Perjalanan Singkat Di Negeri Para Dewa

Muhammad Muallimin Al Hafiz
Karya Muhammad Muallimin Al Hafiz Kategori Wisata
dipublikasikan 05 November 2016
Perjalanan Singkat Di Negeri Para Dewa

Yunani adalah negara penuh sejarah. Mungkin banyak dari teman-teman yang sudah menonton beberapa film yang diadaptasi dari mitologi Yunani atau kisah tentang kerajaan Yunani, seperti Sparta, Hercules, Thor dan lain lain. Negara para dewa ini pernah menjadi salah satu peradaban terkuat di seluruh dunia. Di negara ini juga lahir para filsuf ternama dan ahli ilmu pengetahuan, sebut saja Aristoteles, Plato, Hytagoras, Thales, Socrates dll.

Dulu Yunani Kuno sebagai bangsa terkuat namun sekarang negara itu sudah jauh berubah. Saat ini negara Yunani memiliki banyak masalah sebagaimana yang kita lihat di media, mulai dari masalah hutang negara yang tak bisa dibayar hingga jumlah pengangguran yang terus meningkat. Negara dewa berubah menjadi tanah yang krisis. Seperti yang dikutip dari bbc.com (2015) total hutang yang dimiliki Yunani adalah €320bn atau sekitar 5000 Triliun Rupiah. Masalah ini tak hanya membuat pusing negara Yunani sendiri, namun juga negara negara Uni Eropa lainnya. Saat ini Yunani juga menjadi pintu masuknya para pengungsi Suriah yang menyeberang dari Turki menuju Eroa.

Tapi kali ini kita tidak akan membahas bagaimana keadaan Yunani saat ini. Tapi saya akan bercerita pengalaman perjalanan singkat mengelilingi kota Athena, ibukota Yunani.

Senin, 17 Agustus 2015 adalah hari bersejarah bagi saya. Hari itu adalah awal dari perjalanan mimpi saya untuk bisa mengelilingi benua Eropa. Perjalanan yang membawa saya mengenal budaya orang orang Eropa yang dingin, sedingin cuacanya. Saya menerima beasiswa pertukaran pelajar (Erasmus+) selama satu semester di Tallinn Univeristy, kota Tallinn, Estonia.

Hari itu saya berangkat dari Ataturk International Airport, Istanbul menuju Eleftherios Venizelos International Airport, Athena, Yunani. Sebetulnya tujuan utama saya bukan Yunani tapi Estonia. Sengaja saya membeli tiket pesawat yang transit ke Yunani selama 11 jam agar bisa melihat kota Athena yang penuh sejarah itu. Ya... Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati hehehe.

Eleftherios Venizelos International Airport

Saat tiba di bandara Athena hal yang pertama saya lakukan adalah pengecekan visa. Setelah selesai proses imigrasi. Saya mengelilingi bandara, ternyata bandara Ahtena tidak sebesar yang saya bayangkan. Bandaranya tampak biasa biasa saja, dibandingkan dengan bandara Adnan Menderes di Izmir bandara ini lebih kecil.

Bandara yang diambil dari nama Perdana Mentri Yunani Eleftherios Venizelos ini terletak 20 KM dari pusat kota Athena. Sebelum saya memberanikan diri keluar bandara, saya mencari ruang informasi untuk mengambil peta dan meminta petunjuk kepada petugas bagaimana cara mencapai pusat kota Athena. Petugas dengan ramah menjelaskan cara menuju pusat kota.

Tidak sulit ternyata untuk mencapai pusat kota, hanya perlu naik metro sekali dan membayar tiket seharga €14,00. Dari stasiun bandara saya menuju pusat kota. Tidak sabar ingin melihat Akropolis!

Bule Yunani dan bule Aussie 

Dari stasiun bandara saya menuju pusat kota. Pada saat saya di stasiun bandara saya agak sedikit kebingungan dimana saya harus membeli tiket metro. Maklum ini baru pertama kali saya jalan jalan sendirian ala backpaker-an yang dibiasa hanya bisa saya rasakan melalui artikel di internet atau sekedar nonton video di youtube.

Dengan bahasa Inggris saya yang biasa biasa saja saya mencoba bertanya kepada Mas bule yang ada di stasiun, sepertinya dia bule Yunani asli hehe. Setelah saya mendapatkan tiket, kebingungan datang lagi ada beberapa peron yang ada di stasiun bandara. Daripada salah peron dan naik kereta yang entah kemana tujuannya, saya pun bertanya kembali. Ada dua bapak bule sedang ngobrol dengan bahasa Inggris. Saya pun bertanya kepada kedua bapak tersebut. Ternyata tujuan kami sama yaitu menuju pusat kota. Kedua bapak tersebut ternyata adalah orang Australia yang sedang ada tugas ke Yunani, jadilah kami mengobrol di metro menuju Akropolis. Kedua bapak itu menceritakan bahwa mereka sudah pernah ke Indonesia, tepatnya ke Bali. Dan mereka senang dengan budaya Indonesia. Wow! Senang sekali rasanya saya bisa mendengar hal positif tentang Indonesia. Saya pun bercerita bagaimana saya bisa sampai di kota Athena.

Selama perjalanan menuju pusat kota saya merasa heran karena tiket yang sudah saya beli tidak dicek sama sekali.  Saya tidak melihat mesin pengecekan tiket sebelum masuk stasiun. Petugas security pun tak nampak. Suasana stasiun juga tidak begitu ramai. Takut ada apa apa saya pun bertanya kepada dua bapak temen baru saya itu. Sir, I bought the tickets but I don't see any control to check it. Kedua bapak itu pun bilang, just keep it boy, we bought it for nothing hehehe. Kedua bapak itu pun tidak tahu kenapa tidak ada pengecekan tiket. Maklum lah ini pengalaman pertama saya, jadi agak kudet. Di Izmir di stasiun banyak security yang mengontrol dan ada mesin tap sebelum masuk ke dalam stasiun.

Perlu waktu setengah jam lebih menuju kota Athena dari bandara. Ditengah perjalanan saya hanya melihat tanah tandus yang hanya ditimbuhi sedikit pepohonan, bukit bukit menghiasi pemandangan di kiri dan kanan. Cuaca saat itu juga panas sekali. Ternyata kota Athena tidak jauh beda dengan kota Izmir tempat saya kuliah. Ya sebelas dua belas dengan kota Izmir. Dilihat dari sejarah Izmir dan Athena punya banyak sejarah yang sama, dua kota ini dulunya adalah satu negara di zaman Yunani Kuno.

Di sini Palestina diakui sebagai negara

Keluar dari metro yang terletak di bawah tanah saya sudah merasakan suasana Yunani. Ya suasana Yunani! Tulisan tulisan di dinding metro yang menggunakan alfabet Yunani menambah imajinasi saya. Serasa berada di film Sparta. Lebay! Haha. Dan sekarang waktunya saya menikmati kota dewa dewi ini.

Walau hanya punya waktu singkat. Tapi saya harus bisa menikmati indahnya kota Athena, ucap saya dalam hati. Tujuan utama saya adalah ingin melihat Akropolis! Kota indah indah yang biasa saya lihat saat bermain game di handphone punya abah sewaktu SD dulu.

Sebelum saya menuju Akropolis. Saya mengelilingi sekitar pusat kota. Bangunan pertama yang menarik saya adalah Gedung Parlemen Athens. Di dalam gedung ini lah para petinggi Yunani bekerja memutuskan berbagai kebijakan untuk Yunani. Di depan gedung ini beberapa kali terjadi demo anarkis bahkan sampai pernah terjadi ledakan bom. Untungnya waktu saya kesana suasana sedang tenang dan damai.

Di gedung ini juga untuk pertama kalinya parlemen Yunani mengakui keberadaan Negara Palestina. Tepatnya pada hari Selasa, 22 Desember 2015 yang juga menjadi sangat spesial karena dihadiri presiden Palestina Mahmud Abbas. Dan keputusan tersebut disetujui oleh semua anggota parlemen Yunani.

Bentuk bangunan yang unik tentunya harus diabadikan, saya pun berfoto di depan gedung yang mempunyai sepuluh pilar besar ini. Ada banyak turis dari berbagai negara yang juga berfoto. Di depan gedung ada dua tentara dengan pakaian khas berdiri di sisi kanan dan kiri.

Menuju Akropolis

Setelah puas dengan suasana di depan gedung parlemen saya pun kembali menuju tujuan utama saya, Akropolis. Kembali saya bertanya bagaimana cara menuju Akropolis dari gedung parlemen. Seperti kata pepatah, malu bertanya sesat dijalan. Saya memberanikan diri bertanya kepada seorang bapak yang sedang melihat koran yang dijual ditepi jalan. Untungnya dia mengerti bahasa Inggris, jadi saya bisa mengerti penjelasannya. Awalnya saya berpikir akan sulit menemukan orang yang berbahasa Inggris ternyata apa yang saya pikirkan tersebut salah. Bapak yang saya tanya pun dengan ramah menjelaskan kepada saya.

Untuk menuju Akropolis jalan terdekatnya saya harus naik metro lagi menuju stasiun Akropolis, setelah keluar stasiun dan maju beberapa langkah bukit indah itu akan terlihat jelas di depan mata. Lumayan capek juga ternyata apa pagi jalan kaki sendiri, tak ada yang menemani, tak ada teman ngobrol, duh sedih sekali, ditambah bawaan tas ransel yang beratnya minta ampun. Lah kenapa jadi curhat begini? Hehehe. 

Memang terkadang travel sendiri itu asik. Tapi setelah saya pikir pikir kembali traveling bareng teman atau sahabat apalagi someone special pasti lebih menyenangkan #CodeDetected #KodeTerdeteksi.

Beberapa stasiun di kota Athena juga dihiasi dengan benda benda unik seperti guci, piring piring tua, dan berbagai macam bentuk peninggalan peninggalan unik Yunani Kuno yang bisa dinikmati secara gratis.

Kota di tanah tertinggi, Akropolis

Akhirnya saya pun tiba di stasiun Akropolis. Sebelum memasuki wilayah Akropolis, saya harus membeli tiket masuk seharga €20 terlebih dahulu. Keindahan Akropolis sudah terlihat dari jauh. Bangunan megah yang biasa saya lihat di handphone abah itu kini sudah di depan mata. Ia lah Parthenon, sebuah kuil yang dibangun sebagai persembahan untuk Dewi Athena. 

Akropolis di Athena adalah yang paling terkenal di dunia. Akropolis sendiri bermakna kota tertinggi seperti yang dikutip dari The American Heritage Dictionary of the English Language. Seperti namanya Akropolis berada di bagian tertinggi dari kota Athena. Walau lelah berjalan kaki menuju Akropolis, semangat untuk menuju puncak menghilangkan semua rasa lelah tersebut.

Saat menuju puncak Akropolis banyak reruntuhan kota yang bisa dinikmati, sembari melepas lelah sekedar santai sejenak sambil mengambil foto tak ada salahnya. Sebelum mencapai puncak saya berhenti sejenak melihat Teater Dionisos Eleuthereus. Hayalan saya datang seakan berada di zaman Yunani Kuno, membayangkan orang orang zaman dulu duduk di teater itu sembari mendengarkan orasi dari raja raja mereka. Atau mungkin bersorak sorai melihat suatu pertunjukan.

Puas dengan hayalan di depan teater. Saya lanjut berjalan menuju puncak. Jalan lurus dan lebar yang tersusun rapi oleh bebatuan berbentuk kotak menyambut kedatangan saya di depan kuil Dewi Athena, Parthenon. Megah sekali. Tak salah jika Yunani Kuno dinobatkan sebagai bangsa paling maju di zamannya. Pilar pilar raksasa mengelilingi kuil pelindung kota Athena ini. Menurut sejarahnya Parthenon dibangun antara tahun 447 sampai 438 sebelum Masehi dan sampai saat ini masih berdiri megah.

Kemegahan tersebut tentunya berkat jirih payah masyarakat Yunani dalam menjaga keutuhan bangunan tersebut. Perawatan yang selalu dilakukan oleh Pemerintah Yunani terhadap situs situs bersejarah yang dilindungi. Saat saya berada disana pun Parthenon sedang dalam masa rehabilitasi. Ada perbaikan dibagian depan yang terpaksa membuat pengunjung sedikit berkecil hati. Namun tentunya juga menjadi nilai plus bisa melihat bagaimana salah satu situs paling bersejarah di dunia dalam masa perbaikan.

Dari atas Akropolis seluruh sudut kota Athena terlihat jelas. Laut Aegean yang biasa saya nikmati di tepian kota Izmir terlihat indah dari sisi yang berbeda. Terbayang olehku di seberangnya adalah kota Izmir yang akan aku rindukan selama satu semester kedepan. Di sisi lain aku melihat rumah rumah penduduk kota Athena yang bercorak putih. Tak ada gedung pencakar langit seperti di Jakarta atau di Istanbul, yang ada hanya rumah rumah penduduk berwarna putih dan gedung gedung pemerintahan. Sungguh pemandangan asing bagi mereka yang baru pertama kali melihatnya. Seperti saya waktu itu.

It's time to go back to airport 

Setelah selesai menikmati suasana di Akropolis. Saya teringat waktu telah menyuruh balik menuju bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Tallinn, Estonia. Saya pun turun ke bawah melewati jalan yang berbeda. Sesampainya di bawah saya menyempatkan diri untuk membeli sebuah souvenir berupa magnet bergambarkan kota Athena. Sebagai kenang-kenangan bahwa saya pernah mengunjungi kota para dewa tersebut. 

Saya pun pulang menuju airport dengan metro yang sama. Di pinggiran jalan banyak restoran yang menyediakan hidangan lezat. Tapi apalah daya, kantong mahasiswa ini tak mengizinkannya untuk singgah sejenak sekedar mencicipi kuliner Kota Dewa. 

Di bandara saya menunggu di tempat ibadah. Tempat ibadah di Eleftherios Venizelos International Airport terletak dilantai dua, tempat ini dibagi menjadi beberapa ruangan sesuai agama yang dianut. Ada ruang ibadah untuk muslim yang terpisah dengan agama yang lainnya.

Setelah sholat saya masuk ke ruang tunggu. Sambil menunggu saya pun tak lupa untuk update status di media sosial menggunakan fasilitas gratis bandara berupa komputer yang ada di sekeliling bandara.

Entah kapan saya akan kembali lagi ke Kota Tua ini, mungkin juga ini adalah kunjungan pertama untuk terakhir kali. Semoga diberi diberi kesempatan untuk bisa kembali mengunjungi Yunani di lain waktu. Masih banyak tempat tempat yang belum ingin dikunjungi di negara ini.

Hari itu, 17 Agustus 2015. Di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70. Di negeri para dewa.

Foto lengkap ada di sini: https://mobile.facebook.com/emen.kaito.kid/albums/1045967152082979/

  • view 194