Menanti Hujan Reda

Menanti Hujan Reda

Embun Pagi
Karya Embun Pagi Kategori Puisi
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Menanti Hujan Reda

Bukit bebatuan pernah kita bersama lewati. Selalu berjalan bergandengan tangan tanpa alas kaki.
Istirahat sesaat di tepi anak sungai. Menatap pelangi yang muncul selepas kita teduh di pohon jati. Pada pelangi yg memantul di jernih anak sungai itu, pernah engkau berjanji; `aku akan menjadi yang terakhir bagimu'. Sesaat ucapmu selesai, pelangi itu memudar dan hilang. Musim berganti. Dedaunan di pohon jati kering meranggas. Anak sungai kering kerontang. Matahari terik menyengat kulit. Aku mematung tanpa jaket di ujung jalan menuju bukit. Tempat dimana kita selalu janji bertemu. Aku menunggu hampir satu jam. Kamu datang dengan tergesa dan senyum yang dikulum. `Sayang, ijinkan aku pergi untuk kembali`. Ucapmu tiba-tiba dengan memelas. Kutatap matamu sekilas dan mengangguk pelan. Kaupun tersenyum haru. Sejak saat iti tangan kita makin erat menggenggam. Untuk yang terakhir kali kita erat berpelukan. Tepat di atas bukit. Disaksikan jingga senja yang ranum. Musim kembali berganti. Berjalanku sendiri menyusuri bukit. Masih dengan telanjang kaki. Masih dengan setapak yang sama. Masih duduk di bawah pohon yang sama. Masih jua menunggu jinga senja tampak. Menikamti sesaat dan lekas kembali pulang. Genap tiga musim berganti. Senja nampak mulai tak menarik lagi. Bias-bias lengkung jingga semburat sendu. Dan aku benci itu. Disetiap pergantian musim aku selalu menunggumu. Ingin menagih janjimu untuk sekedar menikmati senja bersama. Tapi lagi-lagi kau tak jua datang. Suatu pagi aku terima sepucuk surat yang wangi. Dihantar dengan manis oleh seekor merpati. Tanpa jelas siapa pengirimnya. `Dia tersesat di rimbun hutan perawan` Darr... aku kuyup akan air hujan dan terjungkal tersenggol petir. Tetap bertahanku. Hanya ingin kembali melihat pelangi muncul. Walau sesaat dan hilang. Sejak saat itu aku selalu luruh saat hujan datang.

  • view 356