Menumpuk Bara di Atas Kepala Mereka

eltuin parker
Karya eltuin parker Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Mei 2017
Menumpuk Bara di Atas Kepala Mereka

“Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara, alangkah ruginya warga DKI dari sisi kemacetan dan kerugian ekonomi akibat adanya unjuk rasa yang menganggu lalu lintas. Tidaklah tepat saling unjuk rasa dan demo dalam proses yang saya alami saat ini. Saya khawatir banyak pihak yang akan menunggangi jika para relawan berunjuk rasa, apalagi benturan dengan pihak lawan yang tidak suka dengan perjuangan kita.”


Penggalan surat Ahok dari balik tahanan tersebut, menurut saya sangat luar biasa. Dalam kondisi seperti yang dialami Ahok, dibutuhkan keteduhan hati dan kejernian pikiran untuk bisa mengambil keputusan; mencabut rencana banding. Ini sangat di luar dugaan kita.

Mencabut pengajuan banding nampak seperti sebuah kekalahan atau tanda menyerah. Tapi, saya justru melihat ini sebagai tanda perlawanan yang tak lazim. Perlawanan Ahok dengan cara seperti ini mungkin di luar prediksi kita, karena memang tidak seperti biasanya. Perlawanan model seperti ini, merupakan perlawanan tingkat tinggi, yang mungkin hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang saja.

Pihak pro dan kontra tentu awalnya berharap Ahok benar-benar mengajukan banding untuk membuka lagi kasusnya. Pihak yang pro Ahok berharap dengan adanya banding maka pintu kebebasan bisa terbuka. Pihak yang kontra punya harapan yang sebaliknya: dengan Ahok banding, maka tuntutan pidana maksimal akan bisa diterapkan. Kedua belah pihak tentu akan terus mengadakan mobilisasi massa untuk berupaya mencapai tujuan yang diharapkan. Termasuk para pihak lain yang suka menunggangi aksi untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok, seperti yang dikhawatirkan Ahok.

Nah, inilah yang kemudian menjadi salah satu sorotan sekaligus bisa menjadi pertimbangan Ahok untuk tak lagi melanjutkan kasusnya dengan cara banding. Ahok tahu betul bagaimana kerugian yang muncul akibat unjuk rasa, baik dari sisi ekonomi, sosial, politik maupun ancaman keamanan.

Ada yang mengatakan bahwa dengan tidak mengajukan banding, maka secara yuridis Ahok mengakui bahwa ia bersalah. Memang hal ini benar adanya, tapi buat orang yang sudah sering dituduh bersalah seperti Ahok, persepsi bukan lagi hal yang penting baginya. Ia sudah tahan banting dalam berbagai perkara. Ia tahu, banyak orang yang percaya bahwa ia tidak bersalah, termasuk lembaga di luar Indonesia. Ia yakin bahwa ini jalan Tuhan baginya dan bagi bangsa Indonesia, seperti ajakannya dalam suratnya: “mari kita tunjukkan bahwa Tuhan tetap berdaulat dan memegang kendali sejarah setiap bangsa.”

Ada juga pengamat yang mengatakan, Ahok bisa menempuh jalur yang lebih pendek, yaitu peninjauan kembali alias PK. Ini tentu masih punya peluang untuk bebas, tapi juga punya resiko besar bagi Ahok. Tapi, saya belum yakin Ahok akan menempuh jalur tersebut. Saya masih sangat yakin, Ahok akan menjalani masa hukuman selama dua tahun dengan penuh keikhlasan. Ia akan lebih tenang dan lebih punya banyak waktu mempersiapkan dirinya ditempah di sana untuk lebih menunjukkan kualitas emasnya.

Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat dalam suratnya, Ia mengatakan “tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika untuk kebaikan berbangsa dan bernegara,…”. Ia telah ikhlas menerima apa yang terjadi pada dirinya. Ia tahu, kalaupun pada akhirnya bisa bebas atau bahkan hukumannya bertambah dengan jalur banding atau PK, mungkin unjuk rasa akan terjadi lagi. Ia memilih mengorbankan dirinya demi kebaikan bangsa dan negara. Dan inilah yang menurut saya, seorang negarawan sejati--mengorbankan kepentingannya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Lewat langkah yang dipilih Ahok ini, saya menjadi teringat dengan sebuah ayat Alkitab yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang di Roma yang berbunyi “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Ahok belajar mengampuni orang-orang yang membencinya, dan inilah cara Ahok menumpukkan bara di atas kepala mereka, mungkin termasuk di atas kepala Jaksa dan Hakim. Bara itu akan membuat kepala mereka menjadi panas, sementara yang mau dipanaskan justru telah menyatakan “sudah selesai”. Kondisi demikian akan membuat hati menjadi gusar, dan inilah salah satu letak kekuatan “mengampuni”.

Sebuah tulisan yang berjudul “Setegar Karang Veronica Tan”, yang dimuat dalam laman www.timur-angin.com, mengungkapkan “manusia hebat bukanlah manusia yang bisa marah setinggi langit, melainkan manusia yang bisa memaafkan panah-panah yang terlanjur menembus tubuhnya”. Tak salah kalau kemudian Ahok dan keluarganya menjadi manusia yang hebat.

Lewat surat tersebut, Ahok mengajarkan bagaimana ia belajar mengampuni orang lain. Mengampuni tanpa menuntut adalah puncak dari kasih itu sendiri, sekaligus cara perlawanan yang lebih radikal. Ahok juga memberi teladan bagaimana menerapkan ajaran Kristus dalam mencintai bangsa dan negara.

Anda mungkin salah seorang dari sekian banyak orang yang mengagumi Ahok dan keluarganya Jangan hanya sampai pada batas mengagumi. Ikutlah teladannya dan berjuanglah seperti apa yang ia perjuangkan. Tapi, jika Anda adalah orang yang membenci Ahok, cobahlah renungkan dengan baik apa yang sedang terjadi. Sangat sayang kalau mata, telinga, hati & pikiran Anda tidak bisa menikmati kisah menyedihkan sekaligus heroik ini. Jangan menyumbatnya dengan kebencian dan amarah yang terus kamu pupuk, serta jangan justru menumpuk bara di atas kepala kamu sendiri.

  • view 48