NASKAH DRAMA PEREMPUAN DI SENJA KELIMUTU

NASKAH DRAMA PEREMPUAN DI SENJA KELIMUTU

Enci Wure
Karya Enci Wure Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018
NASKAH DRAMA PEREMPUAN DI SENJA KELIMUTU

Perempuan di senja kelimutu.

Oleh: Emerensiana Wure

 

(Tiba-tiba saja Ema terperangah oleh segumpal awan putih yang bergerak keluar dari danau yang berwarna biru muda itu, lalu pelan-pelanmenuju ujung puncaktugu dan berhenti tepat diatasnya. Awan putih itu kian lama kian memudar, tiba-tiba sajaberdirilah sosokseorang gadis,yang kalah itu belum pernah dilihatnya. Rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya namun apalah daya ia tak bisa melakukan. Suara Ema bagaikan hilang begitu saja. Dengan keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar Ema berlahan-lahan melangkan kakinya untuk kembali pulang kerumahnya.Setiba dirumah, Ema langsung menceritakan kejadian yang pernah ia lihat didanau itu.)

Ema : ibu…ibu.., dengan berlari kecil sambil memanggil ibunya.

Ibu Ema : iya nak, kenapa kamu berlari seperti itu ?

Ema : aku melihat ada seorang perempuan ditugu dekat danau bu.

Ibu Ema : Ema apa benar yang kamu katakana itu,

Ema : iya bu, aku melihatnya sendiri tadi.

 

(Perbincangan antara kedua ibu dan anak itu di dengar oleh pius seorang pemburuh yang baru pulang berburuh dari hutan. Dan berita mengenai seorang gadis yang ditemui oleh Ema di tugu itu pun tersebar luas di kalangan masyarakat dan ketua adat. Untuk membuktikan apa yang mereka dengar banyak warga yang silih berganti mendatangi rumah Ema untuk menanyakan langsung.)

Warga : selamat pagi Ema ?

Ema :iya selamat pagi, mari silakan masuk.

Warga : tidak usa Ema kami berdiri di luar saja,

Warga : langsung saja, kami kesini utuk bertanya, kepada kamu.

Ema : iya ada apa bapak ibu ?

Warga : apa benar kamu melihat seorang perempuan di dekat danau,(tanya seorang warga kepada Ema.)

Ema : aku,,aku,,(sambil merasa gugup)

 

(Di tengah kebingungannya tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berteriak menyebut namanya,suara itu tidak lain adalah suaranya Pius.dan semuah mata tertujuh padanya.)

            Pius : katakan Ema, apa benar yang kamu lihat itu.

            Warga : iya Ema, katakan kami di sini ingin mendengar langsung dari mulut mu.

            Ema : baiklah saya akan menceritakan semuah kepada kalian.

            Warga 1 : ayo katakan kami sudah lama menunggu.

            Pius : katakan ema, apa kamu tidak merasa kasihan dengan kami yang sudah lama menunggu di depan rumahmu.

            Ema : Benar ibu bapak, saya melihanya di tugu dekat danau beberapa hari yang lalu.

            Warga 2 : apa kamu yakin dengan itu semuah, jangan- jangan ini cuman akalan kamu saja.

            Ema : Benar ibu bapak. Saya melihatnya sendiri.

            Warga 1 : kalo memang benar apa kamu bisa membuktikan itu.

 

(Medengar warga bilang begitu ema dengan semagantnya, menjawab iya. Mendengar keributan yang di lakukan warga datanglah ketua adat, dan di saat yang bersamaan keluarlah ibu ema dari dalam rumahnya itu, melihat keramaian yang terjadi di depan rumahnya ibu ema pun bertanya kepada anaknya.)

            Ibu Ema : Ema apa yang terjadih kenapa mereka semua ada disini.

            Ema : ibu tenang ya, ema akan katakan apa yang terjadih disini.

            Ibu Ema : katakan kepada ibu.

            Ema : iya ibu. saya akan menceritakan semuahnya.

(Setelah mendengar semua dari anaknya itu,ibu Ema langsug meminta maaf kepada warga atas apa yang dilakukan anaknya karena sudah mnyebarkan berita yang tidak benar. Mendengar ibunya bilang begitu ema marasa kecewa. Dan suara caci makian sudah mulai keluar dari mulut warga yang sudah merasa terbohongi oleh si Ema.)

            Ibu Ema : maaf, ibu bapak, ini tidak benar.

            Warga 1 : apa yang ibu,katakan? Jadih ini semua hanyalah bohongan belaka yang dibuat anak mu itu.

            Ibu Ema : sekali lagi saya minta maaf,tolong maaf kan anak saya.

            Warga 2 : Dasar anak yang tidak tahu diri, berani-beraninya dia berbohong kepada kami.

            Warga 3: iya benar, kalo begitu ayo, kita pulang kerumah kita masing-masing, tidak ada gunanya kita berdiri di sini.

(Dan keributan pun semakin menjadih-jadih. Ketua adat pun sudah mulai ambil tindakan. Dan banyak warga yang meresa kecewa, Ema yang melihat semuahnya itu tidak bisa berbuat apa-apa dan iya pun merasa sangat kecewa kepada ibunya).

            Ketua adat: tenang-tenang. Semuahnya harap tenang.

            Ibu Ema : Pak, tolong maaf kan anak saya.

            Ketua adat : iya ibu, tidak apa-apa. (sambil geleng-geleng kepala) saya hanya tidak habis pikir, bagaimana kecewanya warga dengan kebohongan ini.

            Ema : pak, saya tidak berbohong. Saya benar-benar melihatnya.

            Ibu Ema : sudah cukup ema, kamu jangan menambah masala lagi.

            Ketua adat : iya Ema, ini pertama dan terakhir kalinya kamu melakukan kebohongan.

            Ema : tapi pak,.

            Ketua adat : cukup,,,,cukup Ema.

            Ema : pak, saya tidak berbohong saya bicara yang sebenarnya,

            Ketua adat : sudalah Ema, walaupun kamu bicara yang sebenarnya, semua orang sudah tidak percaya lagi kepada kamu.

            Ibu Ema : iya Ema, sekarang juga ayo kita masuk kedalam rumah.

            Ema : tapi ibu,.

            Ibu Ema : sudahlah Ema. Ayo masuk kedalam.

           

 

(Dan beberapa minggu kemudian dengan kejadian itu, Ema sudah mulai mengurungkan dirinya di kamar, dan dia pun jarang keluar dari rumahnya. Ibunya yang melihat anaknya itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam pikiranya iya selalu terbayang dengan hal-hal yang aneh. Setalah sekian lama tidak terlihat di luar rumah,kabar mengejutkan pun datang dari ibunya, bahwa anaknya sudah tidak ada di rumahnya. Warga yang mendengar berita itu merasa senang sebab Ema yang mereka anggap pembohong yang selama ini mereka benci sudah pergi jauh dari desanya dan bahkan tidak akan kembali lagi.)

 

Selesai.

           

  • view 197