Masa Kecil dalam Air Hujan

eltuin parker
Karya eltuin parker Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 November 2016
Masa Kecil dalam Air Hujan

Gendang telinga seakan tak mampu menampung bunyi sorak-sorai hujan di atas rumah yang dibalut dengan puluhan atap seng. Ditambah dengan gemuruh halilintar yang seakan ingin memecah kesunyian di sore hari, yang sesekali diikuti dengan cahaya petir di bagian barat kota Makassar. Tak ada yang bisa dikerjakan selain menunggu hujan redah sambil membaca buku ditemani secangkir kopi Toraja yang asapnya masih mengepul dengan aroma yang begitu harum. Tampak beberapa orang di seberang jalan berteduh di bawah sebuah bengkel rusak yang telah ditinggal lama pemiliknya. Terlihat pula beberapa anak jalanan yang dengan riang bermain air di tengah derasnya hujan, beberapa di antaranya bahkan membuka baju untuk menambah semaraknya suasana hujan di sore itu.

Tiba-tiba terbesit dalam pikiranku kenangan masa kecil yang begitu indah dinikmati bersama teman-teman di kampung halaman beberapa tahun yang silam. Mencoba menerawang jauh menembus alam kenangan masa kecil seperti sebuah program google map yang mencari titik koordinat ke suata masa yang telah lampau membuatku tersenyum dan merasa kesepian seolah ingin kembali ke masa lalu. Bermain di musim hujan di saat pulang dari ibadah sekolah minggu membuat kami merasakan bahwa hidup sebagai anak kecil begitu hangat, tidak mengenal sakit. Bersama dengan teman-teman bermain sambil menggembalakan ternak ditemani seonggok cerita hayalan. Hari seakan tak ingin dilepas begitu saja tanpa diisi dengan berbagai macam keceriaan dan canda bersama mereka.

Saat sore kembali hadir, saat burung-burung mulai kembali ke sarangnya, saat ketika bunyi jangkrik dan kodok mulai bersahut-sahutan, aku dan beberapa teman kembali ke rumah untuk bersiap-siap dalam rencana petualangan di malam hari. Dengan persiapan yang matang ditemani sebuah senter ditambah sebuah kotak kecil yang terbuat dari bambu ataupun kotak bekas botol minuman, berjam-jam lamanya kami berpetualang. Menjelajahi sawah sambil mempertajam pendengaran untuk mengetahui titik munculnya bunyi gesekan sayap jangkrik. Dengan kegirangan kami mengumpulkan ke dalam kotak hasil tangkapan malam itu. Puluhan jangkrik dikumpulkan untuk sebuah kesenangan dan sebuah cerita indah di sekolah esok hari. Saat malam semakin larut, lolongan binatang malam mulai terdengar, saat kami mulai merasa lelah, kami kembali ke rumah untuk beristirahat sambil membawa hasil tangkapan malam itu.

Tiba-tiba teringat akan tugas sekolah yang belum dikerjakan, yang akhirnya memaksa aku untuk mencoba membuka buku sekolah untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan rasa yang begitu lelah, tak terasa aku tertidur bersama buku dan tugas yang belum disentuh. Pagi mulai muncul ketika ayam mulai berkokok, ketika matahari mulai menampakkan seberkas cahaya di balik lubang dinding kamar yang terbuat dari papan kayu pinus. Dengan bergegas bangun, langsung teringat pada tugas belum diselesaikan. Dalam waktu yang cukup singkat, dengan memacu kerja otak maka tugas tersebut dapat terselesaikan.

“Nak, ayo siap-siap ke sekolah. Ini sudah jam 7” teriak mama yang telah mempersiapkan sarapan buat kami. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuju kamar mandi. Dengan antri, kami seisi rumah menunggu giliran untuk mandi supaya nantinya dapat sarapan bersama-sama. Tapi, belum habis sarapan yang disiapkan mama, terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku dari balik jendela memanggilku. Dia adalah seorang anak kecil tanpa alas kaki dan mengenakan pakaikan putih merah, sebuah tas ransel yang ukurannya sangat besar seakan-akan lebih besar dari pemiliknya. Rambutnya lurus dengan potongan pendek dan berbadan agak kurus.

Dengan setengah menengok ke balik jendela sambil mencari sumber suara, aku menjawab sembari mengajaknya masuk ke rumah untuk sarapan bersama kami. Dia sahabat kecilku yang adalah sepupuku, yang kami anggap sebagai saudara dalam keluarga kecilku. Hampir tiap saat aku menghabiskan waktu bersamanya berkeliaran dan menjelajah layaknya sang petualang cilik. Namanya Semuel dan kami biasa memanggilnya Sem. Dengan penuh semangat, kami akhirnya berangkat ke sekolah bersama layaknya dua orang saudara yang dilahirkan dari satu rahim yang sama.

“Bagaimana dengan tugas kamu? Sudah selesai?” tukasnya “Sudah selesai. Kalau kamu?” jawabku sambil menepuk pundaknya yang lebih kokoh dari pundakku. Dengan sedikit agak ragu dia menjawab, “sudah, tapi mungkin salah”. “Tenang saja, nanti aku bantu kamu mengerjakannya”, jawabku sambil tersenyum dengan penuh semangat sekaligus mengajaknya untuk bersemangat di pagi itu.

Dengan penuh canda, sambil bercerita soal pengalaman tadi malam dan rencana petualangan hari ini, kami menyusuri jalan setapak menuju sekolah yang jaraknya kurang dari 1 kilo meter. Tak terasa, kami sudah tiba di pintu gerbang sekolah. Tampak teman-teman sedang bermain kejar-kejaran mengisi waktu kosong sambil menunggu bel berbunyi.

Teng… Teng….. Teng….. Bunyi bel sekolah yang sudah mulai lusuh, yang terbuat dari sepotong besi bundar, bekas peralatan mobil. Dengan sedikit tenaga, kami mencoba berlari kecil menuju ruang kelas untuk menyimpan tas sekolah.

Hari itu, hari Senin. Para murid sekolah mulai berjajar di lapangan yang agak berlumpur, dipandu oleh beberapa muridmengatur barisan sebagai awal persiapan upacara bendera. Tak ketinggalan para guru dan murid yang akan mengambil bagian dalam upacara tersebut mulai membentuk barisan yang rapi. Setelah berusaha mengumpulkan nafas, kami bergabung dengan teman-teman yang telah menunggu di lapangan.

Upacara dimulai dengan hikmat tanpa hambatan yang berarti. Semangat nasionalisme bocah-bocah kecil di sebuah sekolah dasar tersebut sangat nampak kelihatan, terlebih saat-saat berdera merah putih yang warnanya mulai pucat berkibar menuju ujung sebuah tiang yang terbuat dari bambu yang panjang, dengan iringan lagu Indonesia Raya. Dengan gagah berani, sang merah putih melambaikan semangatnya diterpa angin seakan-akan ingin berkata, “hai anak-anak kecil, jagalah aku”.

Berselang beberapa menit setelah sang merah putih mulai berkibar, setelah menyanyikan lagu Hening Cipta, akhirnya tibalah saat bagi pembina upacara untuk menyampaikan wejangan serta nasihat dan beberapa pengumuman. Dengan suara sedikit serak, seorang laki-laki yang mulai nampak tua memulai pembicaraan. Beliau adalah seorang kepala seorang kepala sekolah yang telah mengabdikan diri mengajar dan mencurahkan waktu selama puluhan tahun, membangun sekolah yang sangat kami cintai. Beliau adalah salah satu guru yang sangat kami sayangi. Perawakannya seperti seorang bekas tentara masa penjajahan. Pengetahuannya tentang sejarah tak diragukan. Beliau bernama Benyamin dengan panggilan akrab Pak Nyamin.

“Selamat pagi anak-anakku yang sangat kami kasihi. Selamat pagi bapak dan ibu guru yang saya hormati. Puji syukur kita patut panjatkan kepada Tuhan karena telah memimpin kita hingga kita dapat berkumpul lagi di hari ini. Senang rasa dapat bertemu dengan kalian semua” kata pak Nyamin membuka pembicaraan. “Minggu depan akan ada pemeriksaan kebersihan sekolah dari kecamatan sebagai persiapan menyambut perayaan HUT RI. Karena itu, saya mengajak kepada semua untuk memperhatikan kebersihan dan membenahi sekolah ini. Hari Jumat nanti, semua siswa membawa alat-alat untuk mengadakan kerja bakti. Selanjutnya, persediaan kayu bakar di dapur telah habis. Jadi, besok pagi, siswa kelas tiga hingga enam membawa kayu bakar masing-masing satu ikat”. kata kepala sekolah sambil sesekali batuk-batuk kecil..

Di sekolah kami memang tengah dilaksanakan program pemberian makan tambahan bagi anak sekolah. Program yang dicanangkan oleh pemerintah tersebut, telah berjalan hampir dua tahun. Sebuah program primadona pemerintah yang sangat disukai anak-anak. Berbagai wejangan dan nasihat disampaikan beliau hingga jarum jam di depan kantor sekolah menunjukkan pukul 08.03, yang kemudian diakhiri dengan sebuah senyuman yang begitu menyejukkan. Akhirnya upacara pada hari itu ditutup dengan sebuah lagu kebangsaan yang berjudul Garuda Pancasila.

Selepas upacara, pelajaran tidak langsung dimulai. Terlihat berapa guru dan pegawai sekolah masih sibuk menyiapkan perlengkapan pembelajaran. Sambil menunggu guru, kami memulai hari itu dengan sebuah doa dalam agama Kristen yang dipimpin oleh salah satu murid dalam kelas kami. Dia adalah seorang gadis kecil dengan rambut ikal yang panjangnya sebahu, dengan warna kulit sawo matang, berasal dari keluarga terpandang di desaku, seorang keturunan bangsawan.Tapi, bagi kami sebagai murid sekolah dasar, belum mengerti akan hal tersebut. Belum mengerti soal perbedaan strata, yang membuat kami tidak membedakan satu sama lain dalam pertemanan.

“Selamat pagi anak-anak”. Tiba-tiba terdengar suara seorang ibu guru dengan dialek kental khas bahasa Toraja. Beliau seorang wanita yang umurnya sekitar 35 tahun, dengan rambut sepinggang yang digulung dan dijepit dengan sebuah penjepit rambut warna putih. Beliau tiap hari mengajarkan kami banyak hal, mulai dari ilmu pengetahuan hingga budi pekerti, mulai dari pelajaran bahasa daerah hingga bahasa asing. Namanya Elisabet, tapi kami biasa memanggilnya ibu Elis. Meskipun tidak seperti komedian pada umumnya, ibu guru kami ini punya selera humor yang cukup untuk menjadi penyejuk suasana ketegangan sekaligus peredam kebiasaanya yang cerewet. Hingga umur tersebut, beliau belum menikah dan mungkin itu salah satu alasan yang membuatnya cerewet. Tapi, ibu Elis adalah seorang guru yang baik hati dan sering membantu anak-anak muridnya yang mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah.

Dengan sesekali mengomel, pelajaran pada paruh pertama jam pelajaran akhirnya berakhir dengan ditandai bunyi bel sekolah yang dipukul oleh penjaga sekolah dengan sebuah batangan besi bekas sisa bangunan. Karena tidak sabar lagi ingin bermain, seluruh siswa di masing-masing kelas berhamburan ke luar kelas untuk segera memulai permainan bola kasti yang lagi marak pada masa itu. Separuh waktu istirahat kami pakai untuk menyelesaikan tugas, sekaligus menepati janjiku pada hari itu, dan separuhnya kami pakai untuk bermain bersama teman-teman.

Tak berselang lama, saat permainan semakin seru, bunyi bel berbunyi sebagai pertanda pelajaran kedua akan segera dimulai. Dengan pakaian tampak lusuh dan mulai kotor, para siswa akhirnya kembali ke dalam kelas dengan bau keringat yang masih menyengat. Pelajaran berlanjut hingga akhirnya waktu sekolah pada hari itu berakhir dan ditutup dengan sebuah lagu bernuansa Kristiani dan doa yang dipimpin oleh Markus, seorang anak kecil berkulit agak hitam, dengan cukuran rambut layaknya seorang polisi. Awan mulai gelap, pertanda hujan mulai turun. Kami pun mulai bergegas kembali ke rumah.

Saat tiba di depan rumah, hujan rintik-rintik mulai turun, yang akhirnya membuat Sem singgah di rumahku berteduh, sekaligus memenuhi ajakanku untuk mengajaknya makan siang di rumahku. Sambil makan siang, berbagai cerita muncul. Meskipun menurut kata orang tua, seorang yang makan tidak boleh sambil bercerita, tapi dengan jiwa dan pikiran masa kecil membuat kami terkadang tidak terlalu peduli akan hal itu.

Mengurus jangkrik adalah kegiatan selanjutnya yang paling menyenangkan, sehabis makan siang pada saat itu. “Besok, kamu tidak usah bawa kayu bakar. Nanti saya yang bawakan”. Sem menutup pembicaraan pada saat itu sambil berpamitan pulang karena hujan mulai redah. Dengan berbekal sebuah daun pisang sebagai pengganti payung, dia akhirnya pulang menyusuri jalan setapak yang becek menuju rumahnya yang cukup jauh di atas bukit.

Tak terasa malam mulai hadir kembali. Tampak beberapa kunang-kunang beterbangan membawa sebuah sinar di tubuhnya yang membuat anak-anak kecil di desa tempat tinggalku suka mengambilnya dan meletakannya di kening. Kamipun sekeluarga berkumpul untuk makan malam bersama, yang selanjutnya bercerita dan mendengarkan dogeng dari ayah pada malam itu. Dengan ditemani lampu dinding seadanya, dengan iringan bunyi kodok dan jangkrik, kamipun melewati mimpi malam dengan penuh kebahagian.

“Hei, jangan melamun”, tiba-tiba terdengar suara dari seorang teman yang lewat di depan rumah, yang akhirnya membuatku berhenti menerawang masa kecilku. Dengan penuh senyum kepadanya, akhirnya saya menghabiskan kopi yang sudah dingin di gelas dan langsung masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan bacaan yang tadi tertunda. Sementara hujan masih terus berlanjut, hingga malam berganti pagi.

  • view 639