Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   10:56 WIB
PEREMPUAN DI SENJA KELIMUTU

Nama : Emerensiana Wure

Kelas : A/VII

“Perempuan di senja Kelimutu”

Dikala sore tiba,banyak warga yang mendatangi danau tiga warna itu,untuk menikmati keindahannya, namun dihari itu tidak ada satu warga pun,yang mendatangi danau tersebut dikarenakan pada hari itu cuacanya sangat buruk dan terjadi hujan yang sangat lebat beserta suara halilintar yang memekakkan telinga,sehingga warga lebih memilih berdiam diri dirumah masing-masing. Namun ditengah derasnya hujan dan suara halilintar seorang pemuda dengan beraninya melangkahkan kaki dan berjalan menelusuri hutan yang berkabut tebaluntuk tiba di danau, pemuda itu membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit namun entah kenapa saat itu waktu yang harus dibutuhan lebih lama dari waktu yang diperkirakan karena kabut yang tebal dan jalan yang licin. Setelah menempuh perjalanan yang lama akhirnya pemuda yang bernama Ema itu tiba juga di danau. Setibanya ia ditempat tersebut,Ema sangat terkejut bukan karena melihat keindahan danau itu,melainkan ada seorang gadis yang berambut panjang sedang berdiri tepat diatas tugu menghadap kedanau. Entah dari mana datangnya Ema tidak tahu, dengan perasaan yang tak karuan Ema pun kembali pulang kerumah. Setibanya di rumah Ema langsung menggantikan pakaiannya yang basah,pikiran Ema masih saja terbayang-bayang kepada gadis misterius yang ia temui di tugu dekat danau tersebut.Dengan perasaan yang tidak pasti Ema pun memberanikan diri untuk bercerita kepada ibunya yang sedang duduk dekat tungku yang sedang menghangatkan dirinya,Ema pun mulai menceritakan tentang apa yang ia lihat di tugu dekat danau tersebut.

Ibunya terlihat terkejut mendengar cerita dari anaknya sebab yang dia tahu,tidak ada warga dari desa lain yang mengetahui keberadaan danau tiga warna tersebut,selain warga yang berada disitu,sebab danau itu baru ditemukan oleh seorang pemburu yang bernama Pius kurang lebih sebulan yang lalu,dimana dikala itu Pius sedang mengejar rusa buruanya yang tiba-tiba saja hilang entah kemana.

Keesokan harinya dipagi buta Ema sipemuda itu kembali lagi kedanau untuk memastikan apakah wanita itu masih ada atau tidak,setibahnya Ema disana dirinya tidak menemukan siapa-siapa. Dengan perasaan dan pikiran yang penuh tandatanya,ia memutuskan untuk mencari gadis itu di sekitar danau.setelah beberapa kali mengelilingi tempat itu ia tidak menemukan gadis tersebut. Karena merasa sangat lelah Ema pun memutuskan untuk menunggu gadis itu dibawah tugu sambil menyandarkan badannya, dengan harapan gadis itu akan datang sehingga ia dapat mengetahui siapa gadis misterius itu yang selalu mengganggu pikiranya sedari kemarin.matahari mulai meninggi namun gadis misterius itu belum menampakan dirinya,Ema tetap menunggu ia harus bertemu dengan gadis itu.

Angin sepoi-sepoi meniup lembut dari arah barat sehingga membuat Ema merasa mengantuk ia pun tertidur dibawah tiang tugu, didalam tidurnya Ema memimpikan gadis itu datang kepadanya dan membisikkan sesuatu, “Datanglah setelah aku berhenti menangis dan awan pemarah perg.”Ema terbangun dan melihat disekililingnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka namun,ia tidak melihat siapa-siapa yang ada disana melainkan dirinya sendiri. Saat matanya sepenuhnya terbuka dirinya menyadari bahwa hari sudah senja dan mentari mulai menyembunyikan dirinya di ufuk barat.Dengan hati yang penuh kekecewaan Ema kembali pulang kerumah.

Tiba-tiba ia mengingat apa yang dikatakan gadis itu didalam mimpinya. Datanglah setelah aku berhenti menangis dan awan pemarah pergi” Sesaat ia memikirkan apa maksud dari perkataan gadis itu. Niat hati ingin menanyakan kepada ibunya,namun setelah sampai didepan kamar,Ema melihat ibunya sudah terlelap dalam tidur. Seperi biasa dikala sore tiba Ema dengan tergesa-gesa keluar dari rumahnya dan langsung berjalan menuju danau yang letaknya tidak terlalu jauh dari desanya,Ema pun berjalan sambil mendengungkan lagu untuk sekedar menghilangkan rasa lelahnya,tanpa terasa Emapun tiba didanau dan hatinyapun sangatlah senang. Sambil menghirup napas panjang Ema mulai melihat kekiri dan kekanan,sekedar untuk memastikan apakah ada orang lain selain dirinya. Tidak lama kemudian langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap dan awan hitam mulai turun menyelimuti yang artinya akan segera turun hujan. butir-butir beningpun jatuh membasahi tubuhnya,dan suara halilintar mulai muncul bersamaan dengan tiupan angin kencang yang mampu menggoyangkan seisi jagat raya,namun ia masih berdiri tegakdan tak peduli dengan derasnya hujan,yang kini membasahi tubuhnya. Tiba-tiba saja Ema terperangah oleh segumpal awan putih yang bergerak keluar dari danau yang berwarna biru muda itu, lalu pelan-pelan menuju ujung puncak tugudan berhenti tepat diatasnya. Awan putih itu kian lama kian memudar, tiba-tiba sajaberdirilah sosokseorang gadis,yang kalah itu pernah dilihatnya. Rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya namun apalah daya ia tak bisa melakukan. Suara Ema bagaikan hilang begitu saja. Dengan keadaan yang masih belum sepenuhnya sadar Ema berlahan-lahan melangkan kakinya untuk kembali pulang kerumahnya.Setiba dirumah, Ema langsung menceritakan kejadian yang sama yang pernah ia lihat didanau itu. Ema berlari kecil sambil memanggil ibunya. Ibunya pun menjawab pertanyaan itu. Ema lalu menceritakan apa yang di lihatnya itu. Ema kamu jangan mengada-ngada,tidak mungkin itu gadis yang sama. Dan mana mungkin ada gadis yang mau kedanau itu dengan keadaan hujan seperti ini. Ema dengan panjang lebar menjelaskan kepada ibunya tentang apa yang ia lihat namun ibunya tetap tidak percaya. Apapun itu ibunya tetap tidak percaya. Ia pun pasrah dengan keadaanya, disaat itu juga ibunya tidak mau lagi mendengar penjelasan dari Ema lagi.

Perdebatan antara ibu dan anak itupun tak sengaja terdengar oleh Pius yang baru pulang dari berburu. Dirinya yang melewati samping rumah Ema mendengar percekcokkan antara Ema dan ibunya. Gosip tentang gadis misteriusitupun mulai menyebar karena di ceritakan dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga ketua adat. Malamnya semua warga di desa itupun berkumpul di bale-bale atas perintah ketua adat termasuk Ema dan ibunya.Tanpa memperpanjang kata lagi ketua adatpun langsung menyampaikan apa tujuan mereka semuah berkumpul ditempat itu.

            “Tentu kalian tahu apa tujuan kita berkumpul ditempat ini. Disini saya ingin menanyakan langsung kepada Ema apa benar yang ceritakan oleh warga?”

            “Benar pak,saya melihatnya sendiri.ini kali yang keduanya saya melihat perempuan itu.” kata Ema.

“Apa kamu yakin yang di lihat mu itu Ema”.

“Saya yakin, saya melihat degan mata kepala saya sendiri.”

“Baiklah Ema,besok saya akan ikut dengan kamu ke danau”.

Tiba-tiba ibu ema pun berkata

“Sudah cukup Ema kamu jangan mengarang ngarang cerita lagi.

“Tapi ibu..sayacuman ingin membuktikan apa yang saya lihat itu benar agar mereka percaya itu saja.”

“Kalo begitu terserah kamu saja ibu tidak bisa lagi melarang kamu,kalo memang kamu ingin membuktikan kepada mereka pergilahkata ibu ema dengan suara pelan.”

“Baiklah kalian boleh kembali kerumah masing-masing,” perintah ketuah adat.

Ayam berkokok bersahut-sahutan,sang mentari pagi mulai menampakan cahaya indahnya di pagi buta,perlahan kegelapan mulai sirna sedikit demi sedikit, Ema beserta ketua adat dan beberapa warga telah bersiap-siap berangkat ke danau. Mereka menyelusuri hutan yang masih di selimuti embun pagi setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan tibalah mereka di atas danau.

“Gadis itu berdiri tepat di atas tugu itu dan meghadap ke danau.”

Kata ema kepada ketua adat, ketua adat hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil terlihat memikirkan sesuatu.

“Baiklah kita akan menunggu gadis itu di sini sampai ia datingkata ketua adat sambil berjalan kearah tugu.”

“Baiklah..baiklahkata warga yang ikut berjalan mengikuti ketua adat.”

Satu jam berlalu, dua jam berlalu namun, gadis yang di tunggu-tunggu belum terlihat apalagi matahari mulai panas dan itu membuat warga yang menunggu terlihat resah.

            “Katamu gadis itu ada tapi belum muncul-muncul juga kata salah satu warga pada Ema yang nada suaranya agak meninggi karena tidak sanggup lagi untuk menunggu.”

“Tunggulah sebentar dia akan datang” kata Ema dengan yakinnya.”

“Baiklah kami akan menunggu, tapi jika tidak, kau berbohong pada kami Ema kau tahu itu.”

“Datanglah kau harus datang agar mereka percaya kalau kau itu ada.” Kata ema dalam hati ia harus membuat warga desa percaya padanya.

“Ema mana orangnya, sudah lama kita menunggu di sini Tanya ketua adat.”

“Sabar Pak,dia pasti datang, iya dia pasti datangsekali lagi Ema meyakinkan ketua adat dan para warga.”

Hari mulai sore namun, tidak terlihat tanda-tanda seorang gadis yang muncul di ujung jalan sana sebagian warga mulai pulang karena tidak sanggup lagi menunggu.

“Sudah jelas gadis itu tidak ada, kau berbohong Ema, ayo semuanya sebaiknya kita pulang kata seorang warga yang tak sanggup lagi menunggu.”

“Tunggu…ku mohon tunggu…gadis itu akan datang percayalah.”

“Ayolah Ema kita pulang hari sudah sore gadis itu memang tidak adakata ketua adat meyakinkan Ema.”

“Tidak bapak gadis itu akan datang tolong menunggulah sebentar,” mohon Ema.

“Woi…Ema apakah kau sudah gila walaupun kau menunggunya siang dan malam di sini percuma saja karena gadis yang kau ceritakan itu hanya cerita bualanmu saja, otakmu itu sudah tidak betulteriak seorang warga dari kejauhan.”

“Bapak percayalah, Ema meyakinkan ketua adat agar percaya padanya.”

Ema tidak ada gunanya kita menunuggu orang yang memang tidak ada, marilah kita pulang.”

Dengan hati yang sedih Ema mengikuti kata ketua adat untuk pulang bersama. Sesampainya mereka di kampung para warga dan ketua adat kembali ke tempat mereka begitupun dengan Ema. Ibu Ema yang baru pulang dari kebun melihat anaknya yang duduk termenung sendiri.

“Bagaimana, apakah bertemu dengan gadis yang kau bilang itu?” Tanya Ibu Ema pada anaknya

“Tidak bujawab Ema singkat.” Seharusnya dia datang tapi.

“Sudahlah lupakan sajapotong ibunya sambil memegang pundak anaknyatidak perlu di pikirkan lagi.”

“Saya tidak berbohong bu.”

“Iya ibu tahu, sekarang pergilah mandi.”

“Ibu percayakan kalau gadis itu memang ada, Ema berusaha meyakinkan ibunya.”

“Pergi mandilah Ema badan mu bau sekalisambil menarik tangan anaknya pelan.”

Karena dipaksa terus oleh ibunya Ema pun pergi untuk membersihkan diri. Setelah seleseai membersihkan diri Ema menuju kekamarnya berpakaian dan berbaring diri di kasur, ingatanya selalu terbayang-bayang oleh gadis itu.

“Siapa kamu sebenarnya, kenapa kau selalu membuat saya seperti orang gila” gadis itu memang membuatnya frustasi bahkan hampir membuatnya gila.

            Keesokan hari Ema melakukan aktifitas seperti biasanya pagi ini Ema pergi sendirian ke ladang tanpa ibunya di dalam perjalanan Ema bertemu dengan para warga lain yang ingin ke ladang juga.

“Bagaiamana Ema apakah berjumpa dengan gadis yang kau ceritakan itu” kata seorang lelaki paruh baya yang berjalan di depannya.

Ema hanya tersenyum kecil menanggapi omongan laki-laki paruh baya itu

“Tentunya bapak sudah tahu kan”

“Ha ha Ema…Ema mana ada gadis di tempat seperti itu, mungkin kau salah lihat”

“Saya tidak salah lihat bapak saya memang melihat gadis itu sedang berdiri di atas tugu”

Sang bapak tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepala, dirinya merasa heran dengan pemuda di belakangnya itu

Semenjak mereka pulang dari danau tersebut Ema tidak pernah lagi mengunjungi danau tersebut. Hari berganti minggu dan kini sudah tiga minggu lamanya Ema tidak pernah lagi ke danau karena ibunya menyarankan untuk tidak lagi mendatangi tempat tersebut namun, bukan berarti ia akan melupakan gadis itu dirinya harus bertemu dengan gadis itu dan menanyakan langsung kenapa dia selalu ada di sana.

“Ibu mari kita pulang, hujan akan segera turun,” sambil berjalan ke arah ibunya

“Baiklah mari kita pulang.”

Di sepanjang pematang sawah terlihat orang-orang mulai berjalan pulang ke tempat mereka begitu juga Ema dengan ibunya. Awan hitam mulai menyelimuti jagat raya dan sang mentari telah bersembunyi di balik awan, tidak butuh waktu lama butir-butir air membasahi bumi semua orang berlari secepatnya untuk sampai ke rumah mereka, untungnya hujan turun saat Ema dan ibunya hampir sampai di rumah sehingga mereka tidak begitu kebasahan. Ema segera membersihkan badanya setelah itu ia duduk di bale-bale rumah sambil termenung entah apa yang ia pikirkan, di luar hujan sangat deras sehingga rumah warga di sekitarpun tidak kelihatan.

Dari arah pintu dapur terlihat ibunya sedang membawakan bakul yang berisi sirih pinang,untuk dimakan sekedar mengusik dinginnya hujan,namun tatapan kosong Ema jauh entah kemana. Ibu Ema yang melihat anaknya itu hanya menggelengkan kepala.

“Ema..Ema..apa yang kau pikirkan,cobalah cerita dengan Ibu sambil menggoyangkan bahu anaknya itu.”

“Tidak apa-apa bu” jawab Ema singkat.”

Ibunya hanya menatap anaknya sekilas sambil memilah-milah siri pinang untuk di makannya. Sebuah kalimat tiba-tiba terlintas di otak Ema “datanglah setelah aku selesai menangis dan awan pemarah pergi” sesaat ia memikirkan apa maksud perkataan gadis itu kemudian ia melihat keluar rumah dengan hujan yang masih deras, dirinya meminta ijin pada ibunya untuk masuk ke dalam kamar Ema merebahkan badanya di kasur dengan tangan sebelah di jadikannya bantal untuk kepala, ia memandang langit-langit kamarnya. Tiba-tiba ia langsung terperanjak dari tidurnya, di luar hujan sudah mulai reda Ema keluar dan melihat ibunya tidak ada, tanpa pikir panjang Ema keluar dari rumah dan berjalan menuju ke danautak peduli lagi tanah yang berlumpur Ema menyusuri hutan yang masih berkabut tebal setelah dengan bersusah payah berjalan dengan keadaan tanah yang berlumpur tibalah Ema di atas danau juga terlihatlah gadis yang berdiri di atas tugu seorang gadis yang selama tiga minggu ini membuatnya frustasi. Segera mungkin Ema langsung menghampiri gadis itu ia berjalan pelan mendekati dari belakang

“Aku selalu melihatmu di sini, siapa kau sebenarnya” tanya Ema dengan hati-hati

Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Ema lalu ia berkata.

“Suatu saat kau akan tahu” sambil membalikan badanya ke arah danau lagi

Karena penasaran Ema memberanikan diri untuk bertanya lagi

“Apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian.”

“Menunggu seseorang yang telah lama menghilang” suara gadis itu sangatlah lembut dan juga terdengar memilukan.”

“Siapakah gadis ini, tanya Ema dalam hati.

“Siapa yang kau tunggu,” desak Ema dengan pertanyaa.

“Orang yang sangat berharga dalam hidupku”

Hujan benar-benar telah reda dan mentari mulai terlihat gadis itu memandang ke langit di mana sang mentari senja mulai menampakan dirinya lalu ia berkata pada Ema sambil turun dari atas tugu.

“pulanglah hari sudah sore, tidak baik berlama-lama di sini”

“Tunggu dulu kau mau pergi ke mana” kejar Ema yang turun dari tugu dengan tergesa-gesa

“Pulang ke tempat semestinya saya berada.”

“Tunggu dulu saya belum tahu siapa namamu.”

“Sudah saya katakan suatu hari nanti kau pasti tahu” gadis itu masuk kedalam hutan dan menghilang dalam sekejap. Tidak ingin gadis itu pergi Ema juga masuk ke dalam hutan namun sayang gadis itu tidak di jumpainya lagi.

Hari mulai gelap Ema melangkahkan kaki nya dengan cepat ia ingin cepat-cepat menceritakan pada ibunya apa yang barusan ia alami

“Ema dari mana saja kau” tanya ibunya.

“Saya bertemu denganya bu, saya bertemu dengan gadis itu” dengan sambil memegang tangan ibunya

“Apa yang kau bicarakan ibu tidak mengerti.”

“Saya mengerti sekarang bu, gadis itu akan muncul setelah hujan reda.”

“Ema jangan membuat orang-orang menganggap kau itu gila.”

“Tapi akan saya buktikan sekali lagi pada mereka bahwa gadis itu memang ada, saya harus pergi ke ketua adat dan mengatakan ini dan meyakinkan mereka sekali lagi” tanpa mendengar kata-kata ibunya Ema langsung berjalan menuju rumah ketua adat sesampainya di sana Ema menceritakan semua yang di alaminya pada ketua adat beserta para warga yang kebetulan ada di rumah itu

“Saya yang langsung berbicara pada gadis itu.”

“Sudahlah Ema hentikan semua ini” kata ketua adat

“Tolong percayalah, gadis itu akan muncul setelah hujan reda, saya akan membuktikan pada kalian semua bahwa dia memang ada disana.”

“Hei Ema kau memang sudah gila, otakmu itu sungguh tidak betul lagi” kata warga

“Pulanglah Ema jangan membuat keributan disini, jika kau datang kesini hanya untuk menceritakan yang tidak masuk akal sebaiknya kau pulang, kata ketua adat dengan tegasnya. Ema pulang ke rumah dengan perasaan kesal di hampiri ibunya yang sedang duduk di bale-bale sambil mengunyah sirih pinang

“Apa ibu juga tidak percaya pada saya” tanya Ema pada ibunya

“Sudahlah Ema walaupun yang kau katakan itu benar semua warga di kampung ini akan menganggap mu gila. Ibunya merasa prihatin dengan anaknya itu.

“Ibu tidak ingin semua orang menganggap mu itu orang gila”.

Ema berusaha membuat warga desa percaya padanya namun warga desa menganggapnya orang gila.

“Lihat itu Ema, dia itu orang gila dia selalu membicarakan gadis di danau sana yang memang tidak ada, jangan dekat-dekat dengannya.”

Semua warga desa tidak pernah lagi berhubungan dengan Ema, orang-orang selalu menganggapnya gila karena setiap kali ia terus berbicara gadis yang di temuinya di danau sana. Ibu Ema merasa kasihan terhadap anaknya kadang-kadang ia menangis sendiri melihat anaknya, yang oleh semua orang menganggapnya gila.Hingga pada suatu malam Ema mengatakan sesuatu pada ibunya.

“Jika saya tidak ada janganlah ibu mencari saya.”

“Kenapa Ema” kata ibunya dengan perasaan tidak enak ia merasakan bahwa anaknya itu sangat aneh

“Tidak apa-apa bu saya hanya tidak ingin ibu khawatir pada saya, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja”

“Ema ada apa dengan mu kau mengatakan seolah-olah kau akan pergi jauh” ibunya benar-benar khawatir dengan anaknya malam ini”

“Saya tidak akan ke mana-mana bu, saya akan menemani ibu di sini” Ema berdiri dan langsung masuk kekamarnya.

Keesokan pagi ibu Ema bersiap ke kebun ladang di panggilnya Ema berulang kali namun tak kunjung di jawab oleh anaknya. Karena merasa khawatir ibu Ema masuk dan mencari anaknya di dalam kamar, namun yang jumpainya tidak ada Ema di sana. Perasaan khawatir mulai menggerogoti hati ibu Ema. Anaknya tidak ada di situ ibu Ema keluar dari rumah dan mencarinya kesana kemari, menanyakan pada orang-orang namun tidak seorangpun yang tahu keberadaan Ema,“di mana anaknya sekarang ?”pertanyan itu yang selalu melintas di benaknya sekarang.

Tiba-tiba Ibu Ema ingat tentang danau tiga warna itu selama ini anaknya itu sering mendatangi danau tersebut, dengan segera mungkin wanita paruh baya itu berjalan menuju danau dengan susah payahnya ia sampai di tempat tersebut di cari sekelilingnya namun Ema tidak di lihatnya

“Ema kamu di mana emma. Dengan perasaan sedih ia duduk di tanah menghadap danau dengan warna air yang biru. Di sebelah air warna biru itu terdapat warna air yang menyerupai warna gelap namun jika terkena sinar matahari akan terlihat seperti warna merah darah. Ibu paruh baya itu melihat ada sesuatu yang mengkilap di ujung danau tersebut ia berjalan menghampiri benda itu, ternyata yang di temuinya adalah sebuah parang beserta sabuknya.

Ibu Ema langsung mengetahui bahwa parang itu milik anaknya Ema di teriakinya namun tidak ada yang menyahut ibu Ema memandang danau yang berwarna biru itu sesaat, terlihat air mata jatuh dari kedua mata membasahi wajah keriputnya. Anaknya sudah pergi, wanita paru baya itu sudah tahu anaknya ada didalam air yang berwarna biru itu dengan sambil memegang parang ibu Ema kembali pulang ke rumah ia menangis sambil memeluk parang anaknya. Warga yang mendengar langsung menghampiri ibu Ema. Saat di tanya oleh warga dirinya hanya menjawab Ema sudah pergi meninggalkannya. Pertanyaan Ema pada gadis itupun sudah terjawab, gadis yang di jumpainya di atas tugu itu telah mati bunuh diri di danau sejak lama. Sehingga disaat itu juga warga meyakini bahwa danau berwarna biru tempat bersemayamnya seorang pemuda yang bernama Ema dan danau itu di beri nama “tiwu ko’o fai nuwa muri”yang artinya danau muda mudi yang di pencayai hingga saat ini.

Karya : Enci Wure