Srikandi Aceh

Ali Rabbani
Karya Ali Rabbani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 November 2016
Srikandi Aceh

Cut Nyak Din adalah srikandi Aceh yang tidak akan pernah hilang dalam lembaran sejarah bangsa kita. Ia adalah pahlawan nasional Indonesia yang tangguh membela tanah air. Kehadirannya merupakan wujud nyata perjuangan yang tidak pernah mati walau rintangan datang silih berganti. Kisahnya menggetarkan jiwa-jiwa pembaca. Semangatnya menyalakan lilin-lilin harapan bangsa Indonesia untuk bangkit dan mengejar ketertinggalan, untuk terbang melampaui batas kemajuan. Cut Nyak Din adalah salahsatu primadona Indonesia yang tetap berpenampilan sederhana dengan ide-ide dan semangat perjuangannya yang luar biasa. Perangainya seakan menampar keras para bangsawan dan elit politik Indonesia zaman kini yang hanya mementingkan penampilan dan nafsu makan, tapi tak pedulikan rakyat pinggir jalan.

Seolah-olah Cut Nyak Din ingin menyampaikan pesan bahwa kehormatan tak pernah bisa dibeli oleh materi, direndahkan oleh setumpuk uang dalam lemari. Kehormatan tak pernah bisa dibeli. Ia adalah manifestasi perilaku individu yang baik dan dengan kontinuitas yang bagus. Cut Nyak Din telah menjadikan kehormatan agama, tanah air dan dirinya sendiri sebagai pegangan yang takkan pernah ia lepas walau nyawa dalam raga hampir terlepas. Nilai yang selalu ia junjung tinggi dan ia ikat dengan simpul mati. Konsisten dan permanen. Bersembunyi dalam rimba yang liar bukanlah hal yang mudah serupa menjulurkan lidah. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari keganasan musuh bukanlah suatu hal yang ecek-ecek layaknya naik getek. Ditinggal mati dua suami tercinta bukan hal yang ringan untuk lalu dapat dilupakan dalam hitungan bulan. Tetapi Cut Nyak Din, dengan segala hambatan yang diperolehnya, ia jadikan amunisi kekuatan untuk meyakinkan dan terus meyakinkan jiwanya. Bahwa buah manis perjuangan, jikalau tidak Tuhan berikan di bumi, maka akan Ia persembahkan di akhirat nanti. Untuk kehidupan yang kekal abadi.

 

 

Ali Rabbani

Depok,  7 November 2016 Masehi

 

  • view 243