Sebelum Kita Benar-Benar Asing

endah dwi jayanti
Karya endah dwi jayanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Sebelum Kita Benar-Benar Asing

 

Jabat tanganku dan mari kita duduk melingkari keluarga ini. Ditengah-tengah kita ada cinta. Ada juga banyak tangis, keringat, lelah dan pias wajah. Seringkali diadu dengan tawa bahagia. Hampir empat tahun lalu kujumpai wajah-wajah asing dilingkaran ini. Yang bertemu akan dipisahkan, yang bersama akan dijauhkan, yang asing akan kembali asing.

Sebelum saat itu, izinkan aku menatap wajahmu lekat-lekat, satu persatu. Karena mungkin setelah ini, akan butuh ratusan bahkan ribuan kilometer hanya untuk menyapa hai. Butuh hari libur berminggu-minggu untuk mendatangi kamu satu-satu. Dan aku tak percaya apa yang namanya janji, karena aku dan kamu adalah pelupa. Maka tetaplah berada dilingkaran ini untuk beberapa saat lagi, duduklah dengan tenang dan diamlah karena tanpamu bicara aku tahu apa yang saat ini membuatmu terus terburu-buru.

Boleh aku kembali meminta untuk mendengar tawamu sekali lagi, atau boleh kita sesekali pergi bersama? Aku ingin berbagi sepi denganmu, dan berbagi cerita. Rasanya akhir-akhir ini aku semakin sulit menemuimu. Dulu kamu ada dimana-mana di setiap sudut universitas, dulu aku tak perlu mencari hanya perlu melihat sekeliling, dulu bahkan aku tak perlu cerita seperti ini karena kita bersama-sama mengalami. Dulu tak sedetikpun rasa sendiri seperti ini berkunjung. Mana sempat, karena dulu waktu berjalan cepat.

Bisa dibilang keluarga ini seperti pohon yang sudah berbuah, tinggal menunggu masak dan jatuh menggelinding ke lahan kosong yang baru. Untuk kemudian menebar kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Kita tidak masak bersama, ada yang memang harus terburu-buru masak karena mungkin ada manusia-manusia lain yang segera membutuhkannya. Ada pula yang terlambat masak, karena masih ada yang harus dipersiapkan untuk bekal sebelum akhirnya meninggalkan pohon yang telah membesarkannya. Tak apa, semua berproses.

Baiklah, ini adalah paragraph terakhir. Sedih rasanya aku harus menulis hanya untuk bercerita padamu. Aku sejujurnya lebih suka kita bersama seperti dulu hingga tak perlu ada yang harus ditulis untuk bercerita. Tapi kembali aku ingat, bahwa kamu sedang buru-buru. Boleh aku memelukmu saat kita masih sekarib ini? Sebelum kamu naik ke atas gerbong keretamu menuju hidup yang sesungguhnya? Boleh pula aku menatap lagi hangat matamu? Merasakan erat genggammu yang sesungguhnya sama rasanya seperti yang aku rasakan. Ada gemetar disana, sedikit takut dan banyak cemasnya. Ada sedikit takut dilupakan diantara takut menghadapi dunia. Semoga tidak ada tangis dalam perpisahan ini karena sebelum kita pada akhirnya menjadi asing, aku ingin mengenangmu sebagai kawan yang tegar dan kuat menghadapi kenyataan. Sampai jumpa di dunia manusia yang sesungguhnya, kawan.

 

Tembalang, 24 April 2016

endahdj

 

  • view 114