Berhentilah Menjajah Liturgi Natal

eltuin parker
Karya eltuin parker Kategori Agama
dipublikasikan 29 November 2016
Berhentilah Menjajah Liturgi Natal

 

Come, thou long expected Jesus,

born to set thy people free;

from our fears and sins release us,

let us find our rest in thee.

Israel's strength and consolation,

hope of all the earth thou art;

dear desire of every nation,

joy of every longing heart.

Kau yang lama dinantikan, Juru s’lamat, datanglah,

agar kami Kau sucikan dari dosa dan cela!

UmatMu tetap Kau tuntun, Kau Harapan kami pun!

Bangsa dunia menunggu penghiburan kasihMu.

 

 Lagu Kidung Jemaat 76 “Kau yang Lama Dinantikan” karangan Charles Wesley pada tahun 1744 yang memiliki judul asli “Come, Thou Long Expected Jesus” ini adalah lagu bernuansa natal yang sangat saya sukai. Lagu ini telah susah payah dialih bahasakan oleh H. A. Pendopo tahun 1981, yang kemudian dimasukkan dalam sebuah kumpulan lagu terbitan Yamuger bernama Kidung Jemaat.

Lagu yang awalnya berbahasa Inggris ini bisa saya pahami dan maknai dengan baik waktu saya masih kecil karena buah dari perjuangan Pendopo mengubahnya ke dalam bahasa Indonesia. Seandainya Pendopo tidak menerjemahkan lagu ini ke dalam bahasa Indonesia, mungkin saya hanya mampu mendengarkan lagu ini dinyayikan dalam bahasa Inggris tanpa mengerti maknanya. Karena itu, alangkah aneh dan lucunya jika saat ini liturgi kita (orang Indonesia)—termasuk liturgi natal—justru dijajah oleh lagu atau kalimat berbahasa Inggris (Eropa). Anehnya lagi, dalam gereja-gereja dan lembaga pelayanan Kristen lainnya di Indonesia, praktek-praktek demikian justru dianggap sebagai sesuatu yang keren karena mengandung bahasa asing.

Kini, lagu bahasa Indonesia yang telah dibukukan dengan apik dianggap ketinggalan zaman dan mulai kehilangan pamor dengan lagu berbahasa Inggris. Alhasil, anak-anak Indonesia, termasuk anak-anak Toraja ‘Pia Toraya’ di kota lebih bangga menyanyikan dan mendengarkan lagu “Silent Night” versi Celin Dion dibandingkan lagu yang sama dalam bahasa Indonesia dan Toraja. “Malam Kudus” Bahasa Indonesia kalah tenar di negerinya sendiri dengan lagu “Silent Night” gaya modern.

Dari tahun ke tahun, liturgi perayaan natal semakin kreatif. Rasa-rasanya liturgi yang saya alami di masa kecil dulu sudah sirna. Orang-orang perlahan mulai meninggalkan budaya dan tradisi natalnya yang lama. Bahkan tak sedikit orang yang datang ke perayaan natal hanya untuk melihat wajah dekorasi, atau membandingkan bahkan mencangkok liturgi natal yang berujung pada kompetisi liturgi natal. Bahkan muncul anggapan baru bahwa natal disebut kreatif jika semakin jauh dari konsep konvensional yang selama ini dipakai. Lagu-lagu natal yang dulu kami nyanyikan waktu kecil tergeser oleh munculnya lagu-lagu berbau natal yang belum tentu sesuai dengan konteks budaya dan tradisi di mana gereja itu berada.

Saya pun berkeyakinan bahwa Kristus yang kita peringati kehadiran-Nya dalam rupa manusia bernama Yesus, rindu menjumpai kita dalam budaya masing-masing, seperti malaikat menjumpai para gembala di padang. Allah yang berada di tempat Maha Tinggi dan Maha Kudus punya harapan bisa menilik kita dalam keadaan selayaknya anak-anak asli Indonesia, yang bernyanyi dalam bahasa Indonesia, atau anak Toraja yang mendendangkan lagu “Makarorrong, Bongi Maindan”, atau warga Makassar yang melantunkan lagu “Bangngi Lebang” 

Allah pasti dengan sengaja membuat kita berbeda dengan orang Eropa supaya kita bisa menjumpai-Nya dan dijumpai-Nya dalam konteks budaya kita sendiri. Biarkanlah orang Eropa menyambut natal dengan caranya sendiri, karena memang seperti demikianlah budaya mereka. Biarlah kita tampil dalam balutan kebudayaan Indonesia (Toraja) untuk memperingati kelahiran Sang Bayi kudus dari Betlehem. Persembahkanlah apa yang kita punya dengan tata cara kita sendiri—orang Toraja—seperti orang-orang majus dari Persia mempersembahkan emas, kemenyan dan mur. 

Saya menuliskan ini bukan berarti saya anti pada perubahan atau anti pada Eropa, karena justru dari merekalah kita mengenal Injil. Tetapi ini untuk mengajak kita merenungkan, sejauh mana kita mensyukuri pemberian Allah dalam rupa budaya dan tradisi. Seberapa dalam kita telah “menggali dan memperjumpakan” budaya dengan Sang Pencipta. 

Berhentilah menjajah liturgi dengan liturgi gaya Eropa, karena nampaknya gaya itu kurang cocok di lidah kita sebagai orang Indonesia. Ayo kembali kepada tempurung budaya kita masing-masing. Sang Raja Damai itu merindukan dan memanggil kita datang kepada-Nya sebagai orang Indonesia. []

  • view 194