Moersidin

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2017
Moersidin

Moersidin

 

Memar sejarah telah melukai hidup manusia. Sekelebat ingatan yang tidak akan pernah usang meskipun sudah demensia. Episode yang tidak bisa dihapuskan meskipun ingin sekali. Sebongkah cerita pahit yang harus dirasa demi menjalani tugas insan di dunia yang disebut “hidup”.

+++

 

Moersidin, mantan tentara Heiho.

Ya, dia bukan tentara pembela negara ini untuk mencapai merdeka.

Dia menjadi tentara pembantu Jepang, pasukan Heiho kaum Nippon.
Masih hidup dan sedang diabaikan karena dulunya "bukan pejuang" 


Bisa apa? 
Dulu terpaksa bekerja untuk sekutu demi tetap hidup.
Sekarang?, Ah, jangan ditanya, dia bukan pejuang kok, ngapain dibantu?

Mending tutup mata saja, pura-pura tidak melihat.

Sejarah sudah menjadi luka.

Tidak perlu dilihat, tutup mata saja! -kalian- Begitu yang disebut menjaga NKRI.

 

 

Kakinya tinggal satu, harus diamputasi karena perang.

Harus 8 kali kena gergaji pasukan Jepang tanpa dibius.

Kalau bisa tahan ya hidup, kalau tidak.  ya, wafat.

Sampai sekarang masih kerap nyut-nyut.

 

 

Saya (seperti bisa menjalankan tugas pekerjaan saya) harus berbicara padanya. Dengan modal selembar kertas beserta pena. Sebab dia sudah tidak lagi bisa mendengar sejak setahun terakhir. Cara saya berkomunikasi hanya bisa dengan menulisnya saja.

 

Usia sudah membuat dia tak mampu lagi mendengar lirih suara saya yang cempreng.

 

"Apa pendapat Anda tentang Indonesia?" tulis saya.


Dia mengeja, I-N-D-O-N-E-S-I-A "Hahahaa.. saya tidak tahu Indonesia," katanya.

 

"Ada pesan untuk anak muda jaman sekarang?" tulis saya kembali.


Kakek tua kelahiran 1922 itu mengeja kembali, "Tidak tahu, dulu saya tidak sempat belajar" jawabnya lagi.

 

"Coba nyanyi lagu Jepang," tulis saya kembali


Dia pun tertawa sambil mulai bernyanyi. 2 lagu dengan suara serak dan lirihnya.

 

"Ceritakan tentang jaman Jepang" tulis saya lagi.


"Terlalu panjang jika saya menceritakannya. Saya tidak bisa apa-apa." ujarnya sambil tertawa-tawa memandang wajah saya yang manis ini.

 

+++

 

GORESAN ingatan masih berkelebat, rekaman lagu-lagu Jepang masih dihafal, begitu pula dengan luka yang ditinggalkan.  Moersidin, potret hidup kala Indonesia belum merdeka.

Pilihan adalah tawaran takdir. Dia, pria muda kala itu, harus memilih mati atau tunduk pada sekutu.  Saat rakyat Indonesia lainnya memperjuangkan nusantara untuk merdeka. Demi bertahan hidup, Moresidin sodorkan dirinya sebagai pembantu Jepang, tentara Heiho. Melakukan pekerjaan dengan keterpaksaan dan tidak berdaya. Tidak ada sekolah, tidak ada makan enak, tidak ada nongkrong, tidak ada canda tawa.

Yang ada dia harus melaksanakan tugas perintah kaum Nippon, melawan bangsanya sendiri dan Belanda yang masih merajalela di tanah airnya. Bila tidak mau, dia harus merelakan darahnya merembes di tembus pelor, atau membiarkan kepalanya tergelatak yang terpisah dari tubuhnya. Kejam? Tidak, dunia tidak kejam, dia terus meyakinkan bahwa penderitaan hidup semacam itu tidak akan lama. SEMUA AKAN BERAKHIR. AKANKAH??

Berjuta peristiwa masih terekam dalam ingatannya yang malang. Sebuah peristiwa bahkan untuk bermimpi dan berharap-harap tentang masa depan tidak sebanyak bintang di langit. Secercah masa yang tidak akan pergi, karena masa lalu akan terus menghantui hidup manusia, suka atau tidak.

Kakinya, harus 8 kali digergaji agar lepas dari tubuhnya. Saat itu, dia harus berperang melawan Belanda. Malang, kapal yang ditumpanginya disambar bom dan hujan peluru. Beberapa orang bersamanya sudah berdarah-darah dan tewas satu persatu. Ada pula yang memilih dipukuli teman sendiri ketimbang tumbang karena senjata sekutu. Moersidin bertahan, dengan kaki yang sudah terluka parah, berdarah-darah. Bersembunyi semampunya agar tidak dihabisi, seperti menangkap angin, dia bertahan di saat-saat sudah tidak ada harapan.

Kapal yang membawa tubuh sekarat Moersidin pun larut pasrah kepada deras dan arus angin. Bertahan sambil bergumul dengan rasa takut, perih, dan ketidak pastikan. Tuhan memang Maha Sayang, nyawanya masih selamat. Meski dia pun diselamatkan oleh kesengsaraan lagi, Jepang memberikan pilihan kembali. Mau diamputasi atau dirawat di Tokyo dengan perjalanan lautan lepas, dengan hamparan semua kemungkinan. Mati dalam perjalanan, dibuang di laut dalam, atau selamat sampai ke negeri orang. Jauh dari tanah tumpah darahnya.

Dia memilih bertahan tidak ingin meninggalkan Indonesia, meski akhirnya harus menyedihkan. Dia ingin berbaring dan menyatu dengan bumi nusantara. Tanpa bius, tanpa peralatan dokter modern, tulang paha itu pun harus digergaji, Tuhan Maha Sayang, goresan kesengsaraan hidup itu harus dia lalui demi bertahan. Dia pun selamat, masih hidup hingga sekarang.

Moersidin, menghabiskan sisa-sisa sejarah hidupnya dengan Tinem, perempuan tegar yang kuat. Tidak ada keturunan yang lahir dari hubungan pernikahan mereka. Entah sudah tak terhitung berapa kali merayakan hari jadi pernikahan itu.

Karena selain cinta, tidak ada yang membuat dua orang untuk memutuskan hidup selamanya, tidak ada perpisahan, meski masih dalam kekurangan dan penghibur jiwa.

Sejarah sepahit apapun bila masih ada cinta pasti akan terasa baik-baik saja. Allah memang Maha Sayang. Allah memang Maha Cinta. Moersidin yang terabaikan oleh Indonesia saat ini, masih punya cinta Tinem. Masih ada belas kasih sayang Tuhan, dalam kesengsaraan dunia yang sebenarnya tidak pernah dia inginkan. Namanya harus menyelesaikan tugas untuk hidup, menjadi apapun di dunia ini, yang penting tetap percaya. Tuhan Maha Sayang.

+++

Moersidin, dulu, terpaksa bekerja untuk bangsa lain untuk menjajah negerinya, demi bertahan hidup.

Mungkin, masih ada Moerdisin-Moersidin sekarang yang tidak perlu lagi dipaksa untuk bekerja untuk bangsa lain. Suka rela, menyerahkan diri untuk membangun kemajuan bangsa lain di negerinya. Meski tujuannya sama, bertahan hidup.

Mungkin, masih ada Moersidin-Moersidin sekarang, yang ikut berperang melawan negerinya sendiri. Menghancurkan perlahan-perlahan bangsanya dalam keruntuhan.

Moersidin, dulu, tidak seperti Moersidin masa kini.

Moersidin, dulu hatinya penuh cinta tanah air, meski raganya diperalat sekutu. Moersidin masa kini entah di mana hatinya, meski raganya tegak di negerinya.

+++

Moersidin. Allah Maha Sayang. Meski negerimu kini abai, hanya karena kau bukan dari tentara pembela tanah air.

 

Salam,

Elly Kartika Sari

 

Catatan : Sengaja tidak semua saya tulis kisahnya di sini. Semoga bermanfaat untuk menjadi renungan.

 Ini beberapa foto kenangan bersama mereka.

 

 

 

 

  • view 63

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    3 bulan yang lalu.
    Tulisan yang bagus sekali, berisi, ada pelajaran di dalamnya. Sebagai pengingat diri sendiri dan orang lain. Saya berharap banyak tulisan seperti ini di Inspirasi(dot)co. Selamat ya, Mbak.