#02 Maafkan Aku..

Langit Senja
Karya Langit Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2016
#02 Maafkan Aku..

Alif, aku sungguh tahu, kau pasti kecewa berat atas sikapku malam itu. Betapa perjuanganmu mengutarakan hasrat suci itu amatlah besar. Aku bisa merasakannya Lif, dari nada suaramu yang terdengar gugup dan resah. Lalu kemudian kau bilang, lepas isya akan ke rumah menemui Ayahku. Aku amatlah bahagia Lif. Kau tahu saat itu aku langsung berlari memeluk Ayah di ruang baca. Aku bilang pada Ayah, bahwa ia akan segera memiliki lawan untuk bermain catur dan mengalahkannya. Ayah keheranan tidak mengerti maksudku. Akupun tertawa dan menjelaskan, lalu aku menyuruhnya bersiap menyambutmu. Lelaki yang akan melamarku. Ya, aku segera tahu bahwa maksud kedatanganmu adalah untuk melamar, dari perkataanmu Lif, “aku hanya mau berguru sama Ayahmu untuk menuntut ilmu menyempurnakan separuh agamaku”. Kalimat yang manis. Semoga benar adanya, pintaku pada-Nya Lif. Kau tahu, aku sangat gembira Lif. Maka aku persilakan kau ke rumah.

Aku dan Ayah sudah bersiap menyambutmu, hidangan kue-kue kecil sudah aku beli dari toko di depan kompleks rumahku. Karena aku tahu tidak akan sempat kalau buat sendiri. Ayah juga sudah tahu harus bertanya apa untuk mengorek informasi tentang dirimu. Lelaki gagah yang aktivitasnya tidak jauh dari menebar kebaikan di jalan dakwah.

Sore itu, semua terlihat begitu rapi untuk menyambutmu. Lalu tiba-tiba, dering telepon menyadarkan aku akan imajinasi nanti malam. Apakah itu kau Lif? Mengapa harus menghubungi lagi jika sudah tahu nanti malam akan datang? tanpa berpikir panjang, segera ku jawab, “Halo assalamu’alaikum, ada apa Lif? Kok nelpon lagi?” tanyaku spontan saja, karena aku pikir itu dirimu Lif.

“Halo Rena, ini aku Rian, Kau ingat? Apa kabar Na? Apa aku mengganggu waktumu?” suara itu, seseorang dari masa laluku Lif. Kau juga sudah tahu kan, dia yang telah menghancurkan hidupku. Selama dua tahun ini aku kehilangan harapan dan kepercayaan, tapi untunglah Allah Maha Baik Lif, Dia hadirkan kamu. Perlahan luka itu sembuh, jujur saja, kamu obatnya Lif. Karena aku begitu mengagumimu. Tapi sisi lain hati yang terluka itu berontak. Ada rasa rindu dibalik luka itu. Bagaimanapun Rian pernah memenuhi hatiku. Rian pernah menghiasi hari-hariku. Tapi dia brengsek Lif. Sehari sebelum pesta pernikahan itu, seorang wanita tengah hamil muda datang ke rumah dan menunjukkan siapa Rian sebenarnya. Janji-janji itu palsu, rayuannya pun buaya semata. Dia telah menikah bahkan saat dia masih berproses denganku.

Iya, lelaki dari masa laluku itu datang lagi bak seorang anak kecil tanpa dosa. Dia membujuk aku untuk kembali kepadanya. Dia bilang bahwa istrinya yang hamil itu telah berbohong. Anak itu bukan anaknya. Dia hanya dipaksa bertanggung jawab karena orang tuanya berhutang jasa kepada si wanita. Bla bla bla dia merengek dan memintaku kembali. Kau tahu Lif, aku hampir saja percaya dan termakan kata-katanya. Jika bukan karena ku ingat lagi masa lalu yang kelam itu, aku pasti terjatuh di lubang yang sama.

Maka tanpa sepengetahuan Ayah, aku menyembunyikan kabar dari Rian. Sesungguhnya aku tak kuasa menjawabmu dengan penolakan Lif. Karena aku telah menyambut dayung yang telah kau kayuh menujuku. Tapi aku harus menyelesaikan masa laluku dengan Rian. Kau belum tahu bagaimana nekadnya dia kalau tahu ada lelaki yang melamarku sepeninggalannya. Aku tahu dari kata-katanya di telepon itu, “Aku rasa tidak ada yang berani mendekatimu selama aku masih hidup di masa lalumu Na.” Kalimatnya yang penuh misteri ini membuatku takut.

Kau tahu Lif, setelah kau pulang malam itu, aku juga menangis karena tak kuasa menahan rasa bersalah telah tega menolakmu. Aku hanya bisa menyaksikan kepergianmu dari balik jendela kamarku, sampai ku lihat punggungmu menghilang di persimpangan jalan. Ayah pun tak berani menggangguku. Beliau hanya bilang, jangan lupa makan malam. Ayah paling mengerti kalau aku butuh sendiri, aku harus menjernihkan pikiranku dulu, baru setelah reda, dengan sendirinya aku akan bercerita.

Setelah kuceritakan semua kepada Ayah, beliau hanya diam. Entah kemarahan Ayah pada Rian sudah mereda atau belum. Lalu Ayah bilang, “Jangan kau sakiti hati orang lain putriku, meski hatimu terluka, apa harus mengorbankan kebahagiaan masa depanmu demi masa lalu? Biar Ayah yang bicara pada bajingan itu.” Tegas Ayah.

***

Dua hari berikutnya, Rian datang ke rumah. Dengan sok gagah dia menghadap Ayah. Menjelaskan bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya. Panjang lebar Ayah memahamkan padanya bahwa aku dan Rian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan Rian berikutnya, perlahan Ayah luluh.

“Om, saya tahu saya salah. Dan saya menyesal. Kalau lah bukan karena hal mendesak, saya malu menemui Rena dan Om lagi.” Kata Rian meyakinkan.

“Hal mendesak apa maksudmu?” Ayah mulai penasaran.

“Ini tentang Ibu saya, selama ini beliau menentang keras Rian menikahi wanita itu. Sekarang ibu sakit-sakitan Om. Sakit paru-paru nya semakin parah.”

“Lantas apa hubungannya dengan semua ini?”

“Dokter bilang, usia Ibu tidak akan lama lagi. Keinginan terakhir Ibu adalah, melihat aku menikahi Rena Om, putri Om. Karena selama dua tahun ini, ibu menderita bermenantukan wanita itu. Saya mencoba menjadi suami dan Ayah yang baik untuk anaknya. Meski saya sudah tahu, kalau itu bukan anak saya. Tapi saya diam, demi Ibu. Saya tidak ingin Ibu pingsan dan masuk ke rumah sakit lagi.” Kata-kata Rian benar-benar serius.

Ayah diam. Aku yang mendengar di balik lemari pun ikut kaget.

“Jika memang tidak bisa memaafkan saya, setidaknya biarkan saya memohon untuk Ibu saya. Saya hanya ingin berbakti untuk yang terakhir kalinya.” Kali ini Rian tersedu dan seperti tak segan menangis di depan Ayah.

 “Nak Rian, Om paham dan mengerti betul kondisi kamu. Tapi Om tidak ingin putri Om terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang sama. Jika pun ingin memohon demi Ibu kamu, maka sedikitpun Om tidak goyah. Itu urusan kamu. Tapi karena Om manusia yang masih punya hati, Om izinkan kamu menikah dengan Rena, tapi hanya sebatas pura-pura. Sampai Ibumu pulih kesehatannya. Siapkanlah undangan, sample saja. Buatlah seolah kau telah menikahi Rena. Rekayasa semuanya, buat Ibumu bahagia meski dengan kebohongan, Om rasa agama membolehkan kebohongan jika seperti itu kondisinya. Om tahu ini ide gila, tapi tidak ada jalan lain selain ini nak. Rena sudah menerima pinangan lelaki lain. Tidak baik jika ada orang lain yang ikut terluka bukan?” begitulah ide gila yang diutarakan Ayah.

Deg.. seketika aku terharu mendengar Ayah mengatakan bahwa aku telah menerima lamaranmu kemarin Lif. Aku bahagia sekaligus sedih, kesalahpahaman ini harus segera di luruskan.

Rian tertegun dan merenung sejenak. Lalu berkata, “Baiklah Om, saya akan lakukan ide gila Om itu. Karena saya tidak menemukan dalil apakah pura-pura bahagia itu dibolehkan atau tidak. Selama itu bisa membuat Ibu saya tenang di sisa hidupnya. Berbohong pun tak jadi masalah buat saya” tutur Rian terdengar kecewa dan putus asa.

Maka aku pikir, urusan masa laluku telah selesai. Dan langkah selanjutnya, esok lusa aku tinggal menghubungimu Lif. Tapi ternyata nomor kontakmu telah non-aktif. Di kampus pun tak kulihat tanda kehadiranmu. Aku bertanya kemana perginya kamu kepada teman-teman dekatmu. Mereka bilang, kau telah pulang ke kampung seminggu yang lalu. Itu artinya setelah lamaran itu, kau langsung pulang Lif? Aku bingung, tak tahu harus melakukan apa. Maka ku putuskan untuk menunggumu saja Lif.

Tiga minggu berikutnya masih tak ada kabar darimu, aku cek lagi ke pihak universitas, ternyata kau telah mengajukan cuti. Astagfirullah, sejahat itukah aku? Telah menyakiti hatimu Lif? Separah itukah hancurnya hatimu Lif, hingga kau menanggung sendiri sakit hatimu? Aku ingin menjelaskan semuanya Lif. “Maafkan aku Lif, beri aku kesempatan menjelaskan semua padamu. Allahu rabbi.. hanya Engkau yang Maha Penyayang. Jika Kau takdirkan aku dan dia bersama dalam naungan ketaatan padaMu, maka tunjukkan jalannya. Tapi jika Kau takdirkan kami terpisah, tunjukkan padaku bahwa dia baik-baik saja.” Pintaku pada suatu malam.

Bersambung

 #03 Sebuah Keputusan

Bandung

Langit Senja

  • view 200