Nikah Itu Enak

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Psikologi
dipublikasikan 05 Juni 2017
Nikah Itu Enak

“Nikah itu enak”
Apa yang Anda pikirkan bila ada anak usia dini dan sekolah dasar yang menyatakan pernyataan itu??
 
how about it? 
Sumber foto: mbah google
 
 
***
Saya yang biasa bertanya, disodori dengan pertanyaan seperti itu?
Saya diam dan belum menjawab.
Dia bertanya lagi, sudah punya anak, eh sudah menikah?
Saya menggeleng lagi dan ketawa-tawa sambil menyahut belum.. (-hahahaa belum.. jangan tanyaaaa paaak-yang itu lanjutan dalam hati).
Dia bertanya lagi. “’Nikah itu enak’ apa yang Anda pikirkan jika pernyataan seperti itu populer dibicarakan anak-anak,”
 
Hmmm.. saya pun berpikir, dan menyebutnya bahwa pernyataan itu adalah kalimat orang dewasa, saya pikir anak-anak belum boleh berkata-kata yang enak-enak tentang nikah.
 
“Hampir semua dewasa sepemikiran dengan Anda, tetapi itu adalah pikiran yang keliru,” dia pun menyanggah.
Kali ini dia berhasil mencuci otak saya. Pria tua yang sepertinya seusia ayah saya, yang sebelumnya kami berdiskusi hebat tentang seks edukasi untuk anak-anak dan lain sebagainya itu kemudian menjelaskan panjang lebaaar sampai tumpah di otak saya.
 
Katanya, tidak ada yang salah dengan pernyataan anak-anak itu. “nikah itu enak” apa yang salah? Tidak ada? Inilah yang membedakan anak-anak dengan orang dewasa. “enak” yang diartikan orang dewasa berbeda dengan pemahaman anak. Pasti yang dibayangkan kaum dewasa adalah tentang aktivitas *&^*^*&&.. Sementara anak-anak apakah mereka memikirkan hal itu. Tidak!
 
Begitu jawabannya, saat ada kasus seperti itu, ketika orangtua mendapati anak-anak mengucapkan “menikah itu enak” sampai seluruh keluarga rapat, membahas betapa anaknya sudah dewasa dini, yang sudah tahu yang enak-enak. “Betapa lebay sekali orangtua seperti itu,” ujar dia.
 
Setelah ditanya, kepada anak-anak tersebut, kenapa kok nikah enak? Ya karena kalau nikah ada kue pengantin, banyak makanan, jadi enak makan-makan. “ooghh.. betapa malunya keluarga, bahwa yang di otak mereka masih bersih, polos, tidak ada pornografi seperti yang dipikirkan orang dewasa,” katanya.
 
Berarti orang dewasa lah yang porno, begitu akhirnya saya menyimpulkan. “Cerdas, hahaha… orang dewasa lah yang porno, mereka sudah terkontaminasi dengan berbagai informasi dan lain sebagainya sehingga enak yang dibayangkan dengan anak-anak berbeda dengan apa yang dipikirkannya,” tambah dia.
 
Saya pun tertawa-tawa lagi sambil mangut-mangut tanda mengerti. Dia pun kembali nyerocos, jadi dia menyarankan agar membiarkan saja anak-anak dengan pemikiran polosnya itu. Bahwa nikah itu enak, tidak ada yang tidak pantas, tidak ada yang kurang sopan atau kurang ajar, tidak juga bahwa mereka itu dewasa dini, tidak-tidak. Mereka hanya mendefinisikan nikah dengan pemahaman ala anak-anak saja.
 
Dari kesimpulan off the record hasil wawancara saya ini dengannya, saya ingin menyimpulkan beberapa hal.
 
1. Bahwa otak anak dan dewasa itu berbeda. Plis deeeh..
 
2. Yang porno itu orang dewasa, anak-anak tidak, stop menyalahkan anak-anak.
 
3. Agama saya mengajarkan bahwa anak layaknya kertas kosong, orang dewasa lah yang mencoret-coretnya. Menjadikan warna warni pribadi dan karakternya. Jadi belajarlah untuk mem’polos’kan pikiran sendiri sebelum nge-judge orang lain apalagi itu anak-anak.
 
4. Jangan hanya menilai orang dari apa yang pernyataan yang disampaikan, tanyakan lagi bila belum jelas, apa maksudnya, jangan-jangan persepsi kita dengan dia ternyata berbeda. Akibatnya jadi salah paham.
 
5. Berhenti menyimpulkan dengan kesimpulan sendiri tanpa konfirmasi. Cari tahu dulu maksudnya.
 
6. Perbaiki pola asuh sebagai orangtua, minimal membiarkan anak-anak merdeka dengan pemahamannya sebagai anak-anak. Tidak perlu menyamakan dengan apa yang ada di kepala Anda. Bisa jadi anak yang benar dan orangtua lah yang keliru.
 
7. Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, merah, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Meletus balon hijau. (coba hitung ada berapa balonnya) 5, jadi ketika anak memprotes nyanyian ada bahwa balon bukan ada 5 tetapi 6.
 
8. Terkadang orangtua terlalu egois mengakui bahwa mereka sebenarnya keliru. Jadi yang penting dilakukan bagi orang tua adalah meng-upgrade diri. Belajar tiada henti, tidak statis. Sebab yang ketinggalan bukan yang tidak memiliki apa-apa, tetapi yang berhenti belajar dan mau mengerti.
 
9. Menerima kritikan itu penting. Jangan marah, jangan sakit hati, jangan sedih, terima saja, koreksi dan perbaiki.
 
10. Gambar di atas menyatakan bahwa apa yang dilihat anak berbeda dengan yang dilihat orang dewasa. Bila Anda melihat para ikan hiu berarti pikiran Anda adalah masih bersih, bila yang lain, berarti kita perlu belajar kembali ke masa kecil, membersihkan pikiran dari hal-hal yang sudah kita rekam untuk dikelola dengan baik. Belajaralah bebas menilai, poloskan tanpa ada kejahatan di dalam pikiran.
 
11. Silahkan tambahkan sendiri sesuka hati.
 
Salam, Elly Kartika Sari,
Si calon istri sholehah.. Amin.. hahaha..

  • view 1.9 K