#01 Apa Karena Masa Lalu?

Langit Senja
Karya Langit Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2016
#01 Apa Karena Masa Lalu?

Sejatinya, ketika cinta menemukan jalan untuk bersama, harusnya gayung itu bersambut dalam kebahagiaan. Tapi tidak dengan kisah cinta Alif dan Rena. Ada hal-hal yang tidak bisa kita mengerti, akan sebuah kenyataan pahit bahwa saat menemukan cinta sejati, ternyata tak seindah harapan di hati. Permainan takdir sungguh lucu. Dipertemukannya dua insan yang saling berkasih, tapi dipisahkannya pula dua insan itu.

Jam dinding di ruangan itu terus berdetak tidak karuan. Sama resahnya dengan suasana hatiku saat itu. Sedangkan di luar sana gerimis tak kunjung pergi. Awet sekali menetes membasahi bumi. Aku sedang resah menunggui waktu yang beranjak lambat sekali. Seolah perputaran jarum jam terganjal sesuatu dan berat sekali bergerak. Ah iya ini keresahan karena sedang menunggui jawaban atas lamaranku terhadapmu Re, kamu wanita yang ingin aku jadikan kekasih halalku selamanya.

Siang itu, aku beranikan diri menghubungimu. Kau tahu? Ini hal pertama bagiku. Mengungkapkan maksud hati kepada seorang wanita. Dengan gemetar suara yang parau karena gugup aku membuka percakapan yang canggung itu, “Assalamu’alaikum ukhti, apakah anti sudah siap menikah? Jika ia, sudahkah ada yg melamarmu? Bolehkah saya minta izin kepada Ayahmu untuk menghalalkanmu?” harusnya kata-kata itu, yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari, terucap dengan sempurna. Tapi karena begitu gugup, aku hanya berkata, “Assalamu’alaikum Re, Ayahmu ada di rumah?” ah dasar bodoh, kenapa begitu pertanyaannya, pikirku.

“Wa’alaikumussalam Lif, Ayahku? Ada, kenapa?” tentu saja kau heran, mengapa tiba-tiba seorang lelaki yang selama ini hanya kau kenal suaranya, meneleponmu dan menanyakan keberadaan Ayahmu?
“Oh alhamdulillah kalau ada, saya mau ke rumah kamu ya, mau berguru sama Ayahmu.”

“Tapi Ayah bukan seorang guru apalagi seorang ustadz Lif” Dengan polos kau menjawabnya

“Iya saya tahu, saya hanya mau berguru sama Ayahmu untuk menuntut ilmu menyempurnakan separuh agamaku ini.” Lancar sekali aku berujar kata-kata itu. Entah keberanian darimana.

*seketika hening. Mungkin kau sedang mencerna kalimat yang aku sampaikan barusan.

“Oh begitu, kalau gitu datang saja ke rumah Lif. Ayah ada di rumah kok sekarang. Gak tahu kalau besok” jawabmu tujuh detik kemudian.

“Baiklah, ba’da isya saya kesana ya. Terima kasih Re, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam”

*glek, suara telepon pun terputus*

Ah perasaan bahagia macam apa ini? Aku melambung Re, mendengarmu mempersilakan aku berkunjung menemui Ayahmu. Iya, selama ini aku memang hanya mengenalmu dari balik tirai hijab. Kita sama-sama aktifis dakwah. Tak pantas berinteraksi dengan lawan jenis jika tidak ada mahram dan keperluan yang mendesak. Agama kita melarang itu. Aku hanya mengenali fisikmu sekilas, saat itu kita berpapasan. Aku tahu itu kau begitu mendengar suaramu.

Setelah sampai di rumahmu, dan berhadapan langsung dengan Ayahmu, akupun menjelaskan maksud kedatanganku, dan perbincangan itu mengalir begitu saja. Isi pertanyaan Ayahmu tentu saja bermaksud menyelidiki latar belakang dan semua hal tentangku. Apakah aku cukup pantas menjadi suami sebaik Ayahmu yang menyayangi putrinya? Setelah hampir satu jam, lalu Ayahmu pun bertanya,
“Jadi, maksud Nak Alif datang kesini adalah untuk melamar putri bapak, begitu?” tenang dan berwibawa sekali Ayahmu bertanya.

“Iya betul Pak,” jawabku mantap saja.

“Apa yang Nak Alif bisa jaminkan kepada Bapak untuk menjaga putri bapak satu-satunya ini?”

“Saya jaminkan janji Allah dan Rasulnya Pak. Bahwa dengan menikah, akan tercukupkan rezeki kita. Bahwa dengan menikah, ada pahala yang berlipat ganda. Bahwa dengan menikah, terpelihara lah nasab keturunan bapak sekeluarga. Bahwa dengan menikah, dapat menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan.” Jawabku mantap sekali saat itu.

“Oh begitu ya? Jawaban yang cerdas anak muda.” Ayahmu cukup lama tertegun mendengar jawaban yang tidak terduga dariku. “Tapi apa kau bisa menerima masa lalu putriku Nak?” tambah Ayahmu kemudian.

“Masa lalu apa maksudnya Pak?” akupun merasa heran, tidak mengerti maksud perkataan Ayahmu Re.

“Jadi begini Nak, putriku pernah hampir menikah seteleh menerima lamaran seorang laki-laki dua tahun yang lalu. Tapi semua rencana itu gagal total, karena ternyata laki-laki itu bajingan. Dia telah menikah diam-diam saat masih berpacaran dengan Rena. Sehari sebelum pernikahan, istrinya yang sedang hamil datang ke rumah. Begitulah semuanya terjadi di luar dugaan. Dan laki-laki itu jelas memilih istrinya.” Panjang lebar Ayahmu menjelaskan padaku.

Aku tertegun sejenak, lalu segera beristigfar. Dan ku jawab, “In sha Allah Pak, saya menerima masa lalu putri bapak. Karena setiap orang pasti punya masa lalu yang kelam. Termasuk saya, dulu saya juga brengsek pak. Sering mempermainkan hati wanita, tapi semua berubah setelah Ibu saya meninggal. Saya sadar dan saya insaf.” Kataku menjelaskan.

“Baiklah, bapak kira Nak Alif itu lelaki baik-baik dan bertanggung jawab, sekarang keputusan akhir ada pada putri bapak sendiri. Karena yang menikah adalah Rena bukan bapak.” Jawab Ayahmu diplomatis sekali.

“Bagaimana Re? Apakah kau menerima lamaranku?” tanyaku sekali lagi, sekilas aku melihat ekspresi wajahmu lalu menundukkan pandangan.

Satu detik hening, dua detik masih sama, tiga detik juga hening. Hingga detik kelima tiada jawaban darimu Re. Katanya kalau wanita diam saja itu tandanya iya. Hampir saja aku mau bersorak dalam hati Re, tapi kemudian,

“Maafkan aku Ayah, maafkan aku Lif.. Aku tidak bisa.” kalimat itu menggantung sampai disana. Kau berlalu meninggalkan aku dan Ayahmu yang setengah tidak percaya akan jawaban itu. Akupun hanya mematung duduk dan seketika buyarlah sorak sorai di hatiku.

Ada apa Rena? Mengapa seperti itu jawabanmu? Bukankah saat di telepon tadi, suaramu menggambarkan kegembiraan begitu aku akan datang ke rumahmu? Lalu mengapa kau persilahkan aku untuk datang, jika seperti ini jawabanmu? Aku masih tidak percaya. Seketika rintik gerimis malam itu membuncah menjadi hujan lebat. Kau tahu, aku menggigil bukan karena kedinginan Re, tapi karena kecewa atas sikapmu. Kau tahu, tangisku pecah sejadi-jadinya malam itu Re. Kemantapan hatiku sirna seketika. Harapan yang aku pupuk sekian lama, hancur sudah.

Aku pun sungguh tahu Re, jika kau menolakku karena masih trauma akan kegagalan rencana pernikahanmu yang dulu, maka mungkin aku akan bersabar. Akan aku tunggu sampai luka lamamu mengering dan sembuh selamanya. Tapi mengapa tak kau beri aku kesempatan mengobati luka itu Re? Tapi kenapa kau langsung bilang tidak bisa? Apa yang membuatmu tiba-tiba meragu? Atau karena penjelasan masa laluku? Ah kalau begitu aku menyesal telah jujur mengungkapkan semuanya.

Hujan yang mengguyur deras saat itu, menjadi saksi betapa kesedihanku semakin tenggelam dibalut dinginnya malam.

*satu bulan kemudian, ku terima sebuah undangan pernikahan, dan itu undangan pernikahanmu Rena.

Bersambung...

#02 Maafkan Aku..

Bandung

Langit Senja

  • view 205