Senja dan Kehilangan

Ellynda Permasita
Karya Ellynda Permasita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2016
Senja dan Kehilangan

Benar bahwa pada setiap pertemuan, terkandung janin perpisahan.
Karena sejatinya, diri kita pun adalah sebuah kesementaraan.
Namun sedikit sekali yang mengerti tentang keniscayaan ini.
Lebih sedikit lagi yang paham.
Mungkin aku termasuk kedalam golongan yang tidak sedikit itu.
Tapi, semoga aku segera menjadi tahu, dan paham, setelah menggores percakapanku dengan senja, beberapa tahun lalu.

Mengapa aku selalu jatuh cinta berulang kali pada sang jingga?
Kau tahu? Ia menghangatkan, bahkan disaat dirinya kehilangan.
Ia indah, meski menggantung dan sebentar.

Senja adalah potret kehilangan paling pilu.
Prosesi perpisahan paling haru.
Bagaimana mungkin ia harus menyerahkan bumi pada malam.
Tanpa tahu, akankah esok dipertemukan.

Tapi senja teramat mengerti soal hukum pertemuan-perpisahan ini.
Bahwa dengan pergi dan kehilanganlah, dirinya menjadi indah.
Bahwa dalam prosesi perpisahanlah, ia di nanti banyak mata.

Dari sanalah aku berangkat, bergerak meninggalkan ruang pengap yang ku huni sekian lama.
Dari sanalah aku memulai, menggugurkan segala bentuk sesak dan amarah.
Mencairkan segala luka, melepas segala sesak.
Aku ikhlas.

Jika dengan kehilangan dapat menjadikan semuanya lebih indah,
Jika dengan perpisahan dapat menjadikan semuanya lebih mudah,
Aku rela menjadi senja selamanya.

  • view 217