manuSIA?

endah dwi jayanti
Karya endah dwi jayanti Kategori Politik
dipublikasikan 15 April 2016
manuSIA?

sebenarnya apa arti kata manusia? Jika aku buka buku pengetahuan maka dengan gamblangnya mereka bilang manusia adalah spesies homo sapiens yang pintar dan memiliki kemampuan tingkat berpikir yang tinggi. Kemudian jika aku beralih ke buku kemasyarakatan aku akan didikte bahwa manusia adalah makhluk sosial. Atau juga dikatakannya manusia adalah makhluk yang dibedakan dengan lainnya karena mereka memiliki akal pikiran budi pekerti. Kemudian Allah berfirman dalam kitabku, Al Qur’an bahwa manusia adalah khalifah, adalah pemimpin di dunia sehingga segala bentuk karsa karya dan cipta Allah titipkan pada makhluk lemah ini.

 

Tapi sungguh, aku kembali bertanya, apa arti kata manusia? Apa berbeda dengan menjadi manusia? Bagaimana dengan memanusiakan manusia?

 

Yang aku lihat sudah semakin sedikit “manusia” yang harfiah dengan pengertian-pengertian itu. Apakah arti kata manusia yang sudah ngelothok di pikiran kita itu adalah universal? berlaku untuk semua makhluk “pintar” berkaki dua? Atau hanya untuk yang benar-benar sesuai dengan pengertian itu? Lantas disebut apa makhluk yang serupa dengan manusia tapi nyatanya tidak pikir panjang, tidak menjadi masyarakat yang baik, tidak berbudi pekerti, dan tidak berakhlak mulia?

 

Yang aku lihat baru saja berita tentang aktivis lingkungan binasa karena sekelompok makhluk yang ngakunya manusia tapi lebih beringas dari binatang hanya karena berbeda pendapat. Dimananya yang manusia jika puluhan dari mereka lebih menuruti hawa nafsu memperlakukan sesamanya sekeji itu?

Dan itu baru satu dari ribuan kasus serupa namun tersimpan rapi di dalam amplop yang diserahkan dalam transaksi diam-diam. Dan itu baru satu di negeriku. Bagaimana dengan ratusan negeri di luar sana? Banyakkah manusianya? Atau lebih banyak makhluk berkaki dua yang mengaku-ngaku manusia?

 

Maka boleh kah jika tiba-tiba aku keluarkan definisi baru arti manusia? Arti yang tidak timpang sebelah saja? Misalkan aku mengatakan bahwa manusia adalah makhluk berakal tapi beberapa hanya mengakali yang lain, berbudi pekerti tapi beberapa hanya untuk menarik simpati, dapat berpikir panjang tapi beberapa lebih suka memanjangkan masalah daripada solusi. Boleh? Karena definisi yang dulu terlalu mengagungkan kata manuSIA seakan tanpa cela, sehingga makhluk penyandang predikatnya merasa paling berkuasa.

 

 

Hari ini mungkin aku lebih banyak bertanya dari hari kemarin, mungkin besok terjawab, atau malah lebih banyak lagi tanda tanya wahai manusia diluar sana

  • view 136