“Kemana Pergi Ramadhani, Ma?”

Ali Rabbani
Karya Ali Rabbani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 Juli 2016
“Kemana Pergi Ramadhani, Ma?”

Setiap yang kehilangan, maka ia akan mencari. Tetapi di mana engkau sembunyi, Ramadhani? Tak kutemui engkau di balik meja, di dalam kamar mama. Juga tidak di dalam lemari atau kolong tempat tidur sendiri. Lalu aku capek dan rindu. Juga gusar. Jantungku berdegup kencang pertanda apa namanya aku tidak peduli. Kemana pergi Ramadhani, Ma? Mama tidak menjawab, dia sibuk dengan ketupat yang sedang ia potong rapi-rapi. Atau mungkin, dia bingung, siapa Ramadhani yang kumaksud. Lalu aku bertanya pada adik.  Oh, dia sama sekali tak terusik. Asik menghitung uang dengan kepala telanjang sedang hati diselimuti rasa senang.

Lalu pintu depan diketuk orang. Siapa itu aku tidak tahu sebab dia tidak mengetuk pintu sambil bilang siapa nama, tempat tinggal dan nomor telepon. Lalu bergegas aku ke depan, siapa tahu sang tamu adalah Ramadhani yang berbalik pikiran untuk tidak jadi pergi dan ingin bersamaku lagi.

Tetapi bukan. Dia bukan Ramadhani yang kucari. Aku hendak metutup pintu rumahku untuknya tetapi apa? Dia lebih sigap untuk lalu memegang tanganku. Apa-apaan aku juga tidak tahu. Dengan segenap mental lelaki yang kupunya, aku beranikan diri menatap matanya. Hei! Pandangannya sejuk seperti angin sore. Tangannya lembut bagai sutra mama. Lalu, dengan disponsori mentari yang baru saja tiba, dia berbisik mesra.

“Aku Fitri”

“Aku enggak nanya.” Jawabku. Tapi di dalam hati.

Dan belum sempat aku bertanya, dia, dengan tanpa berkata-kata, memelukku sehangat mentari menyapa. Entah kenapa aku menjadi tenang. Seakan gelisahku menguap bersama hangat pelukan Fitri. Lalu, hendak aku berkata, sambil menatapnya setengah bola mata.

Fitri, kemana pergi Ramadhani? Akankah ia kembali lagi?

Tetapi Fitri tidak menjawab. Bukan karena dia bisu seketika, kukira. Tetapi itu adalah  pilihannya untuk lalu tersenyum. Pilihan yang tepat jika ia memang bermaksud untuk membuat aku terpesona. Kamu bisa mendapatkannya jika mau bersusah payah ke tempatku ini. Mendapatkan senyumannya yang menenangkan. Tiba-tiba bunga-bunga mama melayang bertebaran. Tetapi hanya dalam imajinasi. Pada kenyataannya bunga-bunga mama tetap pada tempatnya. Tetapi tidak penting, oh kini aku dalam situasi genting! Aku tidak mau nanti tertangkap basah oleh Ramadhani yang mungkin saja kini sedang di jalan untuk mau kembali menemuiku lagi. Lalu cepat mulutku berkata, bertanya padanya sekali lagi.

Fitri, kemana pergi Ramadhani? Akankah ia kembali lagi?

Mulutnya terbuka sedikit. Tetapi tidak untuk lalu berkata-kata cukup. Hei! Ia malah mengecupku lembut. Lagi-lagi aku bingung, tetapi sekaligus juga tegang. Hingga di saat yang ia rasa tepat, dia berkata untuk mengatasi ingin tahuku. Ia berkata, dengan suara yang hanya mampu di dengar oleh telinga, tentu saja. Ia berkata, mulutnya dekat sekali dengan telingaku. Oh, dia berbisik! Lembut bagai apa aku tahu.

Tenang. Maka engkau harus tenang. Ramadhani adalah dia yang menyuruhku untuk menemuimu. Dia tahu kepada siapa harus percaya. Maka dia menyuruhku untuk menyampaikan ini padamu. Juga mengantarkan peluk dan kecupnya untukmu. Sebab dia tahu, engkau pasti akan gelisah karena kehilangan. Tetapi apa? Tetapi percayalah, jika kau sangat ingin dia kembali lagi, kau hanya perlu berdoa, diiringi sabar dan janji. Janji untuk dapat berbuat yang terbaik tidak hanya ketika dia datang, tetapi juga ketika dirinya pergi. Dan untuk sekarang, tersenyumlah, sebab kini adalah waktunya untukmu merayakannya bersama keluarga besar. Bukan merayakan kepergiannya, tetapi merayakan keberhasilanmu telah menjamu Ramadhani setulus dan semampumu. Dan untuk sekarang, tersenyumlah, sebab Mama telah menunggumu dengan angpau yang kau mau.

Setelah berkata-kata dengan penuh pesona, Fitri melepas pelukannya. Jemarinya satu persatu menjauh dari genggaman. Lalu ia tersenyum. Senyum perpisahan yang manis dan bebas diabetes.

Fitri pergi bersama ketupat mama yang habis disantap bersama. Wangi tubuhnya perlahan hilang tergantikan wangi aroma cokelat nikmat yang sedang kulumat. Hangat bisiknya perlahan pergi dari ingatan, tergantikan gema takbir sana sini yang silih bersahutan.

Tetapi aku lebih merasa kehilangan ketika Ramadhani pergi tanpa permisi. Oh, andaikan kau datang kembali. Lalu aku ingat kalau itu adalah salah satu lirik lagu.

Demi uang angpau yang kini sedang kuhitung, kembalilah Ramadhani, untuk agar dapat aku nikmati hari-hari bersamamu lagi. Aku rindu bangun dini hari untuk penuhi undangan sarapan bersama. Juga rindu senja. Saat engkau memelukku manja bersama hidangan enak di atas meja. Rindu juga aku pada malam-malam kita berdua. Bercumbu mesra, berpuisi doa. Salam rindu dariku, Ramadhani! Semoga kau mau menemuiku lagi.

Lalu aku ingat pesan Fitri, untuk lalu aku bersenang kembali. Bersama kue, ketupat mama, angpau untuk beli bakpau, senyum nenek yang sudah ompong, hangat  keluarga, salam-salam tempel, juga kentut adik di tengah riuh suara takbir. Hmm, sempat-sempatnya!

 

Bandung, 6 Juli 2016 dan Idul Fitri.

Ali Rabbani

 

 

 

*Pssst, gambar dicuri dari sini


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    yang berlalu tak harus dicari lagi.
    tanyakan saja apa yang sudah kita perbuat untuknya selama sebulan.
    dan seperti pintamu, juga pinta kamisemua, semoga Ramadhani berkenan menemui kita kembali tahun depan.

    mohon maaf lahir batin

    • Lihat 8 Respon