Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 30 November 2016   07:21 WIB
Under the same roof

Ada kalanya kita berpikir bahwa kita mempunyai ikatan dengan orang lain karena antara kita dan orang lain itu mempunyai kesamaan. Entah kesamaan kebangsaan, kesamaan suku, kesamaan agama hingga kesamaan pernah menempuh sekolah di SMP yang sama. Secara emosional, akan muncul pengharapan rasa bahwa orang lain itu mempunyai perasaan yang sama.

Sebaliknya orang merasa jauh apabila ternyata orang lain tersebut tidak mempunyai kesamaan apapun dengannya. Beda suku, beda agama, bahkan rumahnya pun jauh.

Namun apakah yang dirasa jauh ini pasti akan lebih tidak baik dibandingkan dengan yang punya kesamaan. Saya pikir belum tentu.

Yang mengherankan adalah apabila seseorang yang memiliki kesamaan dengan yang lain maka ia mengharapkan orang lain itu mempunyai cara pandang yang sama dengannya. Entah cara pandang dalam urusan politik, urusan pekerjaan, hingga urusan percintaan.

Saya mengibaratkan antara saya dengan orang lain yang mempunyai kesamaan dengan saya itu bagaikan tinggal dalam satu rumah namun setiap orang mempunyai kamarnya sendiri-sendiri.

Akan tetapi selalu ada saja orang yang beranggapan bahwa kamarnya lah yang paling bagus, paling rapi dan paling bersih. Orang ini beranggapan bahwa kamarnya seperti itu karena dia mengikuti sepenuhnya petunjuk yang diberikan oleh buku primbon miliknya. Karena merasa bahwa kamar dia paling baik, maka dia mulai ikut campur mengurusi kamar orang lain. Mulai dari mengomentari, mengkritik, menghina bahkan memaksa bahwa kamar orang lain haruslah seperti miliknya. Mulailah dia mengutip petunjuk dari buku primbonnya bahwa jika tidak mengikuti jalannya maka kamar yang lain akan tetap kotor dan terhina.

Kebetulan kamar saya terletak di pinggir dengan jendela ke rumah sebelah. Dari balik jendela saya bisa mengamati aktifitas tetangga saya. Kadang di saat-saat tertentu saya bisa main ke rumah sebelah dan melihat  isi ruangan dalamnya. Saya akhirnya menyadari bahwa walaupun ada perbedaan antara saya dan penghuni rumah sebelah namun lebih banyak persamaan yang bisa ditautkan. Ada sisi universalitas yang bisa menutupi perbedaan antara saya dan penghuni rumah sebelah. Saya banyak belajar dari penghuni rumah sebelah, termasuk dalam menata kamar.

Saya menata kamar saya dengan cita rasa yang saya suka. Saya lihat kamar saya sudah baik, cukup bersih dan nyaman dan dalam beberapa hal saya lihat lebih baik dari kamarnya orang yang sering mengingatkan saya itu. Saya suka dengan kondisi kamar saya. Ini ruangan privat saya. Inilah saya.

Yang menyebalkan, orang yang merasa paling baik di rumah saya sering mengetok pintu kamar saya dan memperingatkan bahwa tetangga sebelah punya dampak tidak baik kepada saya, tidak lupa ia mengutip tulisan dari primbonnya tentang penghuni rumah sebelah. Orang ini mengharapkan agar saya mengikuti sikapnya untuk tetap menjaga jarak dengan tetanggal sebelah misalnya menolak datang jika tetangga sebelah sedang merayakan sesuatu. Tapi saya tinggal dengan jendela kamar menghadap ke sebelah, apa salahnya jika saya turut bergembira mengikuti acara di sebelah walaupun hanya sekedar mengucapkan selamat. Saya rasa tidak ada yang dirugikan.

Entah mengapa, orang yang sering ikut campur dalam menata kamar orang lain ini belakangan makin agresif. Majalah dinding yang sedianya berisi informasi umum bagi seluruh penghuni rumah menjadi penuh di isi oleh versi tulisannya tentang cara menata kamar. Tidak cukup dengan itu, dia bahkan menempelkan selebaran di dinding kamar-kamar orang lain tentang cara menata kamar yang benar. Kira-kira bagaimana sebaiknya menghadapi manusia semacam ini ya?

“Sudahlah kawan, tidak perlu lagilah kau ingatkan aku dengan perkataan dan tulisanmu dari buku itu. Aku sudah dewasa” 

Karya : eMHa Pratomo