Idealnya Memang Full Day

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Idealnya Memang Full Day

 

BEDA kepala, beda pemikiran. Itu pula yang terjadi dengan sistem pendidikan negeri ini. Tiap pergantian menteri ada-ada saja kebijakan yang berubah, ditambah, dan lainnya. Seperti ulah menteri pendidikan dan kebudayaan RI baru ini. Wacana soal metode sekolah full day membuat hampir seluruh masyarakat tidak sepaham dengannya. Tapi, memang kalau untuk urusan pendidikan, idealnya harus full day.

Di salah satu akun facebook teman, ia menulis “Jika full day, bapak mau gaji saya lebih juga. Bagaimana dengan guru yang memiliki anak balita. Siapa yang merawat dan menjaganya, bapak saja ya,”. Di instagram juga ada. Seorang reporter televisi nasional, me-posting foto saat dia mewawancarai anak sekolah ‘korban’ jika diberlakukan kebijakan full day itu. Pemilik akun tersebut meninggalkan kalimat “ Dear pak menteri, ada yang bilang ‘when children start playing, the world wins’. Jadi janganlah mengada-ada dengan wacana full day school,” (diakhiri dengan emotion menangis).

Itulah kepala, beda manusia beda pemahamannya. Tapi idealnya pendidikan memang harus full day school. Ada istilah life is education, education is life. Ada pula pepatah yang tak kalah populer soal pendidikan, long life is education. Bagi yang kerap membaca buku pendidikan dan mahasiswa sarjana pendidikan akan akrab dengan kalimat ampuh tersebut. Begitu pula dalam ajaran agama saya, tholabul ilma minal mahdi ila llahdi, yang artinya tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat.

Konsep tersebut sepaham dengan wacana pak menteri itu. Memang harusnya sistem pendidikan ini full day. Jika tidak akan jadi apa negara ini. Apalagi untuk menyiapkan generasi penerus bangsa. Para pewaris peradaban dunia. Jika tidak ditempa dengan pendidikan dengan maksimal akan sulit mereka menghadapi kehidupan yang kejam ini.

Metode sekolah full day itu ideal. Bila dipahami bahwa setiap tempat adalah sekolah, dan tiap orang adalah guru. Happy ending bukan?

Kesadaran pendidikan memang harus digalakkan. Rumah itu sekolah, warung makan itu sekolah, taman kota itu sekolah, jalan raya juga sekolah. Angkutan umum itu sekolah, kendaraan pribadi juga sekolah. Bahkan toilet pun sekolah. Orangtua itu guru, sopir angkot juga guru, bahkan teman sebaya adalah guru. Pemulung sampah pun guru. Semua adalah guru, karena proses belajar di mana saja dan kapan saja. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah “sekolah kehidupan” tidak terbatas.

Bila ada yang mengeluhkan soal jam-jam belajar bisa jadi ia tidak belajar. Belajar untuk tidak stres, tidak mengeluh. Ada yang berpendapat full day tidak sesuai dengan kemampuannya, itu juga menurut saya belum belajar. Jika sudah, ia akan mengerti kalau melakukan sesuatu itu ada batasnya. Dia harus belajar mengenali kekurangan dan kelebihannya, agar potensi dapat digunakan maksimal. Karena memang, tiap manusia memiliki kemampuan masing-masing, bedanya digunakan atau tidak saja.

Tapi mungkin, yang dimaksud Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ke-27, Muhajir Effendy, tentang full day school berbeda dengan apa yang saya maksud. Sebelum menyalahkan mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, saya sempat mencatat kalimatnya saat diwawancarai di salah satu media televisi nasional. Dari informasi yang saya terima dari media tersebut, dia mengeluarkan wacana full day school untuk anak SD dan SMP, lantaran hendak membantu orangtua yang sibuk. Bagi mereka yang seharian bekerja, kegiatan anak di sekolah dapat menjadikan jaminan anak-anak melakukan kegiatan positif. Istilahnya separuh care day antara sekolah dan rumah.

“Metode full day school bukan kurikuler. Kegiatan yang mengacu pada 18 karakter.  Jadi jangan semata-mata menggunakan kata-kata ‘full day’ saja. Sebab itu bisa menyesatkan,” ujar dia.

Jadi, mari menelaah kembali, sampai di mana memahami full day. Jangan-jangan saat ini kita sedang tersesat dalam pemikiran sendiri atau informasi yang setengah-setengah. Persis seperti belajar hadis atau ayat. Bila memahami sepotong-potong maka artinya juga berbeda. Akhirnya mengkafirkan satu sama lain.

 ****

Mari kita kembali ke masa lalu, merenungi kembali warisan bapak pendidikan. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. ( di depan memberikan contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Konsep tersebut bukan lagi milik guru-guru di sekolah. Tetapi juga milik menteri pendidikan, sebagai pewaris ke-27 jabatan yang melukis sejarah pendidikan di Indonesia, negeri tercinta ini.

Sebagai seseorang yang memangku, menggendong, dan membuaikan kebijakan pendidikan saat ini. Yang dengan kebijakannya nasib anak-anak negeri dipertaruhkan.  Untuk mencapai amanat pembukaan undang  undang dasar 1945. Di alenia terakhir, “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Duduklah di sini bersama saya, kita bercerita bagaimana nasib adik-adik saya?

Full day school?

BOS?

Dan entah apa lagi rencana Anda, saya tidak ingin mendengar siapapun. Saya ingin Anda mengatakan sendiri, apa maksud Anda kepada saya. Sama seperti mereka, yang bertanya-tanya “apa sebenarnya maksud Anda,”. Bantu kami mengerti.

Selamat bekerja pak menteri, belum sempat saya mengenal terlalu jauh. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Mari berjuang…

Pendidikan tidak butuh menteri saja, tapi pendidikan butuh kita semua. Mari, full day school. Sekolah kehidupan.