kurinduITD-HILANGKAN SIKAP DISKRIMINATIF TERHADAP PERBEDAAN GENDER

Eliza Faizallah
Karya Eliza Faizallah Kategori Politik
dipublikasikan 19 November 2016
kurinduITD-HILANGKAN SIKAP DISKRIMINATIF TERHADAP PERBEDAAN GENDER

 

HILANGKAN SIKAP DISKRIMINATIF TERHADAP PERBEDAAN GENDER

“ Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneka rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” ( Bahwa agama Buddha dan Siwa ( Hindu ) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina ( Buddha ) dan Siwa tunggal. Terpecah belah tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua). Begitulah kata yang terter dalam kitab Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tantular, cendekiawan yang berpendirian teguh dan tidak mudah terpenaruh oleh siapapun. (Suhandi Sigit,2011).

Ungkapan yang tertera dalam bahasa jawa tersebut, secara harfiah mengandung arti bhinneka yang berari bermacam-macam, tunggal yang berarti satu, dan ika yang berarti itu. Bhinneka Tunggal Ika yag kita anggap sebagai semboyan negara kita tidak hanay sekedar di ambil dari kitab sutasoma tersebut. Akan tetapi, terdapat proses panjang dan berbagai sidang dilakukan sebelum semboyan tersebut di resmikan. Hal itu dibuktikan dengan diadakannya pembicaraan terbatas yang dilakukan oleh Muhammad Yamin, Bung Karno, dan I Gusti Bagus Sugriwara dalam sidang BPUPKI setengah bulan sebelum proklamasi( Kusuma, R.M. A.B,2004).

Bhinneka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu telah memberikan pengaruh yang begitu dahsyat bagi negara Indonesia. Sebuah negara besar yang tersebar dari sabang sampai merauke. Negara yang memiliki berbagai keanekaragaman dan memiliki banyak adat dan budaya tidaklah mudah menyatukannya. Namun, melalui pemikiran dasar bhinneka tunggal ika mampu memberikan penafsiran baru bagi para pendiri bangsa karena dinilai relevan dan strategis bagi kemajuan Indonesia. Hal itulah yang menyebabkan semboyan bhinneka tunggal ika menjadi sesuatu yang istimewa hingga di tempatkan dalam cengkraman kedua kaki burung garuda.

Semboyan yang memiliki makna yang mendalam merupakan hasil buah pikir pujangga besar yang hidup di zaman kejayaan. Tentunya tidaklah mudah bagi pendiri bangsa untuk menentukan itu semua. Dikarenakan negara Indonesia yang majemuk sehingga dalam menentukan suatu keputusan harus melingkupi semua segmen yang ada di Indonesia ini. Sehingga tidak terdapat rasa ketimpangan di kalangan masyarakat Indonesia.

Negara yang besar dan majemuk tidak memiliki arti apa-apa jika tidak diisi dengan benih-benih penerus yang intelektual Bhinneka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu telah memberikan pengaruh yang begitu dahsyat bagi negara Indonesia. Sebuah negara besar yang tersebar dari sabang sampai merauke. Negara yang memiliki berbagai keanekaragaman dan memiliki banyak adat dan budaya tidaklah mudah menyatukannya. Namun, melalui pemikiran dasar bhinneka tunggal ika mampu memberikan penafsiran baru bagi para pendiri bangsa karena dinilai relevan dan strategis bagi kemajuan Indonesia. Hal itulah yang menyebabkan semboyan bhinneka tunggal ika menjadi sesuatu yang istimewa hingga di tempatkan dalam cengkraman kedua kaki burung garuda.

Secara umum, populasi generasi muda di Indonesia mencapai 79.363.477 jiwa atau sekitar 36,75% dari penduduk Indonesia secara keseluruhan(sumber: Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga tahun 2007). Dengan tingginya angka populasi tersebut, dapat dipastikan generasi muda inilah yang memiliki posisi paling strategis bagi bangsa Indonesia. Dengan usia pemuda yang rata-rata 17-35 tahun, mampu menciptakan pola pikir yang lebih efektif dan kreatif untuk membangun Negara ini. Karena pada usia seperti inilah tingkat kedewasaan seseorang mulai tumbuh dan mampu memicu pemikiran yang kognisi untuk mendongkrak negara ini. Jika kita berkaca pada zaman proklamasi kemerdekaan, para pemuda juga turut memberikan kontribusi-kontribusi yang berpengaruh terhadap negara ini. Bahkan dalam peristiwa-peristiwa penting, generasi muda tampil sebagai garda terdepan untuk menyuarakan Indonesia. Seperti berbagai peristiwa sejarah yang masih terekam di benak kita sejak masa penjajahan. Mulai dari tahun 1908, para pemuda mendirikan organisasi budi utomo yang merupakan embrio organisasi di negara ini. Hingga pada tangal 28 oktober 1928, para pemuda mengikrarkan sumpah pemuda dan bersama-sama berkomitmen untuk menjadi satu kesatuan dari negara ini. Bahkan setelah kemerdekaanpun para pemuda turut memberikan kontribusi bagi Negara ini, seperti turut menyuarakan pembubaran PKI pada tahun 1965 serta menjadi pelopor bergulirnya era reformasi pada tahun 1998.

Kontribusi-kontribusi yang dilakukan generasi muda tersebut merupakan fakta sejarah yang tidak dapat kita bantah. Karena itu,harus diakui bahwa generasi muda memiliki andil yang sangat besar terhadap  Negara kesatuan ini. Namun, pemuda bukanlah sesosok manusia yang tidak memiliki masalah. Banyak sekali pengaruh-pengaruh negatif yang mencoba untuk mampu merubah pola poikir pemuda Indonesia hingga membuat generasi muda semakin terpuruk. Berbagai pengaruh yang datang kepada para generasi muda tidak hanya berasal dari dalam negara kita sendiri, namun banyak penaruh dari luar yang turut mempengaruhi pola pikir generasi muda ini. Salah satu yang menjadi maslah bagi para pemuda ini adalah rendahnya partisipasi aktif dalam pembangunan nasional. Masalah yang dihadapi para pemuda ini dapat mengakibatkan masalah yang konkret bagi bangsa Indonesia. Menurut data informasi kementrian Negara pemuda dan olahraga, rendahnya angka partisipasi aktif generasi muda akan menurunkan kontribusi kinerja dari generasi muda bagi bangsa ini. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dan instasi-instasi lainnya untuk menanggulangi hal tersebut, karena kenyataannya generasi muda Indonesia pada saat ini masih banyak yang belum aktif dalam berpartisipasi dan lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada berusaha menjadi pengkaderan masyarakat. Padahal, aspek yang dibutuhkan bagi negara ini adalah pengkaderan nyata dari generasi muda untuk membina masyarakat untuk menjadi generasi penerus bangsa yang bermartabat.

Berbagai masalah generasi muda yang turut menjadi masalah bangsa merupakan salah satu dari munculnya berbagai konflik di kalangan pemuda. Sehingga dapat memunculkan sifat intoleransi di kalangan generasi muda. Adanya tanggung jawab sebagai pemegang estafet di negara ini ternyata mampu menimbulkan konflik di kalangan pemuda. Para laki-laki yang memiliki rasa lebih berhak memimpim di negara ini mampu menimbulkan rasa diskriminatif terhadap perempuan, Hal itu dibuktikan dengan banyaknya berbagai aturan yang kita temui di negara ini yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki saja. Hal seperti inilah yang mampu menimbulkan rasa diskriminasi di kalanangan para perempuan dan memicu konflik di kalangan laki-laki dan perempuan.

Menurut kementrian Negara pemuda dan olahraga (2005), partisipasi tenaga kepempipinan menurut jenis kelamin sebesar 26,79% bagi laki-laki dan 48,54% bagi perempuan. Sedangkan, World Value Survey (WVS) pada 2007 mengajukan pertanyaan kepada responden, “Apakah laki-laki lebih baik sebagai pemimpin politik dibandingkan perempuan?” Sebanyak 60.8% penduduk Indonesia menyetujui pernyataan tersebut. Begitu pula ketika ditanya kepada publik apakah laki-laki lebih baik sebagai pemimpin perusahaan (bisnis) dibandingkan perempuan. Responden yang menjawab setuju 42.1%. Gambaran yang lebih positif hanya didapat ketika responden ditanya apakah perguruan tinggi hanya cocok untuk anak laki-laki daripada anak perempuan. Hanya 18.8% responden yang setuju bahwa perguruan tinggi hanya cocok untuk laki-laki. Dengan adanya perbedaan tersebut menandakan telah adanaya diskriminasi bagi yang berjenis kelamin perempuan. Bahkan Deny JA mengatakan, Tidak hanya diskriminasi, kekerasan juga banyak menimpa kaum perempuan. Data komnas Perempuan mencatat ada 100 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya. Yang terbesar adalah kekerasan dalam rumah tangga disusul dalam komunitas dan Negara, Dan Menurut catatan komnas perempuan, hingga tahun 2011, terdapat 207 kebijakan diskriminatif terhadap perempuan Indonesia. Dari jumlah itu, 200 kebijakan di antaranya berlaku di tingkat regional.

Sebanyak 78 dari 207 kebijakan secara langsung mendiskriminasi perempuan dengan membatasi hak atas kebebasan berekspresi (23 kebijakan yang mengatur cara berpakaian), melanggar hak atas perlindungan dan kepastian hukum dengan mengkriminilisasi perempuan (54 kebijakan tentang prostitusi dan pornografi), dan merampas hak atas perlindungan dan kepastian hukum. Dari berbagai kebijakan tersebut telah jelaslah, betapa banyak pendiskriminasian yang terjadi terhadap perempuan. Denny JA juga mengatakan diskriminasi terhadap perempuan juga muncul akibat pandangan yang melihat perempuan mempunyai kemampuan yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu di lingkungan pekerjaan, jenjang karir lebih diperuntukkan untuk pekerja laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Jabatan-jabatan politik juga lebih banyak diemban oleh politisi laki-laki karena laki-laki dianggap mempunyai kemempuan  lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Meskipun ide mengenai persamaan antara laki-laki dan perempuan telah banyak diterima, di sejumlah masyarakat di dunia masih banyak yang menganggap bahwa posisi perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Sebagai akibatnya, perempuan menerima perlakukan yang didiskriminatif, dan diperlakukan berbeda dengan laki-laki.

Pasal 281 Ayat 2 UUD NKRI 1945 Telah menegaskan bahwa “ Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif  atas dasar apapun dan berhak mendapatkan   perlindungan   terhadap   perlakuan   yang   bersifat  diskriminatif   itu   “.Sementara itu Pasal 3 UU No 30 Tahun 1999 tentang HAM Telah menegaskan bahwa “Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan sederajat”.

Dari kostitusi tersebut telah tergambar jelas sebagai warga Indonesia kita harus bisa menghilangkan sikap diskriminatif terhadap perempuan dalam diri kita. Perempuan juga penerus bangsa yang turut membangun negara ini. Tidak sedikit pejuang Indonesia kita temukan berjenis kelamin perempuan seperti yan telah dilakukan oleh  Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Fatmawati Soekarno, Martha Christina Tiahahu, Raden Ajeng Kartini dan lainnya adalah sebagian kecil pejuang perempuan Indonesia yang dengan semangat mereka, hadir didalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia dan tentunya telah menjadi inspirasi untuk seluruh kaum perempuan Indonesia pada masa-masa selanjutnya. Hinga pada saat inpun terdapat ribuan bahkan jutaan perempuan Indonesia yang tengah berjuang mengisi kemerdekaan dengan jalannya sendiri-sendiri. Mereka tidak hanya berjuang di dalam keluarga di rumah mereka, tapi mereka keluar rumah, berjuang untuk bangsanya. Mereka secara kongkret, konsisten dan komitmen untuk terjun langsung di masyarakat, membantu masyarakat, dan aktif berkontribusi membaur mensejahterakan masyarakat. Prestasi yang mereka miliki tidak mereka simpan sendiri, karena pada hakekatnya, di dalam prestasi kita itu ada peran dan tangan-tangan orang lain. Oleh sebab itu, mereka sadar betul, sehingga tidak ada jalan lain, selain mereka berbagi langsung kepada masyarakat dalam berbagai bidang yang mereka geluti.

negatif terhadap perempuan. Berbagi pola pikir yang telah terpusat mengenai permpuan merupakan faktor utama perlakuan .

Munculnya sikap diskriminatif terhadap perempuan dapat dipicu oleh timbulnya prasangka diskriminatif terhadap perempuan. Banyaknya faktor mendukung prasangka negatif tersebut dapat dipicu dari lingkungan serta hal-hal negatif yang sering di dengar seseorang terhadap perempuan. Seperti, lemahnya fisik seorang perempuan, perbedaan kepercayaan terhadap perempuan, bahkan adanya kepercayaan seorang perempuan tidak boleh menjadi pemimpin.

Perjuangan perempuan pada masa ini berpihak pada deklarasi  kemerdekaan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama. Mereka berpendapat bahwa penyebab penindasan perempuan dikenal sebagai kurangnya kesempatan dan pendidikan perempuan baik secara individual atau kelompok. Diskriminasi juga nampak dalam soal sedikitnya lapangan pekerjaan, tidak adanya hak

kepemilikan harta benda, ataupun undang-undang perkawinan yang merugikan perempuan. Untuk itu, sudah saatnya kita sebagai generasi muda untuk menghilangkan berbagai prasangka buruk terhadap sesama masyarakat. Karena melalui prasangka tersebut dapat memicu sikap diskriminatif terhadap diri kita. Sehingga dapat menciptakan suasana integarsi yang harmonis di kalangan masyarakat. Dan tentunya integrasi sosial yang harmonis tersebut dapat kita wujudkan apabila problematika diskriminasi dalam masyarakat yang beragam mampu kita hentikan.

Berbagai diskriminasi terhadap perempuan dapat kita hilangkan dengan cara menerapkan teori keadilan dan menghargai berbagai hak yang melekat dalam jiwa seorang perempuan. Teori keadilan merupakan teori yang memiliki Pandangan yang memprioritaskan kesejahteraan mayoritas. Sehingga kelompok minoritas yang preferensinya tidak diwakili oleh mayoritastidakbisa diabaikan, sebagai akibatnya mereka tidak kehilangan  hak-haknya. Apabila teori ini diterapkan, semua kalangan akan merasa disama ratakan baik mayoritas maupun minioritas hingga pemikiran mengenai sikap diskriminatif tidak akan timbul di benak masyarakat.

Berusaha mencintai sesama manusia juga mampu menghapus sifat diskriminatif kita terhadap perempuan. Karena,, apabila kita sudah memiliki rasa saling mencintai dan menghargai, maka akan timbul dengan sendirinya rasa untuk saling menjaga dan melindungi. Sehingga, tidak akan adalagi rasa untuk saling menyakiti dan mendiskriminasi.

 

 

 

 

 

  • view 277