Aksi Bela Rakyak 121. Rakyat yang mana?

eltuin parker
Karya eltuin parker Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Januari 2017
Aksi Bela Rakyak 121. Rakyat yang mana?

Aksi Bela Rakyak 121. Rakyat yang mana?

 

Salah satu persoalan yang dihadapi ibu pertiwi adalah anaknya yang terlalu manja dan keenakan menikmati besarnya subsidi Negara, bak lagu nina bobo yang membuat bayi tertidur pulas. Sehingga tidak mengeherankan jika muncul reaksi yang terlalu reaktif saat subsisi diganggu oleh pemerintah meskipun diikuti dengan rencana yang apik.

Kenaikan harga dianggap sebagai neraka bagi rakyat. Sehingga tak sedikit orang termasuk mahasiswa yang gemar turun ke jalan mengganggu rakyat yang sedang berjalan di atas jalanan yang mulus—hasil pembangunan—dengan teriakan “atas nama rakyat”. Mereka sepertinya kepedasan, mengalahkan ibu-ibu di pasar yang histeris dan ngomel saat mendengar informasi tentang kenaikan harga cabai yang melambung tinggi. Padahal cabai bukanlah bahan pokok yang dapat menyengsarakan rakyat jika tidak dikonsumsi.

Naiknya harga bahan bakar minyak tidak bersubsidi sekecil Rp300 direspon secara berlebihan dengan cara turun ke jalan membakar ban bekas, menggunakan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bersubsidi—bensin kelas premium, melakukan aksi teatrikal yang narasinya tidak pernah berubah, membawa topeng dan berbagai atribut wajib acara demonstrasi lainnya.

Kenaikan biaya administrasi STNK juga tak luput dari gelombang protes, padahal nilainya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang sedang dinikmati. Itupun hanya dibayar sekali dalam 5 tahun. Harusnya, mampu beli kendaraan berarti sudah siap dengan biaya-biaya operasionalnya termasuk biaya administrasi.

Itu hanya sepenggal kondisi yang terjadi saat ini. Mahasiswa yang menyebut diri sebagai agan perubahan justru sedang mengidap penyakit neophobia (takut pada hal baru)—termasuk perubahan.

Agen perubahan tidak berarti harus selalu bersebrangan dengan pemerintah. Kritis tidak selalu berarti tidak sejalan dan tidak setuju dengan kebijakan. Ada kalanya, kita justru harus berjalan beriringan dengan para pemegang tongkat komando di negeri ini. Jangan hanya setuju saat semuanya terasa enak, tapi lupa berterima kasih bahkan mencemooh saat kenikmatan itu diusik.

Lalu pernahkah kita berpikir mengapa demikian?

Itu karena kita terlalu lama asyik menikmati besarnya subsidi Negara. Itu memang uang rakyat—yang bayar pajak tentunya. Jadi,kalau kamu saja tidak pernah bayar pajak, tidak usah protes sana sini apalagi sampai mengganggu kami yang sudah nyaman menggunakan jalanan dengan asap ban bekasmu dan spanduk daur ulangmu.

Coba tanya nuranimu atau lihat di buku kuliahmu, benarkah aksimu mewakili rakyat. Lalu, pertanyaannya: “rakyat yang mana”? Ayah ibumu, nenekku atau saudara mereka atau mungkin yang biayai aksi atau siapa? Karena saya yang juga adalah rakyat, tapi tidak merasa terwakili dengan aksimu. Saya dengan nurani dan pikiran yang waras tidak masalah dengan kebijakan yang ada. Saya yakin ini kebijakan ini kelak akan berbuah manis.

Jangan lupa makan sambal pedas nanti di warung yang kamu lewati kalau pulang ke rumah supaya bisa menikmati rasa cabe yang sesungguhnya. Mahal tapi nikmat. []

  • view 136