Hotel Ber-bintang

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Juni 2017
Hotel Ber-bintang

Satu hari, saya berkeliaran di hotel mewah. Berbintang 5 kata orang-orang. Tanpa dijelaskan pun sebenarnya saya bisa lihat dari kamar dan makanannya. Sambil berjalan-jalan, mata saya berselancar ke berbagai pameran karya tulis ilmiah dari berbagai penjuru nusantara.
 
Kami sama-sama bertugas itu pun dipertemukan. Dia orang jauh, dari Serambi Mekkah, Aceh. Dari tatapan malu-malu saya disambut dengan sapa ramahnya. Kami berbincang kecil, bedanya dia yang banyak bertanya saya yang menjelaskan, mulai dari latar pendidikan hingga pekerjaan. Tawanya tersedak ketika mengetahui semua tak searah. “Tidak apa, hal biasa pendidikan dan pekerjaan tak sama, tanda kita punya keahlian lain,” ucapnya menghibur.
 
Tidak ada kalimat lanjutan, saya hanya tertawa-tawa seakan paham segalanya. Sebab kebahagiaan hidup ini hanya ada 2. Satu, mendapatkan pekerjaan sesuai hobi. Dua, pasangan hidup yang kita saling mencintai. Itulah kalimat lanjutan dari orang yang sudah tidak lagi asing lagi di hadapanku itu.
 
Kalau bekerja karena hobi, kita pasti menaruh rasa hormat terhadap pekerjaan itu. Tidak ada sikap curang, menciderai, mengelabui atau menyakiti pribadi maupun orang lain. Tidak pula merasa lelah yang berarti. Karena sudah menikmati. Beda dengan pekerjaan yang diinginkan, dibutuhkan, dipaksakan, apalagi di-trend-kan. Belum tentu senyaman mereka yang menggeluti hobinya. Jadi jangan heran, bila orang-orang lepas bekerja menyempatkan waktu untuk hobi-hobinya. Kita, masih perlu? Tidak kan?
 
Sama pula dengan pasangan, kalau sudah kita cintai mau apa lagi? pindah ke lain hati? mau menyakiti? yang ada justru bagaimana berbagi kebahagiaan hidup ini. Kalau sudah cinta perlu apa lagi? Kan?
“Dan saya sudah mendapatkan keduanya, sekarang tinggal kamu menemukan yang satu lagi itu,” katanya.
Kuncinya sabar dan syukur. Nanti kalian akan saling menemukan. Dalam hidup tak usah muluk-muluk, cukup fokus pada 2 itu saja.
Ya, saya pergi dulu, sampai jumpa. Selamat bertugas, sukses. Bila bertemu lagi, saya harap kamu sudah bersama keduanya. Profesor dari perguruan tinggi Islam di Aceh itu meninggalkan jejak ingatan di balik bayangnya.
 
Aku pun melihat wajah dia yang tidak asing, wajah yang dulu pernah menyampaikan pesan sampai menembus nurani.
“Aku mencintaimu selamanya,”.
Berkali-kali ku kucek mata, sedang bermimpikah, bisa-bisanya aku melihat dia lagi.
 
Dia yang berjanji tidak pergi
 
Dia yang menciptakan goresan lukisan
 
Benarkah dia kembali? Setelah dia memutuskan untuk pergi dan menghapus warna-warna lukisan menjadi putih lagi.
 
Benarkah dia kembali? Setelah memilih yang tak mungkin bisa ku halangi.
 
Gemuruh hati, tak sanggup bila dia ada lagi, bagaimana memulainya lagi. Bagaimana menyampaikan perasaan yang sudah lama dipaksa terkubur dan harus dibongkar lagi. Akankah sama bentuknya, atau rasa itu sudah membusuk dan menjadi bangkai yang kadaluwarsa.
 
Tak sanggup aku menatap, lebih baik menatap ubin hotel bak cermin ini. Hanya ada wajahku. Mataku kembali tengadah, ku lihat lagi dalam-dalam. Dia menghilang, sirna, lenyap entah ke mana, dia memang sudah tidak ada...
 
Di samping meja,ku tatap ada kertas dan pena. Ku raup keduanya, kubaca kata-kata, ku lukiskan kata, ku gambar kata. ku lihat bintang-bintang di kata-kata dalam tulisan.
 
***

  • view 58