Kisah Nyata: Hakim dan Nenek Pencuri Ubi

Elza Taher
Karya Elza Taher Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Maret 2017
Kisah Nyata: Hakim  dan Nenek Pencuri Ubi

Di ruang pengadilan. Mata hakim basah, wajahnya sendu. Perasaannya mendayu dayu. Ia menarik nafas panjang. Di depannya bersimpuh seorang terdakwa. Sang hakim galau waktu mendakwa seorang nenek yang terbukti mencuri ubi dan memang mengaku bersalah karena telah mencuri.   Nenek beralasan  miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun, pengurus ladang ubi tersebut tak mau tahu, ia tetap dengan tuntutannya supaya menjadi pelajaran bagi orang lain.

 Kembali hakim tercenung. Menarik napas pelan pelan. Puluhan tahun berkarir, baru kali ini ia menghadapi perkara yang demikian pelik.  Wajahnya muram, matanya sendu “Maafkan saya, Nek,” kata nya sambil memandang nenek itu. “Hukum harus ditetapkan tanpa diskriminasi. Tak boleh ada pengecualian. Undang-undang tetap undang-undang.  Nenek  harus dihukum. Saya mendenda Nenek  Rp. 1 juta. Jika tidak mampu bayar, Nenek  harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan undang-undang.”

 

Ruangan terasa sunyi. Terdengar isak tangis nenek yang mengharukan hati. Sang nenek itu tertunduk lesu,  duduk bersimpuh. Ia menangis tentu saja. Tentu saja uang segitu ia tak mampu membayarnya. Namun, tiba-tiba hakim membuka topi hakimnya, membuka dompet, kemudian memasukan uang  Rp. 1 juta ke topinya sembari berkata kepada mereka yang berada di ruang pengadilan, “Atas nama pengadilan, saya menjatuhkan denda kepada setiap orang yang hadir di ruangan ini sebesar Rp. 50 ribu karena menetap di daerah ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sehingga terpaksa mencuri untuk memberi makan cucunya. Saudara-saudara, tolong kumpulkan denda dalam topi saya ini, lalu berikan semuanya kepada tertuduh.”

 

Sebelum palu diketuk, nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp. 3,5 juta. Sebagian dibayarkan kepada pengadilan untuk membayar dendanya. Setelah itu, dia pulang membawa uang sumbangan dengan wajah haru.

 

 Di buku puisi esai saya, Menusia Gerobak, saya menuliskan kisah nyata mengharukan ini dalam bentuk puisi esai panjang. Ini sebagian isinya..

Majelis meja hijau,

Tanggal tigabelas bulan tiga tahun tiga belas

Aku sedikit tercenung

Di hadapanku, pagi itu

Tiga kerat singkong

dan seorang nenek tua di kursi pesakitan

Kata si nenek tua:

Satu kerat buat anak yang sakit

Satu kerat buat cucu yang lapar

Satu kerat lagi,

“saya sudah tiga hari tidak makan”

Singkong bukan sembarang singkong

Singkong bermerek Tapioka Andalas

Milik seorang petinggi partai

berdalih memberi contoh

contoh penegakan hukum

”Lex dura sed tamen scripta

hukum itu kejam, kaku, dan keras1)

Ujar kaki tangan petinggi partai

kasus ini layak dibawa ke pengadilan

Jaksa pun tak kalah lugas

Bukan tiga kerat yang diembat

tapi singkong mukibat tiga ikat

Ibarat satu kilogram merica dibilang setengah ons2)

Maka, si nenek pantas dibui

kurungan seratus limapuluh hari

dan denda satu setengah juta rupiah

Aku harus mengetuk palu

Sembari memandang nenek di kursi pesakitan

“Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum

hukum tetaplah hukum

nenek harus dihukum

Nenek dihukum denda satu juta rupiah

Bila nenek tidak mampu bayar

Nenek masuk bui duaratus hari

Atas nama meja hijau

Saya juga jatuhkan denda limapuluh ribu rupiah

pada tiap orang yang hadir di majelis ini

Karena, saudara-saudara sekalian

membiarkan nenek kelaparan”

Aku buka toga

Aku masukkan satu juta dari dompetku

“Saudara panitera, tolong bawa keliling

toga saya kepada semua yang hadir di sini

Serahkan kumpulan denda buat nenek”

Aku ketuk palu tiga kali

Penuh gerutu

Hadirin majelis satu per satu

Tidak terkecuali manajer Tapioka Andalas

yang tersipu malu

jatuhkan kertas nominal limapuluh ribu

Togaku pun penuh kertas nominal

Terhitung dua juta limaratus ribu rupiah

Nenek tua itu langsung bayar denda

Lalu pulang

 

Tiap kali saya membaca kisah hakim dan nenek ini, hati ini terenyuh. Kagum pada sikap hakim yang masih punya nurani, marah pada sikap tetangga yang punya ubi, kok ada orang setega itu sama nenek tua yang tetangganya sendiri, kasihan pada nenek yang mencuri karena membela cucunya ini...

 

 

Pondok Cabe 28 Februari 2017

 

 

 

Elza Peldi Taher

Twitter @elzataher

  • view 526

  • Lenny Harahap
    Lenny Harahap
    9 bulan yang lalu.
    Maaf nanti pernyataan saya di benarkan ya pa kalau saya salah menafsirkan. Bicara ketidak mampuan, ketidak berdayaaan, banyak kita temui di sekitar kita namun soal peduli sesama mulai mengalami penyusutan, kalau membaca kisah para Nabi dan Rasul juga para Khalifah beliau- beliau adalah contoh kita menjalani hidup ini dan menghadapi hidup ini tapi kalau sekarang kita tidak bisa melihat contoh dari para Nabi, Rasul dan Khalifah yang bersikap adil, jujur dan bertanggung jawab dengan amanah yang di emban, sekarang kalau menjadi pemimpin berpikir seperti raja, bukan sebagai pelayan, bahkan kasus kemiskinan bukan lagi prioritas, bukan melihat akar rumput, apa yang harus di tuntaskan, lebih miris lagi kalau di antara kita sudah tidak ada lagi perasaan belas kasih antar sesama, hal-hal yang zaman dahulu di musyawrahakan sudah tidak berlaku lagi tapi kesombongan dan keegoisan semata yang di kedepan kan.