Ibuku, seumur dengan pergerakanku

Endah Maulana
Karya Endah Maulana Kategori Tokoh
dipublikasikan 18 April 2018
Ibuku, seumur dengan pergerakanku

Perkenalkan, namaku Endah Fitria Maulana. Terkadang orang memanggilku Endah, suatu kali ketika aku duduk di bangku Aliyah ( SMA ) guruku memanggilku Fitri, beliau bernama Pak John, guru inspiratif bagi semua teman teman di sekolahku. Ada juga yang memanggilku Fitri, barangkali hanya dia dan Pak John saja yang memanggilku begitu, temannya biasa memanggilnya cemplon.  Pernah juga suatu kali ketika bapakku masih hidup, ketika aku sedang manja-manjanya beliau memanggilku mbedodo. Aku tidak tahu kenapa dia memanggilku begitu, apa mantan bapak ada yang dipanggil seperti itu ? Apa bapak punya teman yang bernama itu, dan sifatku sepertinya ? Ah, aku terlalu banyak berkhayal. 

Dalam budaya keluargaku, ketika sudah baligh, orangtuaku sering membuat syukuran dengan membagikan makanan kepada tetangga, saudara, dan teman-teman terdekat kami. Baligh merupakan istilah dalam hukum Islam yang merupakan tanda bahwa seseorang sudah mencapai kedewasaan. Dalam Islam sendiri ketika manusia sudah baligh berarti dia sudah mempunyai tanggungjawab untuk memenuhi kewajiban dan menaati aturan syariat.  Syaikh Salim bin Sumair Al Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Najah mengatakan bahwa ada 3 tanda manusia mencapai usia Baligh 
1. Laki laki dan perempuan yang sudah mencapai umur 15 tahun 
2. Keluarnya sperma setelah berusia 9 tahun bagi anak laki-laki dan perempuan 
3. Menstruasi atau haid bagi anak perempuan setelah berusia 9 tahun 

Aku teringat ketika kelas 4 SD atau umurku saat itu 10 tahun. Bapak dan ibu pernah membuat syukuran walaupun sederhana kepadaku dan kakaku. Acara itu disebut tasyakuran aqiqoh, tidak terlalu mewah memang tapi cukup meriah untuk kalangan kami di kampung ini, siang acara ulang tahun dengan memanggil teman-teman SD dan dekatku, malam acara ngaji diba' dengan tetangga dan teman-teman Orang tua ku.
Sebelum acara aqiqoh dimulai aku disunat oleh Simbah Putri dari teman SDKU, beberapa hari sebelumnya kakaku yang laki-laki juga disunat. Aku teringat ketika aku sedang duduk di kelas gender, dosenku pernah mengatakan bahwa sunat untuk perempuan itu termasuk dengan kekerasan atau ketimpangan gender (violence) .
Saya pernah membaca salah satu website resmi koran ternama di Indonesia, TEMPO.CO mengatakan bahwa sunat perempuan itu tidak dianjurkan. Walaupun ada sebagian orang yang memiliki pendapat sendiri sendiri, dan MUI pernah mengeluarkan fatwa yang intinya bahwa perempuan adalah ibadah yang dianjurkan. Hal ini dilakukan MUI ketika menanggapi beredarnya surat direktur Bina Kesehatan Masyarakat tertanggal 20 April 2006 tentang larangan sunat perempuan bagi petugas kesehatan.

Bapak dan Ibuk merayakan tasyakuran khitan kami tepat pada tanggal 22 Juli 2006. Selang 2 tahun kemudian, bapak meninggalkan kami untuk selamanya, banyak persepsi kenapa bapak meninggal dunia, hanya satu sebab yang aku yakini beliau sakit karena aku melihat dengan kepala mataku sendiri bapakku terbaring lemah diatas dipan salah satu rumah sakit di Boyolali tepat satu hari satu malam setelah bapak pulang dari Kalimantan. 
Detik detik kala itu, hatiku sungguh tidak merasakan kepergiannya, namun sekarang, aku sungguh merindukannya. 

Kartasura, 18 April 2018

  • view 92