Haru Biru Hari Guru

eltuin parker
Karya eltuin parker Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 November 2016
Haru Biru Hari Guru

“Seandainya baru sekarang saya dipanggil menjadi guru, mungkin saya sudah tidak bersedia Nak. Karena saat ini para guru berada di persimpangan jalan antara pendidikan dan persoalan hukum. Kami dengan begitu susah payah mengupayakan anak-anak Indonesia menjadi manusia yang pintar, bermoral & punya akhlak yang baik, tapi mereka sepertinya sudah tidak mau dididik. Mereka dibimbing lewat teguran, kami justru bisa berhadapan dengan pukulan orang tua murid atau meringkuk di balik penjara. Guru yang awalnya berfokus pada memanusiakan manusia lewat pendidikan, justru sekarang harus berjalan dalam bayang-bayang pidana. Saya sangat bersyukur pada Tuhan,karena  jika Tuhan memberi kesehatan yang baik dan umur yang panjang, tahun depan saya sudah pensiun. Di sinilah sawah kita (merujuk ke otak, sambil menunjukkan kepalanya). ‘Sawah’ ini tidak akan pernah jadi sengketa bagi keluarga seperti sawah kebanyakan, termasuk bagi kakak dan adikmu. Kalian telah punya ‘sawah’ masing-masing, sekarang saatnya digarap dengan baik. Kita bisa saja miskin harta Nak, tapi tidak berarti miskin ilmu dan karya. Na Puang Matua mora umpapatui tu melona. Matuttko melada’ sia birisanko mengkarang mane(1), kata bapak saya Drs. L. Palinggi’, yang adalah seorang guru matematika di SMA 1 Sangalla’ saat saya balik ke Toraja beberapa waktu yang lalu sambil minum teh di teras rumah.

Hari ini, 25 November, hari yang diperingati sebagai hari guru. Sudah tak terhitung berapa banyak guru di Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya untuk memandu bangsa ini keluar dari kelamnya kehidupan dalam bayang-bayang kebodohan dan kemiskinan. Negeri ini tidak punya alasan untuk tidak menempatkan para guru pada tempat yang semestinya. Bait lirik lagu “Jasamu Guru” di bawah ini memperlihatkan secara gamblang bagaimana guru menuntun anak-anak bangsa menuju pencapaian yang luar biasa di segala bidang ilmu.

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa 

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa

Kita jadi pintar dibimbing pak guru

Kita bisa pandai dibimbing bu guru

Gurulah pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

Gurulah pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

 

Guru tidak hanya jadi pelita dalam gulita, tetapi guru juga adalah patriot pahlawan bangsa. Kepahlawan mereka dilukiskan dalam lirik “Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” versi lama karangan Sartono tahun 1980-an—sebelum diubah pada pada tahun 2007.

 Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

 Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa (insan cendekia).

Guratan pena dan siulan Sartono ini membawaku kembali pada ingatan bagaimana guru telah menempah dan menuntun saya melewati jalan-jalan yang sulit menuju pada pengetahuan, menerobos masa suram dalam belenggu ketidak tahuan serta membantu saya membelah belantara pendidikan. Mereka telah memberikan banyak hal untuk memimpin saya dari sekolah dasar hingga menjadi lulusan farmasi seperti saat ini.

Saat ini terlalu banyak orang melupakan jasa guru-gurunya. Saat ini banyak orang tua yang menyalahkan guru saat anaknya nakal atau tidak kunjung pintar, tetapi mereka lupa saat anak-anaknya telah pintar dan berhasil. Saat ini beban pendidikan, pengajaran keilmuan, etika dan moral dibebankan terlalu berlebihan pada pundak para guru. Saat ini pula terlalu banyak guru yang dibenturkan dengan persoalan. Ini sungguh sangat memprihatinkan. Tapi bagi saya, guru adalah pahlawan luar biasa dalam perjalanan hidup anak bangsa.  

Bapak saya yang juga seorang guru sekolah formal adalah guru luar biasa yang special bagiku. Beliau tidak hanya mengajar saya ilmu matematika dan fisika, tetapi beliau mengajarkan lebih dari apa yang saya bisa dapatkan di bangku sekolah. Beliau mengajari saya terlalu banyak hal diantaranya cara berjumpa dengan Tuhan, cara menghadapi hidup, menempatkan diri dalam perkumpulan, bagaimana menghadapi keberagaman, bagaimana memandang keluarga, bagaimana beretika dan cara memaafkan orang-orang yang sering mengejek kehidupan keluarga kami. Pengajaran dan didikannyalah yang kemudian mempengaruhi cara saya menjalani hidup seperti saat ini.

Selamat hari guru bagi seluruh guru di Indonesia. Terima kasih atas dedikasi dan tuntunanmu. Kami telah mengukir baktimu di dalam hati kami semua, anak-anak Indonesia. Kami siap menjaga pelita yang pernah engkau berikan. #banggajadianakguru

(1) Na Puang Matua mora umpapatui tu melona. Matuttko melada’ sia birisanko mengkarang mane (bahasa Toraja), artinya nanti Tuhan yang menunjukkan yang terbaik. Rajinlah belajar dan tekunlah bekerja.

  • view 193