Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 16 Februari 2016   00:23 WIB
Hari Raya Cinta

Perlukah ada hari untuk merayakan cinta kasih? Bukankah mencintai pasangan, orangtua, dan sahabat sudah kita rasakan setiap hari, bahkan setiap saat?

?

Namun sepertinya manusia memang butuh hari perayaan. Misalnya, setiap bangun tidur kita mengucap doa syukur. Namun tiap tahun tetap ada satu hari khusus yang kita gunakan untuk merayakan hidup, yaitu hari ulang tahun.

?

Demikian pula dengan selebrasi lainnya. Misalnya Hari Ibu dan Hari Guru. Padahal tiap hari bahkan tiap detik kita menyayangi ibu kita, tiap hari kita hormat kepada guru kita. Namun tetap saja dimunculkan satu momen tertentu untuk merayakan cinta kepada keduanya.?

?

Mungkin manusia memang butuh hari-hari perayaan, untuk mengingatkan kembali hal-hal penting yang sering terlupa karena rutinitas. Katanya tiap hari sayang ibu. Tapi faktanya, bilang "I love you, Mom" hanya di Hari Ibu. Katanya tiap hari cinta guru, tapi faktanya mengucapkan "Terima kasih Guruku" hanya pada saat Hari Guru.

?

Maka bayangkan jika tidak ada Hari Ibu dan Hari Guru yang diperingati secara serentak? Akankah kata-kata manis itu tetap terucap?

?

Lalu bagaimana dengan cinta? Adakah hari khusus untuk merayakannya?

?

Sebab makna cinta adalah memberi dan memaafkan, maka hari rayanya adalah Idul Fitri dan Idul Adha.

?

Ketika cinta diuji dengan kesanggupan memaafkan, Idul Fitri menjadi hari rayanya. Semua orang beramai-ramai saling memaafkan. Ego mencair, cinta membanjir.

?

Ketika cinta diuji dengan kesanggupan berkorban, Idul Adha menjadi hari rayanya. Orang-orang merelakan sebagian miliknya untuk dimiliki orang lain. Ego dipenggal, cinta menebal.

?

?

Di kedua hari suci itu, hati pun melihat bahwa cinta itu putih, bukan merah jambu.

?

?

Banjarmasin, 16 Februari 2016

-Nia Tania-

?

Karya : Nia Tania