bersahabat tanpa libatkan perasaan

endah dwi jayanti
Karya endah dwi jayanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
bersahabat tanpa libatkan perasaan

Bisa jadi, pada akhirnya dia akan menikah denganmu, walaupun sekarang dia sudah bertahun-tahun bahagia bersama kekasihnya, tapi bukannya tidak mungkin ada suatu saat ketika mereka akhirnya terpisah dan justru dia mendambakan dermaga yang selalu disinggahinya setiap dia lelah setelah bertarung dalam badai mengarungi samudera, atau setelah dia kembali menemukan pundi-pundi harta. Karena mungkin baru dipahaminya, dermaga tempatnya singgah selalu ada, setia, tanpa kata, dan menerima. Berbeda dengan samudera tempatnya berpetualang, penuh intrik, kadang gemerlap penuh intan kadang gelap diterjang topan. (diambil dari nasihat seorang kawan baik)

Aku bersahabat dengan seorang pemuda sebaya semenjak masa sekolah menengah. Dia bukan orang asing pada awalnya, hanya seorang anak dari kawan akrab bapak, yang dulu berbeda sekolah dan akhirnya kita dipertemukan di bangku sekolah yang sama. Sejak dulu, dia selalu cemerlang, penuh dengan cerita-cerita kasmaran ala anak muda pada masanya. Berbeda denganku yang miskin pengalaman di dunia hubungan anak muda lawan jenis yang penuh dengan hormon pertumbuhan itu.

Kami berdua disatukan dalam satu frame yang sama, main main dan main. Aku dengannya bersama sekelompok remaja tanggung lainnya, suka sekali kelayapan main kesana kesini. Dari sana aku menemukan persahabatan kelompok kami. Hingga akhir masa studi di sekolah menengah, kami layaknya lulusan SMA lain saling mengikat janji di persimpangan jalan. Untuk tidak saling melupakan.

Namun bertahun-tahun kemudian hanya tersisa dia yang kerap kali ribut tiba-tiba menghubungiku, di ujung malam, berkeluh kesah seakan kami tidak pernah terpisahkan jarak dan waktu begitu lama. Seakrab saat masih di bangku SMA. Kadangkala dia bercerita betapa bahagianya dia sekarang, bersama kekasih hatinya yang selalu dia damba, kadangkala pula dia bercerita pilu tentang koyaknya sebuah janji atau sebuah ikatan. Selalu dan selalu bercerita tentang dia dan kekasih. Aku tak pernah mengeluh ataupun sebal, justru aku ikut asik bersamanya mengulik kisah asmara yang dia lakoni. Mulai dari awal dia dan kekasih saling mendekat, hingga keluarga mereka yang sekarang seakan tanpa sekat, aku tahu. Bahkan bisa dibilang, meski setitik keringatnya menetes saat pertama kali apel ke rumah kekasihnya, aku tahu hingga ke akar bagaimana keringat tersebut bisa ada di sana sebagai saksi loncatan keberaniannya.

Mungkin ada beberapa pertanyaan ganjil yang umumnya muncul bila kita bercerita soal persahabatan lawan jenis, apakah kamu tidak jatuh cinta padanya? Apakah kekasihnya tidak cemburu terhadap kehadiranmu? Bagaimana dua orang lawan jenis yang begitu nyambung namun tidak pernah melibatkan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat?

Well, itu pertanyaan yang selalu muncul di permukaan, dan aku sebagai lakon utama sebenarnya tidak pernah tahu persis jawaban dari setiap lontaran pertanyaan macam itu. Tapi aku akan menerangkan jawabanku sebaik mungkin. Yang pertama apakah kamu tidak jatuh cinta padanya? Dulu sekali saat kami masih dibangku SMA, aku pernah mencari pelarian perasaan dan aku mencoba singgah kepadanya. Aku akui dia menarik, cerdas, menyenangkan, dan untuk beberapa orang menyebutnya ganteng. Tapi ternyata aku tidak sejatuh cinta itu padanya. Benar-benar biasa saja dan tidak ada getaran sama sekali saat bersamanya. Kemudian aku menyimpulkan, dia buka tipeku. Bertahun-tahun kemudian ternyata ada penjelasan masuk akal yang menerangkan kenapa aku bisa tidak jatuh cinta pada manusia itu, padahal mungkin penggemarnya bisa lebih dari hitungan jari tangan dan jari kaki. Setiap orang memiliki kesukaannya masing-masing, contohnya aku adalah penyuka coklat, maka ketika disodori susu aku tidak bisa memaksa untuk menyukainya, meski susu itu sama enaknya dan banyak penyukanya. Kau tahu siapa jenius yang memberiku penjelasan bertahun-tahun kemudian? Dia, sahabat baikku.

Kemudian pertanyaan kedua, apa kekasihnya tidak cemburu? Jelas pasti kekasihnya cemburu kepadaku. Tapi lantas aku tertawakan, seandainya kekasihnya tahu sedikit saja rasa takut kehilangan sahabatku itu, maka saat itu juga kekasihnya akan ikut tertawa terharu bersamaku. Apalah aku dibanding dengan kekasihnya itu? Bahkan satu kelompok pertemananku pun tahu aku tak pernah sebanding. Dan itu bukan masalah bagiku, karena aku memang tidak untuk dibandingkan dengannya. Tidak ada urusan dengan saling membandingkan oke.

Kemudian yang terakhir, tentang tidak saling melibatkan perasaan. Untuk kali ini aku tidak tahu bagaimana penjelasannya. Yang aku tahu sejauh ini aku dan dia benar-benar murni untuk menjadi sahabat seumur hidup kami, saling menertawakan dan bukan saling mengisi karena kami tidak bisa, kami kepingan puzzle yang sama. Aku mendamba manusia yang tidak seperti dia, pun dia sama. Aku tulus menyayanginya tanpa tendensi dan pamrih untuk disayangi kembali. Malah aku menjadi sedikit geli bila membayangkan dia menyayangiku sebagaimana dia kepada kekasihnya. Mungkin bukan salah pada kami yang bersahabat tanpa melibatkan perasaan, tapi salah pada kalian yang bersahabat pada orang yang melengkapimu. Maka jika kalian saling melengkapi, pelan-pelan perasaan akan mengikat dan mengambil kuasa atas persahabatan kalian. Kami? Hanya bisa menertawakan perasaan-perasaan itu yang tidak pernah muncul.

Tentang paragraf pertama dari tulisan ini, well jodoh dan takdir tidak akan ada yang tahu. Aku tidak mengelak dan tidak pula mengiyakan. Tapi apabila itu terjadi untuk saat ini, aku dengan halus menolak sebagai dermaga tempat pemberhentiannya mengarungi samudera. Aku cukup sebagai tempat singgah, tidak mau lebih. Bagaimana bisa aku hidup dengan seseorang yang dalam benaknya merindui samudera meski samudera telah berhasil mencampakkannya. Aku lebih baik bersama orang yang tidak menjadikanku pilihan terakhir. Aku sebagaimana seluruh wanita di dunia ini, selalu ingin menjadi pilihan pertama. Maka untuk saat ini, bila ada lagi kawan yang berujar seperti paragraf pertama, hal yang pertama aku lakukan adalah tertawa dan berkata tidak mungkin. Benar kan? Mari kita tertawa sahabatku?

  • view 194