Ketika Raja Salman Selfie

Elza Taher
Karya Elza Taher Kategori Politik
dipublikasikan 03 Maret 2017
Ketika Raja Salman Selfie

Ternyata raja Salman orangnya tak feodal, kaku dan seram seperti yang digambarkan berbagai stereotif yang negatife tentang Saudi jelang kedatangan Salman. Berbeda dengan berbagai stereotif negative itu, Raja salman  sangat ramah, wajahnya  selalu senyum.  Ia bersedia berbicara dan berdialog dengan siapa saja di dekatnya tanpa protokoler yang berarti. Ia bahkan bersedia selfie-an. . Seorang kepala Negara Arab ber selfie itu sesuatu banget...


Saya termasuk  senang dengan penampilan pakaiannya. Sekalipun mengalami modernisasi orang Arab Saudi tetap menampilkan pakaian tradisional mereka. Saya jarang bertemu orang Arab, khususnya Arab Teluk, betapapun modernnya, meninggalkan pakaian tradisional mereka, dengan memakai dasi atau celana panjang , seperti yang terjadi disini. Suatu hal yang cukup mengagumkan. Modernisasi tidak harus berarti meninggalkan budaya tradisional.

Robert Lacey, penulis buku legendaris, The Kingdom, Arabia and the House of Saud, menulis pengalaman yang menarik tentang modernisasi di Saudi. Buku  ini sering menjadi kutipan Cak Nur saat memberi kuliah di Paramadina. Lacey menulis, saya kutip dari kuliah kuliah Cak Nur  “ Bulan mei 1981, Raja Khalid  sebelum salat dzuhur  menerima rakyatnya di istananya yang sederhana.  Semua jenis manusia ada disitu: orang kota yang kaya dengan jubahnya berhias emas, kaum badui yang telanjang kaki, orang buta, orang lumpuh, seorang pekerja asal Mesir dengan pakaian kerjanya dan kedua kakinya masih membawa lumpur dari galian selokan di kota, dan lain lain. Satu per satu datang pada raja dan berjabat tangan dengan kukuh.  Sebagian mencium pundak raja. Sebagian lagi merangkul dan menciumnya di pipi. Tetapi ketika ada yang merunduk dan mencoba mencium tangan, sang Raja akan menarik tangannya dengan cepat dan berteriak “ astaghfirullah” lalu mengajari orang badui itu berjabat tangan secara benar dan berdiri tegak.

 Dalam suasana pertemuan itu, tulis Lacey, kata-kata sopan kepada Raja paling jauh hanyalah “thawil umrak’ ( semoga panjang umur}. Dan banyak dari mereka  yang memanggil Raja cukup dengan nama pribadi “ Ya Khalid” sembari melemparkan secarik kertas kumal ke pangkuan Raja. Kertas itu sendiri mungkin berasal dari wall paper yang koyak. Di dalamnya tertulis permohonan, keluhan, protes atau apa saja yang perlu disampaikan pada Raja. Biasanya, asalkan, tidak melanggar birokrasi, apapun yang berisi kertas kumal itu akan mendapat tindak lanjut.

 Membaca Lacey kita faham mengapa selama disini semua orang bersalaman dengan sang raja sambil berdiri sama kukuh. Tak ada yang menunduk atau cium tangan, pasti akan ditepis oleh Raja. Ketika bersalaman kedua tangan Salman akan memegang tangan orang yang bersalaman, dengan wajah yang ramah dan hangat. Cuma Ahok yang ketika salaman mengambil posisi agak menunduk tapi tidak cium tangan.

Dua hari di bumi pertiwi  pengaruh dan wibawa raja Salman, sebagai penjaga tanah suci amat kentara. Bahkan dibawa -bawa ke kepentingan pilkada. Foto Ahok yang bersalaman dengan raja Salman diviralkan oleh pendukung Ahok kemana mana. Mereka bangga Ahok saja bersalaman dengna raja Salman, sang penjaga tanah suci.  Viral itu tentu saja kepentingannya untuk pilkada nanti. Dengan itu mereka berharap mendapat simpati lebih besar. Yang juga menarik ketika Ahok bersalaman dengan Raja,  bully dengan  dengan kata kata unta unta Arab dan sebaginya nyaris lenyap. Yang ada cuma puja puji.

Lingkungan istana  berkali kali  mengatakan Salman menanyakan anak cucu dan Bung Karno ketika menjejakkan kaki pertama kali di Bogor. Mereka ingin mengatakan Salman saja mencari anak dan cucu Bung Karno. Sesuatu yang pasti membuat anak dan cucu Bunga Karno bangga. Mega dan Puan bahkan menyempatkan diri ber selsfie. Wajah Mega tampak sumringah banget.

 Kesemua itu bukti raja Salman cukp dihormati di negeri ini. Berbagai demo yang diperkirakan akan terjadi ternyata tak muncul. Demo itu terutama karena tindakan Saudi yang menyerbu Yaman, hubungan Saudi yang terlalu dekat dengan Amerika dan soal kebebasan wanita di Saudi.

Akhir kata, semoga sang raja menikmati kunjungan bersejarahnya di bumi ini. Pulang pulang dapat hidayah sehingga menarik pasukannya dari Yaman, masak negara Islam menyerbu negara kecil tetangganya, memberi kebebasan pada wanita di Saudi, membayar janjinya terhadap korban crane tahun lalu dan yang lebih penting menepati janjinya investasi trilyunan di negara ini. Wallahualam..

 

Pondok cabe 1 Maret 2017

 

Elza Peldi Taher

twitter @elzataher

 

 

 

 

  • view 360