Menteri di Rumah

Elly  Kartika Sari
Karya Elly  Kartika Sari Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Menteri di Rumah

BAYANGKAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan ada di rumah. Dia yang merumuskan, merancang, sekaligus melaksanakan pendidikan di Indonesia. Andaikan menteri Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla itu benar-benar ada di rumah, jelaslah pendidikan rumah tangga itu berjalan baik.

Anies Baswedan dikenal sebagai pelopor Indonesia Mengajar. Sebenarnya, banyak pelopor di negeri ini. Hanya, namanya tidak mengemuka seperti sang menteri. Ratna Dewi, misalnya, ibu rumah tangga dari desa di Tenggarong Seberang.

Lulusan madrasah aliah negeri (MAN) itu mengaku, anaknya yang pertama dan kedua tidak menggunakan popok. Takut putrinya alergi, ruam, dan kena penyakit kulit karena bahan popok maupun kelembapan.

Akhirnya, dia membiasakan Nina, anak pertamanya untuk buang air di toilet. Kebiasaan itu terus dilakukan dengan jadwal yang diatur sedemikian rupa. Sampai-sampai anaknya terbiasa dan tidak buang air, kecuali saat jadwalnya ke kamar kecil. “Tiap dua jam sekali, saya bawa. Sebelum dan setelah tidur. Juga, tak lama setelah Nina makan,” ujarnya.

Itulah teori toilet training. Para pakar seperti dokter dan psikolog anak kerap menggunakan edukasi itu kepada para orangtua. Dia sempat heran dan terkejut dengan istilah toilettraining, saya jadi penasaran. Selama ini, dia mendapatkan pendidikan toilet training itu dari siapa, sementara dia baru saja tahu istilah tersebut.

Ketika saya tanya lagi dari mana dia mengetahui metode tersebut. “Ibu saya yang mengajarkannya,” jawab Ratna. Toilet training sebaiknya ditanamkan sedini mungkin pada  anak. Begitu dokter anak menjelaskan sewaktu saya sedang liputan. Dia membeberkan betapa pentingnya mengajarkan anak buang air pada tempatnya.

Salah satu metodenya memang yang diterapkan oleh si ibu rumah tangga tadi. Membiasakan anak buang air di toilet, mengatur waktunya dan tidak pernah bosan untuk mengulangi tiap hari. Tiap berapa jam sekali dibawa ke kamar mandi.

“Ada juga alternatif lain, menggunakan alat mirip mainan anak-anak berupa toilet, anak dibiasakan duduk di situ. Biasakan letakkan di kamar kecil,” terang dr Herwina SpA.

Bagaimana kalau anak buang air sebelum dibawa ke toilet? “Ya tetap diajak ke kamar mandi. Bersihkan di sana, lama kelamaan anak bakalan terbiasa. Agak repot memang bagi orangtua. Tapi, kebiasaan ini penting,” jawab dokter itu.

Psikolog Asih Minarni Cahyaningrum sependapat dokter anak tadi soal toilet training. Secara psikis, anak jadi mengerti tempat. Mana tempat yang tepat untuk buang air. Anak jadi belajar menempatkan diri pada tempatnya, disiplin, bertanggung jawab, dan tentu tumbuh menjadi anak yang berkarakter.

Memori tersebut tentu akan diingat anak sampai dewasa. Jadi, menurut saya, tak heran jika Ratna membagi pengalaman masa kecilnya kepada kedua putrinya. Saya jadi tertarik dengan ibunya, yang sejak dini sudah mengajarkan kebiasaan baik itu kepada anak-anaknya.

Sosoknya seperti apa? Sekolah di mana dulu? Lalu, teori dari mana dia dapatkan. Ketika saya tanya lagi, apa latar pendidikan ibunya. “Ibu saya tidak sekolah. Tidak tamat sekolah dasar,” ujarnya.

Saya langsung berpikir untuk menulis kata-kata pada status di akun media sosial saat itu. Seorang ibu yang tidak sekolah saja bisa mengajarkan teori modern, lantas kenapa orangtua modern zaman sekarang sulit menerapkannya. Mereka lebih suka yang praktis.

Popok harga Rp 16 ribu isi 6. Sehari bisa digunakan 2–6 kali. Jika dikalikan sehari 4x30, maka ada 120 pcs tiap bulan. Untuk satu popok berkisar harga Rp 9–11 ribu, 120 dikalikan Rp 10 ribu, sebulan pengeluaran untuk popok Rp 1,2 juta. Setahun  mencapai angka Rp 14,4 juta.

Jika dari 0–5 tahun masih menggunakan popok, Anda telah mengeluarkan Rp 72 juta untuk membiayai popok saja. Relakah kesibukan selama ini dihabiskan hanya untuk urusan popok. Sementara itu, buah hati kehilangan pendidikan penting dari orangtuanya dengan pengetahuan sekelas toilet training.

Dosen saya bilang, ini fase generasi pragmatis. Segala sesuatu diterapkan dengan cara instan dan mudah. Kadang itu menghilangkan nilai-nilai luhur. Padahal, dari situ budaya terbentuk, menjamur, mengakar hingga jadi karakter yang kuat.

Jika soal popok saja orangtua luput perhatiannya, bagaimana dengan metode asuh lainnya. Kini anak usia dua tahun (bahkan kurang) sudah bisa mengoperasikan gadget, sekadar menikmati permainan hingga menonton video edukasi.

Bermanfaat memang, memudahkan orangtua, anaknya jadi diam dan asik bermain. Tapi dampaknya, orangtua jadi kehilangan keintiman dengan putra-putrinya. Interaksi berkurang, kepekaan sosial berkurang, empati, rasa menghormati juga terkikis. Lantas, budaya mana lagi yang bisa dipertahankan?

Mau berganti menteri berapa kali pun dengan rancangan kurikulum yang terus berubah-ubah. Jika dari madrasah (sekolah) pertama tidak ada rancangan kurikulum pendidikan keluarga akan sia-sia. Padahal, generasi bangsa ini perlu bekal untuk mengarungi mahligai kehidupan sosial, bermasyarakat, dan bernegara.

Sehebat apapun menteri saat ini, lebih hebat lagi menteri pendidikan dan kebudayaan di rumah, bukan?

Orangtua, para perancang pendidikan sesungguhnya. Mereka yang menentukan kesuksesan anak-anak. Sukses seperti apa; kaya raya, terkenal, cerdas, saleh, atau punya jabatan tinggi. Semuanya harus balance antara materi kecerdasan, pekerjaan, dan agama.

Sekali lagi, semua bergantung pada sang menteri di rumah.

 

Note : Catatan ini dibuat satu bulan yang lalu. Penulis sengaja tidak mengganti dengan nama menteri yang baru untuk menjaga keaslian tulisan.

Salam Karya.