Stres Bukan Ancaman

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Kesehatan
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Stres Bukan Ancaman

STRES kerap dihindari, hampir-hampir tidak ada yang menginginkan berada dalam kondisi ini. Keadaan psikologis di mana perasaan menjadi tidak stabil, kacau, galau, entah apa lagi namanya. Padahal stres sangat diperlukan dalam kehidupan ini. kehadirannya bukan ancaman yang perlu dihindari apalagi di usir.

Bila saat ini anda sedang Stress, berarti Anda beruntung!!

Suatu hari saya pernah berbincang dengan dokter spesialis kesehatan jiwa. Kami bertemu di salah satu rumah sakit khusus daerah di daerah Samarinda. Dua poin yang akan saya simpulkan dari pertemuan saya dengannya, kala itu.

 Miliki Keduanya untuk Mengelola Stres

"Stres sebenarnya baik. Sangat diperlukan dalam kehidupan, tapi jika stres tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak buruk pada diri seseorang," tutur drDenny Rotinsulu J, SpKJ.

Dari aspek emosi, secara umum orang yang mengalami stres ditandai dengan perasaan cemas, khawatir, marah, dan penuh tekanan. Kondisi psikologis tersebut bisa menganggu kehidupannya. Perasaan cemas, khawatir, marah dan penuh tekanan hidup bisa membuat emosinya semakin tidak stabil. Sebelum mengarah pada keputusaan dan depresi, berikut ini dua cara yang bisa dilakukan untuk mengelola stres.  

Fentilasi  

Berbicara atau bercerita kepada orang yang dipercaya.  Seperti orangtua, saudara, sahabat, pasangan. suami atau istri. Bicarakan tentang apa yang dirasakan adalah cara ampuh yang bisa dilakukan untuk mengelola stres. Hal ini disebut dengan fentilasi. Artinya adanya mengungkapkan segala apapun yang membuat pikiran dan menjadi tekanan hidup yang tak kunjung hilang. “Kadang saat itu seseorang hanya butuh didengar tanpa diberi masukan,” jelas dia. 

Bukan solusi dari si pendengar yang diharapkan, ternyata adalah kesediaan diri untuk mendengar. Sebagai pihak lain yang tidak sedang mengalami masalah, kita perlu juga memahami bahwa mendengar lebih bermakna dari ucapan apapun. Bagi mereka yang sedang marah, kecewa, sedih, terluka, galau, dan lainnya.

 

Goreskan 

Hidup ini seperti buku yang berserakan dalam lemari. Apabila dibiarkan menumpuk begitu saja makan akan kelihatan penuh, apabila ditata rapi maka buku tersebut terlihat masih ada ruang yang kosong. Begitu juga dengan apa yang ada dalam pikiran seseorang.

Denny menjelaskan pada kondisi tertentu seseorang kerap memikirkan banyak hal sehingga tidak ada prioritas yang membuat dia bingung melakukan sesuatu. Hingga terjadilah stress yang menjadi tekanan hidup. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menuliskan apa yang dipikirkan. Dengan menulis tersebut segala pikiran akan terlihat mana prioritas yang bisa dilakukan dan mana yang bisa ditunda. Dengan menulis hal-hal yang dipikiran akan tertuang. Begitu juga ketika stres dan tidak memiliki teman bicara yang bisa dipercaya.

“Tuliskan segala apa yang membuat stres, kemarahan, jengkel terhadap sesuatu, kemudian buang jauh-jauh tulisan tersebut dan jangan membacanya kembali,” ujar dia.

*** 

Stres itu membawa keberuntungan. Dengannya kita lebih intim dengan diri sendiri, melalui fentilasi kita menemukan diri kembali, meski tidak ada satu solusi pun yang kita dapatkan dari pendengar. Biarlah, orang yang kita percaya pasti mengerti saat itu hanya ada muntahan hati yang sedang meluap dan perlu tempat berbagi.

Stres benar-benar tidak ada ruginya, memang tidak semua orang mau menjadi pendengar. Jika belum ada yang bersedia menjadi tempat muhatahan hati itu, cobalah doreskan rangkaian huruf, kata demi kata, jadi kalimat..

Stres membuat kita berjuang, membuat kita lebih hidup. Bayangkan saja kita tidak pernah mengalami tekanan hidup, kita tidak akan stres. tetapi hidup terkesan stagnan. Flat, monoton, tidak berwarna.

Jika Anda pernah stres, maka Anda sangat beruntung. 

  • view 163