PERTEMUAN

Langit Senja
Karya Langit Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Oktober 2016
PERTEMUAN

Keila berlalu begitu saja setelah mengatakan hal yang membuat Nasya tersentak dan tak percaya.

“Lo serius mau pergi Kei? Waktu liburan itu harusnya dihabiskan buat kumpul sama keluarga. Ini malah mau ikut acara apa sih namanya petualangan…?”

“Bukan petualangan tapi ekspedisi ke daerah terpencil dalam rangka kemanusian. Masa gak boleh sih, ini kan demi kebaikan? Terus kapan lagi coba ada kesempatan kayak gini? Hitung-hitung traveling juga kan?” potong Keisha sambil memasang wajah penuh harap.

“Apa lo udah yakin? Coba deh dipikir lagi. Bukan maksud mau menghalangi niat baik seseorang ya, tapi ini bukan perjalanan satu atau dua hari aja kan? Hampir satu bulan jauh dari rumah, terapung di lautan, belum tahu medannya seperti apa pula, lagian masih banyak kok hal baik yang bisa lo lakuin disini. Di bulan ramadahan yang penuh berkah ini.” Kata Na meyakinkan.

“Iya gue tahu itu Na, tapi tolong hargai niat baik gue ya? Lo do’ain aja sahabat lo ini selalu dalam lindungan-Nya, Oke?” senyum Keisha terbayang lagi dalam ingatan Na setelah dia mengatakan itu.

Lo udah tau resikonya tapi tetap bersikeras untuk pergi Kei? Gue Cuma khawatir aja Kei, sorry kalo ucapan gue terlalu keras. Lirih Na dalam hati, setelah melihat punggung Kei menghilang di tikungan jalan kala itu.

Waktu berlalu, tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan Kei, Na bermimpi Kei memeluknya kemudian melambaikan tangan dihiasi senyuman itu lagi. Senyum tanda kepolosan, terlihat begitu lepas tanpa beban tanpa kepura-puraan. Ah Kei, siapa sangka mimpi Na itu tak pernah jadi kenyataan. Dering alarm membangunkannya. Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, itu artinya Na terlambat bangun dan dia tak bisa mengantar keberangkatan Kei.

Setengah tersungut Na berangsur ke kamar mandi. Menenggelamkan seluruh kekesalannya dalam bak mandi. Ibu sudah menyiapkan sarapan tapi Na tidak berselera. Ibu bilang tadi Keisha datang ke rumah waktu Na masih tidur tapi dia gak mau membangunkan Na. Ibu bilang Kei menuliskan pesan di secarik kertas yang ada di meja kamar Na.

Harusnya lo bangun lebih awal, dasar pemalas! Tidur udah kayak kebo aja sih? Hey, Lo udah ngelewatin kesempatan terakhir kita buat ketemu sebelum gue berangkat. Oh iya ini nomor yang gue pakai sementara saat berada disana (08123456xxxx) katanya bakal susah sinyal kecuali operator ini. So, lo hutang maaf ke gue. Oke? Langsung telepon kalo lo udah bosan hidup dalam mimpi :D

Sampai ketemu bulan depan ya! ^_^

Na hampir mau buang itu kertas tapi gak jadi. Ah semua yang Kei tulis memang benar adanya, ngapain juga Na harus marah? Tanpa pikir panjang Na langsung menghubungi Kei, dan Kei malah tambah ngakak waktu mendengar pengakuan Na.

“Sorry ya, tidur gue emang kayak kebo, susah dibangunin tapi bukan berarti gue malas ketemu lo, beneran gak sengaja deh. Lo udah nyampe mana sekarang?”

“Hahaha ngaku juga lo kebo. Iya gue tahu kok, lo Cuma gak bisa ngomong selamat jalan kan sama gue? Ngaku! Lo gak mau keliatan sedih aja kan di depan gue? Ini udah lewat gerbang tol menuju Jakarta.”

“Apaan sih? Bukan gitu, ini serius gue beneran kesiangan. Gara-gara lo juga sih kei..”

“Lah kok gue? Salah gue apa?” kata Kei heran.

“Iya jelas salah lo lah, semalem tuh gue mimpi udah say goodbye sama lo, trus lo udah kayak melo drama gitu, ya pantes gue gak bangun karena ngira udah ketemu sama lo.”

“Halah ngarang binggo. Haha itu sih akal-akalan lo aja kan Na?” Ledek Kei.

Belum lagi sempat Na menjawab ledekan Kei, sambungan teleponnya terputus sampai disitu. Ah sialan, pulsanya habis, ya maklumlah beda operator.

***

Dua minggu setelah itu, tak ada kabar lagi dari Kei. Na mulai merasa gelisah, apa yang sebenarnya tengah terjadi? Biasanya setiap hari itu setidaknya ada 5 pesan singkat yang Kei kirimkan padanya yang menjelaskan posisinya saat itu, apa yang Kei lakukan dan apa saja yang terjadi. Satu waktu Kei bercerita tentang satwa lagka yang dia jumpai disana. Bahkan gambar hewan itu sempat dijadikan wallpaper HP oleh Na. Sekali waktu Kei bercerita tentang bahasa suku dayak yang amat aneh. Tidak mirip sama sekali dengan suku melayu. Bahkan Na terpingkal-pingkal dibuatnya mengetahui cerita Kei bahwa dia ditaksir oleh anak kepala suku sana. Ah iya, Na mancoba menghibur hatinya sendiri bahwa mungkin saat itu Kei benar-benar sibuk hingga kelelahan dan tak sempat memberi kabar. Mungkin jaringan seluler di tempat Kei sekarang benar-benar tak terjangkau. Mungkin pulsanya juga habis, tak ada tempat isi pulsa disana. Segala kemungkinan yang membaikkan hati Na selalu ia pikirkan. Tapi tetap saja tak bisa mengusir kegundahannya.

Lalu dua minggu kemudian, siaran berita televisi menayangkan bahwa akibat cuaca buruk sebuah kapal feri yang memuat 40 penumpang dan ABK nya dikabarkan telah tenggelam di laut Kalimantan. Seketika otak Na menerka, mungkinkah itu adalah kapal yang Kei tumpangi? Hati Na sedikit lapang karena tahu bahwa Kei bisa berenang. Tapi Kei, dia belum pernah mencoba berenang di lautan sana kan? Na hanya bisa berdo’a untuk keselamatan Kei.

Tiga hari setelah pemberitaan di media, dering telepon membangunkan Na dari tidur di siang bolong. Sejenak Na terpaku menatap nomor yang tidak ada di kontak ponsel nya. Ah tapi siapa tau ini penting. Benar saja pihak ekspedisi mengabarkan bahwa kini Kei sedang ada di rumah sakit di Jakarta, ia koma selama 30 jam. Tapi kini telah sadarkan diri dan ia menyebut nama Na dibatas sadarnya. Tanpa berpikir panjang, Na memacu mobilnya meluncur seketika itu juga ke Ibu Kota. Tunggu aku Kei, bertahanlah. Lirih hati Na.

Panas terik membakar udara hari itu tak dihiraukannya. Ah sial, jalanan macet. Butuh dua jam lagi baru bisa sampai, tapi kemacetan memperparah suasana. Disaat kayak gini, Na teringat pesan ibu, bahwa yang selalu diburu nafsu itu adalah perbuatan syeitan. Astagfirullah, Na mencoba tetap tenang. Tanpa sadar, Na langsung memacu lagi mobil setelah terbebas dari kemacaten. Tiba-tiba……

AAAAAAAAAHHHHHHH…… Brraaaaaak mobil Na menabrak pembatas jalan karena menghindari pejalan kaki yang hampir tertabrak. Lalu pandangan Na pun mulai memudar, kemudian gelap pekat.

***

Kei menatap pilu tubuh Na yang masih dibalut perban putih dan penyangga leher cokelat itu. Sunyi, tak ada suara kecuali suara monitor detak jantung dan suara tabung peyangga kehidupan yang sesekali berdesis. Mata itu masih terpejam, sudah 12 jam setelah melewati masa kritis, harusnya ia sudah sadarkan diri sekarang. Dokter bilang, ia tidak koma, ia hanya tertidur dan mungkin belum ingin terbangun. Entah apa penyebabnya.

“Lo bangun dong Na, gue udah baik-baik aja kok. Kenapa pertemuan kita kayak gini sih? Lo punya hutang lagi buat ngucapin “selamat datang di rumah” ke gue Na. lo udah janji bakal jemput gue setelah sebelumnya gak bisa nganterin kan? Tapi gimana mau jemput gue coba kalo lo masih terbaring gini?” Keila meringis mendengar kata-katanya sendiri, ia tertunduk dalam isaknya.

“gue udah bagun kok Kei, tapi gue gak mau lo liat airmata gue pas gue bangun. Tapi sekarang gue seneng karena lo duluan yang nangis depan gue.” Kata Na sambil terbatuk menahan tawa yang masih parau.

Kei menengadah dan menggosok matanya.

“Na, gue gak mimpi kan? Beneran, Lo udah bangun nih? Ah sakit tau.” Kei mengaduh karena cubitan Na.

“berarti lo masih mau mimpi ya?” ledek Na.

“Ah sialan lo. Ngerjain gue? Hah?” ia mulai merajuk.

Na hanya membalasnya dengan senyuman.

“Terima kasih, untuk tetap bertahan sampai aku menemuimu. Meski pertemuan ini yang paling memilukan karena kita harus sama-sama menjadi pasien untuk bisa bertemu” lirih hati Na kemudian.

  • view 146