Buah Hati atau Buah Ambisi?

Buah Hati atau Buah Ambisi?

Emme Nia
Karya Emme Nia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Mei 2018
Buah Hati atau Buah Ambisi?

Rasanya saya tidak akan lupa pengalaman menjadi guru les privat SD saat itu. Murid pertama--dan hingga saat ini murid terakhir-- saya adalah seorang anak laki-laki kelas 2. Hingga saat ini jika mengingat bocah cilik itu, hati terasa miris ingin menangis.

Sebut saja nama anak itu Fadhil. Ibunya berharap saya bisa datang mengajar tiap hari, dari Senin hingga Jumat. Namun karena jadwal tersebut berbenturan dengan jadwal saya mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, maka kami menyepakati pertemuan seminggu 3 kali saja.

Pukul 19.00 WIB les privat harus sudah dimulai. Dalam kurun waktu 2 jam berikutnya, saya harus membedah semua mata pelajaran yang akan dihadapinya besok. Juga, membantu sang anak mengerjakan PR yang akan dikumpulkan. Ini bukan sistem les privat buatan saya, namun permintaan dari sang ibu.

Mengajar Fadhil adalah pengalaman pertama saya dalam memberi les privat. Saya menerima tawaran mengajar ini dengan senang hati katena memang suka mengajar anak kecil, juga dengan rasa percaya diri karena ia masih kelas 2 SD, jadi saya merasa masih bisa menguasai materinya meski saya bukan lulusan sarjana pendidikan.

Namun di tatap muka yang pertama, saya sudah merasakan tantangan yang cukup berat. Ketika sang anak menyodorkan tugas matematikanya. Perkalian antar bilangan puluhan. Ya, puluhan dikali puluhan seperti 25x32=?

Ya Allah, bukankah dulu saat saya masih SD, di kelas 3 saja baru menginjak tahap pengenalan perkalian, hanya diminta menghapal perkalian bilangan satuan 1x1 hingga 10×10. Ya, dulu perkalian antarpuluhan seperti itu baru saya temui di kelas 6.

Dan benarlah... Fadhil yang masih kelas 2 ini, boro-boro bisa menghitung 25×32. Perkalian macam 4x6 saja dia masih bingung. Yang bikin lebih njelimet lagi, cara berhitungnya harus sama seperti cara guru di sekolah. Sedangkan yang saya pahami hingga saat ini adalah cara berhitung saya jaman masih SD dulu, yang menurut saya lebih sederhana. Jadi, saya masih harus berusaha memahami dulu cara berhitung guru sekolahnya, kemudian mengajarkannya ke Fadhil karena ia takut disalahkan apabila mengerjakan dengan cara berbeda. Tapi sebelum itu, tentunya saya harus terlebih dahulu membimbingnya memahami perkalian bilangan satuan macam empat kali enam sama dengan berapa, dan bagaimana logika berhitungnya.

Fiuh! Kelar PR matematika, Fadhil menyodorkan selembar kertas jadwal mata pelajarannya. Untuk besok, ada 4 mata pelajaran dengan masing-masing 2 jam pertemuan. Ia kemudian minta lanjut belajar pelajaran IPA.

Nah di pelajaran IPA ini saya lagi-lagi dibuat terkejut sebab bukunya bilingual. Jadi, halaman kiri adalah teks bahasa Inggris sedangkan halaman kanan teks bahasa Indonesia. Ya, Fadhil memang bersekolah di sekolah swasta berstandard internasional. Ujiannya 2 bahasa, jadi buku pelajarannya pun 2 bahasa. But i think... sama yang bahasa Indonesia aja anaknya belum tentu paham dan menguasai materi, apalagi ditambah yang bahasa Inggris. Ini guru lesnya aja udah menjerit dalam hati, lha gimana si anaknya yang masih umur 8 tahun itu? Bebanmu udah kaya' konsultan pajak di bulan April deh, Nak... ????

Okay, untuk pelajaran IPA (Eh sebutannya IPA atau apa gitu ya, pokoknya tentang pengetahuan alam) yang isinya full teks alias hafalan, saya membantunya dengan membuatkan mind mapping. 

Pelajaran IPA selesai, waktu itu sudah jam 21.00 jadi pertemuan usai karena guru lesnya yang bukan Cinderella ini harus pulang di bawah jam 24.00.

Dan ketika pamitan ke ibunya Fadhil...

"Mbak, kalau Fadhil cerita-cerita nggak usah diladenin, kalau diladenin nanti dia ngomong terus, nanti jam belajarnya kurang karena waktunya mepet." Begitulah kurang-lebih pesan sponsor dari sang ibu, so I just say WHAAATTT???!!! dalam hati, tapi just smile di depan sang ibu.

Memang, di sela-sela belajar terkadang Fadhil berhenti kemudian sedikit bercerita sambil memainkan pesawat-pesawatannya. Ia suka bercerita tentang hal-hal kecil di sekolahnya dan saya suka memperhatikan dia bercerita. Saya pikir kan dia sudah lelah sekolah dari pagi hingga sore, lalu istirahat sebentar sebelum lanjut belajar di malam hari. Jadi biarlah les privatnya agak nyantai...

Di pertemuan berikutnya, dalam 2 jam kami membedah semua mata pelajaran untuk hari esok. Serasa lari estafet. Dari matematika lalu IPA lalu mengerjakan PR bahasa Indonesia, lalu belajar kesenian. Jujur saya tidak tega melihat anak ini.

Singkat cerita, karena tidak lagi mampu membagi jadwal dengan les privat, maka saya memutuskan untuk berhenti mengajar Fadhil. Namun ibunda Fadhil minta dicarikan pengganti, diusahakan yang bisa datang tiap hari karena Fadhil akan menghadapi ujian sekolah.

Saya pun mendapatkan pengganti guru les dari rekomendasi rekan saya. Sebut saja namanya Mbak Indah (lupa juga siapa nama aslinya ????). Dan benarlah, tak lama mengajar privat di rumah itu, Mbak Indah menghubungi saya.

Ia mengeluhkan sikap ibu Fadhil yang terkesan terlalu memforsir Fadhil, sehingga Mbak Indah pun merasa tertekan. Ia kena marah karena Fadhil salah menjawab pertanyaan ibunya seputar pelajaran sekolah. Mbak Indah pun tak mengerti mengapa bisa begitu, padahal malamnya saat belajar dengan Mbak Indah, Fadhil mengerti dan bisa mengerjakan soal. Tapi pagi hari sebelum ke sekolah saat dites oleh ibunya, jawabannya salah...

Hmmm... Jadi selain sekolah dari pagi hingga sore dan les privat malam hari, rupanya pagi-pagi juga dapat tes pertanyaan dari ibu ya, Nak? Lengkaplah sudah nikmat hidup yang kau miliki Nak...

Mbak Indah pun bercerita bahwa Fadhil sempat jatuh sakit. Saya pun ingat ketika masih mengajar Fadhil, ibunya pernah membatalkan pertemuan di hari Sabtu sebab Fadhil baru sembuh dari sakit demam berdarah atau tipes gitu ya, lupa tepatnya...

Lalu kami pun berpikir bisa jadi Fadhil stress. Saya menyarankan ke Mbak Indah untuk pelan-pelan memberi pemahaman kepada ibunya agar Fadhil tidak terlalu ditekan belajarnya.

Namun beberapa waktu kemudian, Mbak Indah kembali menghubungi saya. Ibunda Fadhil telah menelpon dan memarahinya karena menemukan kertas ulangan Fadhil dengan tulisan nilai 60-an. Rupanya Fadhil telah menyembunyikan kertas itu, lalu secara tak sengaja sang ibu menemukannya.

Kira-kira esok hari setelah Mbak Indah menghubungi saya, ganti ibunda Fadhil menelepon saya. Dengan nada agak kesal, beliau mengeluhkan Mbak Indah yang banyak omong dan minta dicarikan guru les baru.

Hmmm... Apakah yang dimaksud dengan 'banyak omong' itu karena Mbak Indah telah menasehati beliau? Ah entahlah... Yang jelas, setelah itu ibunda Fadhil tak lagi menghubungi saya.

Fadhil oh Fadhil, sekarang kau sudah SMP ya, Nak... Aku sudah tak ingat jelas raut wajahmu. Tapi aku masih sangat ingat kegembiraan di wajahmu saat kau bercerita... Di kelas ketika ditanya Bu Guru berapa empat dikali enam, temanmu salah menjawab sedangkan kau bisa, menggunakan cara yang kuajarkan. Di situ aku merasa bahagia. Keberhasilanmu itu lebih berharga rasanya dibanding rupiah yang kuterima. Aku pun juga ingat saat dengan polosnya kau bercerita kalau Bu Guru di kelas menghitung pakai kalkulator. Ah, tepok jidat ini guwe mah...

Nak, aku jadi kangen ngajar kamu les privat... Semoga kini di mana pun kau berada, kehidupanmu telah berubah menjadi jauh lebih baik dan jauh lebih bahagia...

Tahun kemarin, saya pun melihat "Fadhil" yang lain. Di sebuah ruang tunggu dokter gigi. Duduk di bangku seberang saya, sekeluarga terdiri dari nenek, ibu, seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan.

Anak laki-laki sedang asyik memainkan smartphone dengan headset di telinga sedangkan sang adik, anak perempuan, asyik membaca buku. 

Sang ibu kemudian duduk mendekat di samping anak laki-laki. Dari percakapan mereka, rupanya anak lelaki tersebut baru saja masuk sekolah SMP. Sang ibu menanyakan les apa yang ia butuhkan, sambil memperhatikan brosur dari sekolah.

Sang ibu terus mencecar anak dengan pertanyaan seputar pelajaran apa yang sulit, butuh les ini atau tidak, mau les itu atau tidak. Sementara sang anak tetap fokus pada smartphone-nya dengan headset masih menempel di telinga. Lama-lama sang ibu kesal lalu meminta ia melepas headsetnya. Anak itu kemudian menjawab pertanyaan dengan sekedarnya, masih sambil menatap layar smartphone. Terkesan seperti sang ibu tak punya waktu lain lagi untuk membahas masalah les itu, sampai-sampai ia harus membahasnya malam-malam di ruang tunggu dokter meski anaknya sedang tidak fokus.

Ketika seorang pasien di samping sang nenek berdiri masuk ke ruang praktek dokter, dan saat sang ibu lengah... Anak lelaki itu segera pindah duduk ke samping nenek sehingga duduknya agak jauh dari sang ibu sebab terhalang oleh nenek dan adiknya. Ibunya yang kemudian tahu, langsung memanggil anak lelaki itu agar kembali duduk di sebelahnya untuk melanjutkan pembicaraan penting tadi ????

Pelajaran sekolah jaman sekarang memang berbeda dengan jaman dulu. Materi yang dulu baru diajarkan di bangku SMP, kini sudah diterima di bangku SD. Untuk menyiasatinya, anak pun diberi lebih banyak les.

Namun yang terpenting adalah memberi lebih banyak kasih sayang agar mereka tidak stress. Memberi lebih banyak belaian, pelukan, dan kecupan.

Menyediakan telinga yang siap mendengar celotehannya kapan pun. Atau sekadar tersenyum menerima kegagalannya.

Sebab, bukankah anak adalah buah hati, bukan buah ambisi?

Apakah anak-anak itu diciptakan ke dunia sekadar untuk mengerjakan ujian sekolah?

Apakah anak-anak itu diamanahkan kepada kita untuk menjadi pewujud cita-cita kita?

 

Bjm, 13 Mei 2018

-Emme Nia-

 

  • view 51