Permisi, Numpang Cari Inspirasi

Aliyul Murtadlo
Karya Aliyul Murtadlo Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Desember 2016
Permisi, Numpang Cari Inspirasi

"Assalamu 'alaikum"

"wa alaikumussalam"

"Apakah benar, ini rumah inspirasi?"

"Benar, silahkan masuk, mas?" 

Sekilas aku melihat rumah ini, tidak ada yang istimewa. Serba sederhana, tidak ada kemewahan. Alas rumah terbuat dari keramik standar, tembok pudar berwarna krem menunjukkan rumah ini sudah lama tidak dicat ulang. Itu pun hanya setengah badan. Kusen-kusen jendela terlihat lapuk dimakan air. Iya, ini rumah lama. Bahkan, lampu jawa kuno masih gumantung  di blandar rumah. Sungguh sederhana. 

Sembari melihat sederhanaan rumah, tiba-tiba suara sepeda motor memecahkan perhatianku. Terlihat anak muda bercelana abu-abu berboncengan. Tampak asyik, senang, gembira. Saling bercanda, menurutku kurang pas mereka bercanda di atas  sepeda motor. Tapi aku turut bahagia, senyum mereka menandakan bahagianya mereka belajar. Menuntut ilmu merupakan keharusan di jaman modern ini. Apalagi di sekolah formal. Berduyun-duyun masyarakat menyekolahkan anaknya di lembaga formal. Alhamdulillah, ada kebanggaan tersendiri. Meski miris dengan lembaga pesantren yang berangsur ditinggalkan masyarakat.

"mas, diminum dulu"

"iya bu, terima kasih"

Pandanganku teralihkan oleh ibu paruh baya itu. Langkah kakinya mengarahkanku kepada lelaki berbaju coklat dan celana coklat yang baru saja masuk rumah. Tebakan anda benar, dia adalah abdi negara. Entah sudah diupah atau tidak oleh negara, setahuku masih belum. Perjuangannya panjang. Empat tahun terakhir dia menjadi abdi negara bayangan, hasilnya tidak seindah yang diharapkan. Bukan, maksudku belum menemukan keindahannya. 

Berkat belum menemukan keindahannya itulah, dia menjadi pria yang kuat. Tidak banyak mengharapkan balasan bagi negara, baginya mengabdi pada negara adalah pelayanan. Bahasa Arabnya "ibadah". Terima kasihnya terhadap negara yang melindunginya dari rasa cemas, meski rasa cemas terhadap lumbung di dapur pun belum terjamin. Tanggung jawab sosialnya pula, yang merelakan diri bergelut dengan anak-anak kecil hingga remaja. Kadang, dia amat marah terhadap murid karena kebandelannya. Ingin sekali diberi pendidikan tegas dan keras, sekeras kehidupan nyata. Tapi ia tidak tega, atau tidak mau berurusan dengan hakim yang tutup mata.

Berkat belum menemukan keindahannya itulah, dia menjadi pria yang kuat. Dia mampu menciptakan usaha untuk mencukupi kehidupannya. Bagi saya itu unik, dia dapat menciptakan produk yang unik. Dia menjadi alasanku untuk tetap mengabdi, tanpa mengganggu kebutuhan ekonomi. Dia tetap berkarya, meski tidak banyak waktu tersisa. Dia inspirasiku hari ini.

Saat kutanya apa resepnya. Dia mengatakan,

"dipaksa"

"Sampun pak, ajeng pamit rumiyen"

"enggeh, monggo mas"

"Assalamu alaikum"

"wa alaikumussalam"

  • view 145