah dan merenungi semuanya. Mungkin memang aku yang salah, karena jodoh itu adalah cerminan diri kita. Maka ketika merasa jodoh seolah sudah di depan mata, dan ternyata takdir memaksa kita menjauh. Tandanya mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik. Ah bahkan sampai saat ini, aku tidak bisa menemukan setitik pun cela dalam dirimu Re. Karenanya mungkin ada yang salah dalam diriku.

Begitulah, aku mengurung diri, dan hampir tidak pernah ke luar rumah kecuali untuk hal-hal penting. 1 minggu berlalu, aku mengajukan cuti kuliah. 2 minggu kemudian datang lah dodo teman karibku. Kebetulan dia memang satu daerah denganku dan saat itu dia sedang pulang kampung karena menjelang Ujian Akhir. Dodo bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku jawab dengan menceritakan semuanya Re, peristiwa malam itu, penolakanmu dan masa laluku. Dodo bilang kau sempat menanyakan keberadaanku padanya, tapi kau salah Re, bahkan teman terdekatku pun baru mengetahui hal ini sekarang.

“Aku paham sekarang Lif, tapi aku kira tidak baik kau terpuruk lama-lama. Kau itu lelaki Lif, masa gak bisa bangkit demi harga diri sih? Baru juga di tolak satu wanita. Udah cengeng begini.” Ujar dodo

“Apa maksudmu Do? Kau pikir aku cengeng? Rena yang memulai semua ini.”

“Kau ini, apa selalu melarikan diri setiap ada masalah? Tidak bisakah tetap disana dan menghadapinya?”

“Aku makin gak ngerti Do.”

“Iya, setidaknya kamu tanya dulu apa alasan Rena menolakmu. Bukan membiarkannya kini terkatung mencarimu. Lihat, apa mungkin jika Rena benar-benar menolakmu, lalu dia mencarimu setengah mati? Aku yakin dia menyesal Lif. Dan ingin menjelaskan.”

“Cukup. Kau malah membuatku semakin terpuruk Do.”

“Aku sedang memberi motivasi Lif. Ya sudah kalau tidak mau terima. Itu tandanya perkataanku benar semua kan?” Dodo berlalu dan pamit pulang.

Aku mendengus sebal. Kenapa teman baikku sekarang malah ikut memojokkan posisiku. Apa dia bilang, aku cengeng? Lari dari masalah? Hei aku hanya menenangkan diri. Aku hanya bermuhasabah diri. Apa-apaan dia itu? Batinku semakin kesal saja. Tunggu dulu, Dodo bilang kau mencariku Re? Apa itu benar? Hatiku sedikit merekah.

Keesokan harinya, datanglah petugas pos ke rumahku. Aku sempat bingung ada apa gerangan, tidak biasanya. Aku tidak sedang menunggu surat dari siapapun. Apa mungkin pak pos mengantar ke alamat yang salah? Tapi ternyata tidak salah sama sekali. Pak pos itu datang mengantarkan sepucuk surat undangan Re, undangan pernihkahan, dan disana tertulis namamu, Rena & Alif. Apa? Apa-apaan ini? Apa aku sedang bermimpi? Sebegitu berharapnya kah aku padamu Re?

Lalu kubuka undangan itu, dan kudapati selembar kertas yang terselip disana, kertas yang berisikan surat darimu..

Assalamu’alaikum

Apa kabar Lif? Ku harap kau baik-baik saja. Jangan tanya mengapa bisa aku tahu alamat rumahmu, dan jangan bingung karena aku jamin ini bukan mimpi.

Alif, ketika kita sudah berniat baik, maka malaikat Rakib sudah mencatatnya bukan? Nah, sekarang kamu juga catat ya, aku berniat baik.. Bersama surat ini, dan contoh undangannya, aku menerima lamaranmu Lif.

Maafkan aku karena tidak jujur padamu. Saat itu aku hanya ingin menyelesaikan urusan masa laluku dengan Rian. Dan aku tak ingin melibatkanmu lebih jauh. Yah, sekarang semuanya sudah berakhir Lif. Maukah kau menerima aku, sebagai seorang Rena yang baru? Karena bayang-bayang masa lalu itu telah sempurna ku lupakan, maka aku serasa terlahir kembali.

Ah iya, kau mungkin mengira aku meragu karena masa lalumu. Sama sekali tidak Lif. Bersama niat tadi, berarti aku juga telah siap menerimamu, tak peduli siapapun kamu di masa lalumu.

Aku harap, hatimu belum berubah Lif. Karena aku masih menunggu kedatanganmu kembali. Kembali melamarku lagi. Dan kali ini akan aku jawab langsung dengan mantap. In sha Allah, biidznillah..

Bismillah, dengan niat melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya, aku ingin belajar agama bersamamu. Menuntut ilmu menyempurnakan separuh agama ini. Itu saja Lif.

Maka dari itu, kembali lah Lif. Aku akan menunggumu saat ini. Gak tahu kalo besok.

Wassalamu’alaikum..

-Rena-

Note : surat ini aku kirimkan kemarin sore dengan paket super kilat loh.

Pikiranku bergejolak. Apa-apaan ini? Surat macam apa ini Re? Aku kaget bukan main. Maka demi membaca kalimat terakhirmu itu, aku langsung loncat menuju kamar. Segera mengemas pakaian, meminjam motor Paman, mohon izin dan do’a restu mereka. Lalu bergegas menuju kotamu Re. Ku percepat lagi laju sepeda motorku. Saat itu cuacanya begitu cerah, secerah hatiku. Aku tak sabar segera sampai di kotamu. Meski aku tahu tidak mungkin bisa secepat kilat. Karena jarak menuju kotamu adalah 9 jam perjalanan dengan kereta. Dan dengan sepeda motor butut ini, kira-kira berapa lama sampai kesana.

Astagfirullah, aku harus tetap tenang. Keselamatan berkendara itu yang utama. Kau pasti masih menungguku esok lusa atau kapanpun itu kan Re? Lalu tiba-tiba, entah darimana datangnya kilatan cahaya itu. Braaaaaaaaakkkkkkk... suara mobil menghantam sepeda motorku. Tubuhku terpental ke jalanan beraspal. Limbung, kepalaku terasa berputar-putar, gelap, dan aku tak ingat apa yang terjadi sisanya.

***

“Alif, bangun Lif. Aku menunggumu.”

Sayup suara itu, menyadarkan aku. Ku buka mataku dan mendapati ruangan berwarna putih. Suara detik monitor, selang oksigen di hidungku. Kepala yang terbalut perban. Dan tangan yang disuntik jarum Infus. Segera aku sadari aku berada di rumah sakit.

Ku lihat sekelilingku perlahan. Dari kiri ke kanan, disana ada Paman dan Bibiku. Ada Dodo, dan teman-teman kuliahku. Dan ada Ayahmu Re. Semua tampak gembira bahwa aku telah sadarkan diri, termasuk Ayahmu. Tapi anehnya, tak ku temukan keberadaanmu Re, kau dimana? Tapi aku belum bisa berbuat banyak. Seluruh tubuhku rasanya remuk.

“Jangan banyak gerak dulu Lif, dokter bilang satu tulang rusukmu patah. Jadi jangan memaksakan diri ya, kamu juga baru operasi ginjal. Sekarang kamu harus hidup hanya dengan satu ginjal saja.” Kata paman sambil menyeka matanya.

Ingin rasanya aku menanyakan banyak hal. Tapi tenggorokanku tercekat, lidahku pun kelu. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat itu. Hanya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Bibi menjelaskan semuanya. Katanya aku kecelekaan, tepat sebelum memasuki gerbang kotamu Re. Dan aku telah koma selama tiga hari. Tapi yang tidak habis ku pikirkan adalah, sosokmu tak juga terlihat menjengukku saat ini. Tidak sekalipun bahkan saat aku koma. Apa yang terjadi Re? Seribu pertanyaan itu menggulung di kepalaku.

“Oh Allah, sekarang apa lagi? Jalan takdir seperti apa yang Kau inginkan? Sebagai hambaMu yang lemah, aku hanya bisa pasrah. Tapi jodoh, bukan hanya urusan takdir bukan? Ia harus juga diperjuangkan. Sekarang aku sedang memperjuangkannya Yaa Rabb. Berilah kemudahan, berilah kekuatan.” Lirih batinku.

 

Bersambung

***

  • view 269