Kisah Mama

Langit Senja
Karya Langit Senja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 September 2016
Kisah Mama

Ahad, 29 Ramadhan 1437 H

Malam ini Mama bercerita tentang sepenggal kisah masa lalunya dengan mendiang Ayah dulu.

“Tahukah? sebelum punya kamu, Mama dulu sempat lumpuh tidak bisa berjalan selama 6 bulan lamanya nak.” Ujar mama sambil terkenang

“dan Ayahmu dengan sabar dan setia mengurus segala keperluan mama. Mulai dari mengurus rumah, menggendong mama untuk ke toilet sekedar buang air, bahkan sampai memandikan mama.”

“Emangnya mama dulu gak bisa jalan karena apa? Karena jatuh bukan ma?” tanyaku meminta penjelasan

“Iya, dulu gara-gara terjatuh di warung dan jatuhnya menghantam karung-karung beras. Jaman dulu kami juga pernah berjaya dengan membuka warung klontong lengkap dengan segala kebutuhan sembako kayak gitu.” Jawab mama menjelaskan.

“Jika harus menghitung-hitung, jasa Ayahmu terhadap Mama tidak bisa diukur dengan materi nak. Setelah kejadian itu, segala upaya dikerahkan oleh Ayahmu demi kesembuhan mama, mulai dari tukang pijat, mantri kesehatan, dokter dan semua obat-obatan yang harus di konsumsi. Tak terhitung berapa banyak biaya untuk semua itu. Sampai semua hasil kerja Ayahmu habis hanya untuk beli obat. Hal itu sudah cukup menunjukkan seberapa besar kasih sayang dan cinta Ayahmu terhadap Mama.” Kata Mama lagi sambil sesekali senyuman kebanggaan itu ia torehkan.

“Setelah kejadian itu pula, semua urusan rumah tangga dikerjakan oleh Ayah. Tak peduli seberapa lelah ia habis bekerja, melihat tumpukan cucian baju dan piring-piring, tak lantas membuatnya menunda lebih lama pekerjaan rumah, meski terkadang Mama sering memaksakan diri bangkit untuk menyentuh pekerjaan rumah dengan merangkak sekalipun. Tapi lagi-lagi Ayahmu menunjukkan kasih sayang dan cintanya. Meski dimarahi, tapi Mama sungguh tahu bahwa itu demi kebaikan Mama juga. Karena itulah, sepeninggal Ayahmu, tak ada niatan sedikitpun untuk menggantikan posisinya sebagai kepala rumah tangga dan sebagai imam dalam hidup Mama (dunia akhirat insyaAllah).” Sekilas mata Mama sedikit berkabut menjelaskan lagi hal-hal yang tidak mungkin bisa ia lupakan.

“Jika laki-laki lain, Mama yang lumpuh seperti itu mungkin sudah dibuang entah kemana nak. Tapi Ayahmu tidak. Kesabaran dan ketelatenannya mengurus Mama juga segala usahanya demi kesembuhan Mama, akhirnya membuahkan hasil, perlahan Mama bisa berjalan kembali.”

“Ma, kenapa mama gak mau menikah lagi setelah sepeninggalan Ayah?”

“Hmm kenapa ya, karena menurut sebagian keterangan yang Mama dengar dari ustad-ustad, kalau seorang perempuan ditinggal mati suaminya tapi kemudian menikah lagi maka ia tidak akan dipertemukan lagi dengan suami di dunia nya. Atau akan terputus hubungannya, dan Mama gak mau, Mama masih ingin ketemu sama Ayah kamu kelak di surga-Nya (aamiin yaa rabb). Tapi Allahua’lam ya, Mama hanya berharap dan berdo’a semoga begitu.”

“oh gitu ya Ma, hmm paham kok paham.”

“Ah iya, sudah waktunya tidur ini, besok sahur takut kesiangan nak. Kamu juga cepat tidur ya.” Tutup Mama diakhir penjelasan penggalan kisah masa lalunya.

“Iya Ma.” Jawabku singkat.

Tanpa perlu penjelasan lebih lebar lagi, aku sudah paham dan mengerti betul hikmahnya. Dan pelajaran yang dapat ku ambil malam ini adalah, bahwa cinta sejati itu bukan diukur dari fisik, apalagi materi. Apa yang telah kita miliki, sejatinya adalah yang harus selalu kita jaga dan kita rawat baik-baik. Tak perlu kesempurnaan fisik untuk melihat seberapa cantik atau gagahnya pasangan kita. Cukup dengan hal kecil seperti ketulusannya menjaga dan merawat kita disaat-saat yang kita butuhkan. Mencari seseorang yang bisa menjadi teman sehidup sesurga itu memang tidak mudah. Dan kunci kebahagiaan dalam rumah tangga berawal dari tahapan memilih pasangan. Siapkah dia (laki-laki) tetap mencintaiku jika satu saat aku buta, cacat dan bahkan tidak berdaya? Siapkah aku (sebagai wanita) mendampingi dia dari nol? Bukan hanya mendampingi saat sudah seksesnya saja.

Semoga pasanganku kelak, memiliki sifat-sifat baik seperti Ayah. Ayah yang sabar, setia, bertanggung jawab, tegas tapi tak pernah membentak, tak pernah bertindak kasar terhadap perempuan, dan hal-hal baik lainnya. Sudah barang tentu yang paham dan bagus agamanya, akhlaqnya, nasabnya, dan hartanya (ini nomor sekian ya, bukan patokan) sesuai sabda Nabi kita.

  • view 238