Mengapa berpelukan dan Berciuman sebelum Pergi dari Rumah itu sangat penting?

Elza Taher
Karya Elza Taher Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Februari 2016
Mengapa  berpelukan dan Berciuman sebelum Pergi dari Rumah itu sangat penting?

Jika pergi dari rumah, apakah yang kamu lakukan pada orang-orang di rumah ? istri, anak, dan orang tua? Berpamitan sekedarnya, bersalaman, atau berpamitan sambil berpelukan dan cium pipi?

Ini pertanyaan serius. Pertanyaan ini muncul saat lagi bersih bersih buku yang berantakan di rumah, saya menemukan buku lama yang sudah lapuk; love, Medicine, and Miracle , karya Bernie Siegel, seorang ahli bedah yang bermukim di Amerika Serikat. Buku ini bercerita soal pentingnya apa yang dilakukan sebuah keluarga saat akan pergi dari rumah dan pulang dari rumah.

Menurut Bernie, di Eropa pernah diadakan penelitian kecil. Sekelompok suami yang pergi ke kantor dengan mengendarai mobilnya dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama, yang dicium isterinya sebelum berangkat kantor, dan kelompok kedua, yang tidak dicium isterinya sebelum berangkat kantor. Setelah beberapa periode lewat ternyata kelompok suami yang dicium isterinya sebelum berangkat kantor memiliki resiko kecelakaan lebih kecil dibanding suami yang tidak dicium isterinya. Selain itu suami yang dicium isterinya lebih setia, lebih cepat pulang dari biasanya dibanding suami yang tidak dicium isterinya.

Setelah membaca buku ini, saya berkaca pada tradisi dan kebiasaan di rumah tangga saya yang sudah terbina sejak hampir dua puluh dua tahun lalu dan kini kami telah dikaruniai anak yang dewasa Ikra dan Hanifa. Ikra anak kami akan menyelesaikan studinya di Paramadina tahun ini, dan Hani, akan menamatkan SMA nya tahun ini.

Sejak awal membentuk rumah tangga, kebiasaan saling mencium dan berpelukan sebelum berangkat dari rumah telah menjadi tradisi dalam keluarga kami. Setiap mau berpisah pagi dan sore atau malam hari saat bertemu kembali, kami semua selalu berpelukan dan cium pipi. Sebuah pelukan dan ciuman di pipi terasa memberikan kesejukan dalam jiwa. Saat sedang suntuk di kantor, saat stress karena kerjaan menumpuk, saat sedang merasa jenuh dan merasa kesepian, saya sering dilanda kangen dicium anak. Dunia serasa tidak ramah dan kosong jika dilewati sehari tanpa dicium anak. Setiap kali pulang memasuki rumah, saya menunggu saat saat bahagia: dipeluk dan dicium anak.

Masih menurut Bernie, wanita memejamkan mata ketika berciuman, karena sadar sedalam-dalamnya kalau keindahan di dalam sini, di dalam hati, jauh lebih meneduhkan dibandingkan dengan keindahan di luar. Saya renungkan dan perhatikan, ternyata benar. Anak saya yang laki laki membuka matanya lebar lebar setiap kali saya cium, sebaliknya anak saya yang perempuan memejamkan matanya setiap kali saya menciumnya. Tiba tiba saya ingat almarhum ibu saya. Setiap kali bertemu dulu, ia selalu merasa risih dan menolak bila saya memeluk dan mencium pipinya. Budaya ini tak ada dalam keluarga kami. Praktis, saya baru bisa menciumnya dengan leluasa tanpa penolakan, di Pasir Talang, Muara Labuh, November 2003, tiga belas tahun lalu. Waktu itu siang hari, udara agak mendung. Saat saya akan menutup badannya dengan kain kafan, saya memeluk dan mencium pipi ibu saya. Sebuah pelukan dan ciuman yang sangat berarti dalam hidup saya. Itulah ciuman pertama dan terakhir untuk ibu saya tercinta yang sangat berkesan dan terkenang sampai sekarang.

Usai membaca buku Bernie yang amat bagus ini, saya sarankan, tak ada salahnya kamu mencoba melakukan dua hal ini. Pertama, cobalah mulai kebiasaan, cium pasangan anda atau anak anda sebelum berangkat kantor, lalu perhatikan benarkah dengan melakukan itu pasangan atau anak kita lebih cepat ingin pulang, lebih mesra dan lebih setia daripada sebelumnya. Kedua, lihatlah mata orang yang anda cium, benarkah laki laki membuka matanya dan perempuan memejamkan matanya ketika dicium karena seperti kata Bernie, bagi perempuan keindahan di dalam hati jauh lebih meneduhkan dibanding keindahan di luar.

Dari penelitian lain diketahui, ciuman dan pelukan dari orang yang kita sayangi akan meningkatkan jumlah hemoglobin di dalam darah. Kita tahu, hemoglobin atau sel darah merah adalah ?media transport? oksigen dalam tubuh, termasuk jantung dan otak. Jika hemoglabin meningkat, suplai oksigen ke semua organ tubuh juga meningkat. Dampaknya luar biasa: otak makin segar, jantung makin kuat, dan sakit pun makin cepat sembuh. Dalam bukunya ?The Hug Therapy?, psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak. Juga menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

Menarik bukan? Sudahkah kamu mencium pasangan, orangtua dan anak-anakmu? Tak perlu malu untuk memulainya. Jika agak malu perlihatkan tulisan ini pada mereka.

Pondok Cabe 30 Januari 2016


  • Rina Latifah
    Rina Latifah
    1 tahun yang lalu.
    Alhamdulillah, setidaknya sudah sy ukir bersama suami dan semoga kelak anak anak juga trimakasih

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Artikel yang amat bermanfaat, makasih Bang Elza karena telah berbagi...^_ Salam kenal, salam hangat...^_

  • Amalia Fathonaty
    Amalia Fathonaty
    1 tahun yang lalu.
    Insipiratif sekali. Ingin juga menerapkan di keluarga saya. Tapi masih bingung bagaimana memulainya, karena saya perempuan sendiri di rumah, ayah dan kedua saudara laki-laki saya juga tipe yang risih jika dipeluk atau dicium

  • Elza Taher
    Elza Taher
    1 tahun yang lalu.
    Makasih pak Denny dan mas Futih atas apresiasinya..

  • Elza Taher
    Elza Taher
    1 tahun yang lalu.
    Makasih pak Denny dan mas Futih atas apresiasinya..