Mati Membawa Apa

endah dwi jayanti
Karya endah dwi jayanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Mei 2016
Mati Membawa Apa

Mati membawa apa?

Sebuah pertanyaan menggelisahkan tiba-tiba muncul di suatu siang yang terik setelah lelah mengumpul seusai dari sebuah perjalanan jauh. Pertama, aku sadari bahwa ada satu ketakutan yang pasti akan terjadi suatu saat nanti dan aku tidak pernah bisa lari darinya. Kematian. Berakhirnya dimensi dunia ini dan siap menuju pintu dimensi lain. Mungkin sekarang saat kalian dan aku masih sehat, berpikir bahwa usia masih bisa bertahan hingga angka enam puluhan selayaknya orang tua dan kakek nenek kita, tapi siapa yang tahu usia?

Pernah di suatu pagi yang dingin aku terbangun dari tidurku dan mendapati seluruh ruangan kamarku gelap gulita, hingga hanya seberkas cahaya dini hari dari langit yang mendung dan enggan menuju pagi. Aku tersentak kaget dan gemetar luar biasa, mungkin sebenarnya yang terjadi hanyalah listrik padam dan aku tidak punya lilin atau penerang lainnya, tapi sejujurnya, aku ketakutan membayangkan bahwa aku telah mati saat itu dan seperti itulah dunia setelah dunia ini. gelap, dingin, sempit, dan sendirian. Maka berkelebatanlah seluruh dosa, bahkan aku sempat percaya, malaikat pencabut nyawa sebentar lagi akan mendatangiku dengan penuh amarah dan menakutkan. Tuhan, aku jadi ingat betapa Nabimu telah datang kepada kami dan memberi peringatan. Bahwa alamMu setelah dunia ini adalah tempat yang sempit, gelap, dingin, dan menakutkan.

maka pertanyaan mati membawa apa muncul kembali ke permukaan.

Bawalah amalan baikmu sebagai teman, bawalah bacaan Al Quranmu sebagai penerang pula, dan jangan lupa lapangkan sedekahmu agar lapang pula tempatmu disana. Matilah ketika memang sudah saatnya kita mati, asal kita sudah penuhi beberapa hal, kita mati ketika sholat terakhir sudah ditunaikan, hutang telah dibayarkan, janji telah ditepati, berpakaian yang baik, dan sedang berbuat baik.

Dan berdoalah, semoga saatnya tiba nanti, malaikat yang datang adalah malaikat yang baik, bersinar dan rupawan. Menjemputmu bagai menjemput putri yang telah lama menunggu dengan tenang. Dan membawamu selembut mungkin menuju dimensi selanjutnya. 

  • view 113