Gerimis Kali Ini

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juni 2017
Gerimis Kali Ini

“Pergi lagi, ini masih pagi, kamu tadi malam pulang larut malam, kapan istirahatnya?,” ujar bapak menyambut kepergianku pagi tadi. Seperti rutinitas sebelum meninggalkan rumah, aku selalu meminta restu (meski tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun) saat mengecup tangannya.
 
“Hati-hati, jalanan licin,” mama tak mau kalah mengomentari kepergianku.
 
---
 
Kepergian mengajarkan akan pentingnya arti pertemuan.
Jika tidak ada kenangan, maka tidak akan ada ingatan.
Sebait doa, untuk dia yang telah tiada.
 
---
 
Suhu menampilkan angka 26 derajat celsius, di aplikasi smartphone ku memberikan informasi hujan ringan terjadi sepanjang hari. Kelembaban menunjukan angka 93 derajat. Sesekali aku menarik tubuh dan menutupinya dengan kedua tanganku, di bawah ac mobil aku melaju menelusuri Jalan Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda. Untuk menuju jalan tersebut kami harus putar arah dengan jarak tempuh 10 menit per 0,5 meter dari arah Juanda. Karena proyek pembangunan play over membuat jarak terasa jauh. Perlu satu jam untuk sampai pada tempat yang kami tuju.
 
Akhirnya kami tiba juga.. bayangan saya, sudah tertuju padanya. Dia yang saya jumpai pada 26 Juni 2015 lalu, sekali bertemu, hanya beberapa menit, dan jelas saya lupa namanya. Tetapi, foto, wajah tabah itu, membuat saya tidak bisa menghilangkan memori visual saya.
 
Hari ini, saya akan bertemu lagi. Ingin bertanya “apa kabar”, memastikan beliau baik-baik saja.
Melewati jalan setapak, berair, dan beberapa lumpur di sana sini langkah kaki saya terus memburu bayangannya. Sampai di depan pintu, tidak ada suara seraknya menjawab salam.
 
“Kemana?” tanyaku dalam hati.
 
Tak lama seorang lelaki keluar menghampiri kami,
 
“Cari siapa,” tanyanya heran
 
“Nenek ada,” tanya salah seorang dari kami.
 
“Nenek sudah meninggal, tiga bulan lalu” jawabnya ringan.
 
Kami pun pulang dengan tangan hampa, tidak ada bingkisan lagi untuknya, tidak ada lagi..
 
Dia sudah tenang bersama pencipta-Nya, dia sudah di rawat yang Maha Pengasih lagi Penyayang.
 
---
 
Sebait doa, untuknya. Dan biar Tuhan saja yang mendengarnya.
 
-
 
Nenek tersebut tinggal berdampingan dengan cucunya, setiap sore anaknya datang menjenguknya.
Kucing, adalah teman baiknya sekaligus membantunya menghabiskan makanannya, hampir setiap waktu menemaninya berbaring, tidak banyak tingkah dari perempuan paruh baya tersebut, bahkan untuk bangun, duduk dan menyalakan televisi untuk mendapatkan informasi perkembangan dunia.
 
Tegar, tidak ada keluhan dari mulutnya, tidak banyak bicara menyesali keadaan, tidak protes kenapa teh dibiarkan terbuka, apakah masih layak diminum atau tidak, sudah basi atau tidak. Tidak cerewet, mengapa mengapa tidak ada yang membersihkan nasi yang berserakan di sekitaran pembaringannya. Tidak memilih, makanan yang layak adalah bukan nasi, tapi bubur, berkuah, hangat, tinggi nilai gizi, terjamin kualitasnnya.
 
Tanggung, matanya menatapku dalam, sesekali bercerita dengan suara pelan, pertemuan singkat tersebut tahun lalu, membuat gerimis hatiku. Bergemuruh tak karuan.
 
Bertanya dalam benakku, siapa yang menemani malam-malamnya, menemani tidurnya dalam kehangatan dari dinginnya malam, siapa yang mau menyelimutinya, siapa yang sanggup menjaga ia dari binatang kecil yang bisa menggigit kapan saja, siapa yang menyalakan televisi jika dia sedang bosan dalam keheningan, siapa yang mau mendengarkan ceritanya yang berat dengan suara lirih, siapa, siapa, siapa?
 
Tersadar, gerimis hatiku, lagi, Engkaulah, Tuhan.. Membuat segalanya menjadi bisa ia jalani.
 
“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami karena Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)
 
+++
 
Jadi bagaimana aku tidak mencintai pekerjaanku, jika darinya ku temukan makna kehidupan.
Jika sebagian orang menghabiskan dirinya di kantor seharian, berseragam rapi, dan mengutak atik pekerjaan yang sudah jelas setiap harinya.
 
Tapi aku tidak, memang tak banyak waktu bersama kalian yang aku cinta, seolah orang paling sibuk yang sulit ditemui, tidur pun jarang.
 
Apalah arti lelahku ini bapak, mama, ..
 
Sebab maknanya telah jelas bagiku, aku tidak akan banyak bicara.
 
Sebab, cara terbaik untuk hidup adalah bagaimana cara melihat dan bagaimana caranya untuk mendengar.
 
Bicara? itu bonus saja, jika tidak bisa melihat dan mendengar apalah artinya, indera berfungsi yang pertama adalah mendengar dan melihat.
Berbicara, itu indera yang terakhir di miliki oleh seorang bayi (Red: teori dokter spesialis anak, ketika dalam kandungan bayi sudah bisa mendengar, ketika lahir dia sudah bisa mendengar, kemudian perlahan akan melihat, orang dewasa mengira dia tidak melihat, barulah kemudian anak akan bersuara(kemudian berbicara dalam bahasa bayi),
 
Aku diam mendengar, melihat, kemudian lebih suka menuliskannya saja.
 
---
Gerimis Kali Ini,

  • view 54