Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 1 Mei 2018   00:01 WIB
Tolong Jangan Pakai Nama Hewan


Kebencian itu jika semakin dipendam di hati, lama kelamaan akan menjadi bagian dari diri kita, menjadi isi hati kita. 

Lalu, bukankah cangkir hanya menuangkan apa yang ada di dalamnya? Jika isinya kopi maka akan keluar kopi, mana mungkin keluar sirup. Jika isinya teh tentu cangkir tersebut akan menuangkan teh.

Maka jika hati kita sudah diliputi kebencian, bisakah menghasilkan keindahan dalam kata dan perbuatan?

Sedih sekali melihat fenomena di media sosial. Ketika mudahnya mencaci saat menunjukkan betapa benarnya dirinya, betapa bersalahnya orang lain. Namun saya paling tidak suka saat caci maki itu berupa kata-kata "kebun binatang."

Anjing dan babi memang binatang yang dihukumi najis dan dagingnya haram dimakan. Tapi apakah kita diperintahkan untuk membencinya juga? Apakah kita diperbolehkan untuk mengolok atau merendahkan hewan tersebut? Lupakah ada pezina yang diangkat derajatnya "hanya" karena memberi minum seekor anjing yang kehausan?

Lalu mengapa jika ada orang yang dibenci karena kesalahannya, ia lantas diolok menggunakan kata 'anjing'? Hal tersebut tidak hanya merendahkan martabat manusia dan hewan, namun sebenarnya merendahkan diri si pengolok sendiri.

Buah apel itu kaya manfaat. Tapi jika kita berikan buah tersebut dengan cara melemparkannya atau sambil bicara kasar, maka yang orang terima bukanlah manfaat buah apelnya, tetapi betapa menyebalkannya diri kita. 

Jangan lupa bahwa kita memiliki keturunan, tidakkah cukup berdoa agar keturunan kita dilindungi dan kelak tidak melakukan hal buruk seperti itu, daripada sibuk mencaci mereka yang bersalah?


Jalani saja keyakinanmu,
Sampaikan saja pendapatmu.
Tapi jangan lupa bahwa,
                       Kita memang tak harus sama.



Bjm, 1 Mei 2018
-Emme Nia-

Karya : Nia Tania