Ya Ampun

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juni 2017
Ya Ampun

Puji Tuhan, aku ditakdirkan jadi rakyat Indonesia. Enak, dihujani ragam bahasa tiap orang. Kadang paham, kadang gagal paham. Kasar, lembut, pelan, nyaring sudah menjadi tembang indah yang tak bertuan di telinga. Jadi nyanyain kehidupan. Aku terlena, jadi rakyat Indonesia.
 
---
Kita (Indonesia) memiliki stok orang-orang yang berlimpah ruah. Masing-masing mewakili daerah.Tiap mereka membawa petuah, dakwah, sampai meninggalkan sejarah. Tapi, sama-sama pernah dijajah, dulu sampai sekarang tidak berubah. Orang-orang senasib yang ditakdirkan bersama, suka atau tidak suka, namanya juga satu wilayah. Mau kabur juga payah.
 
 
Ya ampun, aku ditakdirkan banyak iman, Indonesia. Mungkin itu yang diucapkan negara ku tinggali ini. Dalam nyanyian disebut sebagai “tanah air beta”. Orangnya saja sudah berlimpah ruah, tumpah di mana-mana, menjadi siapa-siapa, begitu pula dengan iman mereka. Aku pernah ke gereja, ke vihara, ke mesjid juga. Banyak sekali iman ini, padahal sila pertama membulatkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Esa yang disebut satu, katanya. Esa yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dipastikan hanya dua arti saja, tunggal, satu. Itu saja? #Hentikan Prasangka
 
 
Tunggal. Satu-satunya, bukan jamak, tidak majemuk, utuh dan bulat-bulat, ya Indonesia. Sudah jadi satu, sudah menyatu, sudah. Persatuan, kesatuan, sudah. Kental.
 
 
Alhamdulillah.. sudah ditakdirkan jadi Indonesia. Mau diubah dan diruntuhkan pun percuma, sudah Indonesia. Diperdebatkan, hujatan, dipisahkan, adu domba kambing sapi babi monyet kuda ikan dan kancil pun ya, namanya juga sudah Indonesia. Namanya Nusantara, seluruh wilayah Indonesia. Nusa (pulau) - Tara (yang sama: tingkatnya, kedudukannya). Mau beda apanya? Tidak ada jenis kelaminnya. Indonesia.
 
 
Ya Ampun.. aku rakyat Indonesia.
 
#Hentikan Prasangka

  • view 58