diantara dua khutbah

Eliana Rofiqoh
Karya Eliana Rofiqoh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Agustus 2016
diantara dua khutbah

Diantara Dua Khutbah

Niar membenamkan wajahnya ke bantal. Meluapkan rasa kesalnya yang sudah memuncak dengan menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka ibu dan kakak-kakaknya tega melakukan hal itu padanya. Memaksanya menikah dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“usia Niar kan baru 28, berilah Niar kesempatan satu tahun lagi bu, Niar akan cari calon yang sesuai harapan ibu” pintanya pada sang ibu sesaat sebelum dia akhirnya masuk ke kamar dan membenamkan wajahnya ke bantal.

“dari dulu kamu kamu pacaran tapi sampe sekarang ga da yang sreg, trus mau sampai kapan? Ibu udah tua niar.., kamu mau pas kamu nikah ibu udah ga ada?” jawab sang ibu tak mau kompromi.

Bantal itulah satu-satunya tempat meluapkan emosinya. Tak ada satu kakaknyapun yang membelanya, memberinya kesempatan untuk mendapatkan jodohnya sendiri. Padahal semua kakak-kakaknya menikah dengan pilihan mereka sendiri. Terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, terkadang membuat Niar tertekan. Dia selalu dikait-kaitkan dengan kakak-kakaknya.  Hampir semua kakak-kakaknya pintar dalam hal akademis. Jadi Niar juga dituntut untuk mendapat nilai bagus di sekolah. Untungnya Niar masih bisa mengikuti,  setidaknya dia masuk sepuluh besar. Lalu mengapa dia tidak diijinkan memilih jodohnya sendiri seperti kakak-kakaknya? hatinya terus berontak.  

Handphone. Ya, handphone. Kini Niar meluapkan emosinya ke handphone. Ditatapnya foto seorang  laki-laki. Dulu Niar merasa memilikinya sebelum laki-laki itu membuat hatinya hancur. Betapa tidak, Niar sudah menaruh harapan besar padanya, berharap menikah dan hidup bahagia dengannya. Hatinya hancur ketika lelaki itu memberinya kabar suatu hari:

Assalaamu’alaikum Niar yang baik...

Maaf jika ndak berani menemuimu secara langsung dan mengatakan hal ini, ibuku ingin aku menikah dengan gadis pilihannya. Aku ndak kuasa menolak permintaan ibu. Selama ini ibu sudah banyak berkorban untukku. Maafkan aku Niar..., maafkan aku yang mengingkari janji, maafkan aku yang ndak bisa mewujudkan harapan-harapan kita meskipun sebenarnya aku sangat berharap bisa membangun rumah tangga denganmu dan membahagiakanmu. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku.

Wassalaamu”alaikum wr. Wb.

“Kenapa? kenapa hidupku seperti ini? Kenapa Andi tidak berusaha memperjuangkanku di hadapan ibunya jika dia memang mencintaiku?” hati Niar benar-benar terluka kala itu. Hingga dua tahun berlalu Niar belum bisa melupakan Andi. Baginya Andi sudah merupakan sosok yang sempurna. Dia menawan meski tidak terlalu rupawan, paham agama, rajin beribadah, dan santun dalam bersikap. Hanya dari segi materi memang tidak memungkinkan Andi untuk segera menikahi Niar sebelum akhirnya orangtua Andi menjodohkannya dengan gadis PNS pilihan ibunya. Beberapa lelaki yang mendekati Niar selepas itu belum ada yang bisa menggantikan posisi Andi di hati Niar. Niar sih sebenarnya santai, namun ibu serta kakak-kakaknyalah yang gusar melihat Niar yang tak kunjung menemukan jodohnya. 

Dan kini, dirinya seakan hanya punya raga, jiwanya entah dibawa siapa. Ibu dan kakak-kakaknya tidak sudah tidak menghiraukan tangisan dan jeritan hatinya. Mereka sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Sofyan, laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Niar tidak punya pilihan selain mengikuti keputusan sepihak itu. Niar hanya berusaha agar dia tidak menjadi gila seperti  di sinetron televisi dimana seorang gadis menjadi gila karena dipaksa menikah dengan pria yang bukan pilihannya. Hatinya terus menjerit karena Sofyan jauh sekali dengan kriteria suami idamannya. Ya Allah, bukankah wanita yang baik untuk laki-laki yang baik? Mengapa harus Sofyan Ya Allah?.

Pernikahan Niar dan Sofyan berjalan sesuai rencana. Niar mematung usai akad nikah. Wajahnya yang cantik tidak tampak ceria sama sekali. Beberapa kali ibu memberi kode agar Niar tersenyum saat para tamu undangan datang menyalaminya. 

“Aku tahu kamu terpaksa menikah denganku” ucap Sofyan membuka percakapan ketika mereka sudah masuk ke kamar pengantin.

Niar tidak menanggapi ucapan suaminya itu. Niar tahu bahwa sebenarnya Niar pun bukan pilihan hatinya Sofyan. Dan malam itu pun hanya diisi dengan keheningan hingga subuh datang.

Niar terbangun saat mendengar suara azan dari handphone-nya.  Matanya sembab karena tangisannya semalam. Niar sengaja tidak mematikan handphonenya hingga azan selesai meskipun dia sedang datang bulan. Dia bahkan mengeraskan volume handphone nya agar laki-laki yang tidur disampingnya bangun. Namun hingga azan selesai, dia tidak kunjung bangun. Apa-apaan nih? Dia tidak solat? Niar bertanya-tanya. “Udah jelek, ga solat pula” Niar bergumam dalam hati. Dan ternyata, Sofyan memang jarang solat. Hal itu diketahuinya setelah mereka menikah. Awalnya niar pikir yasudahlah kalo ga tampan asal masih mau solat, namun ternyata solatpun jarang-jarang, paling tiga atau empat waktu sehari. Seorang teman Niar yang kebetulan mengenal Sofyan bahkan pernah cerita bahwa Sofyan memang masih bolong-bolong solatnya, merokok, dan beberapa kali ganti pacar karena orangtuanya ga setuju. 

Niar tambah kesal. Dia sungguh menyesal menikah dengan Sofyan. Hingga suatu malam setelah mereka menikah, Sofyan tampak bersemangat

“kamu mau solat ya?” tanyanya pada Niar

“iya, memangnya kenapa?” jawab Niar

“boleh aku imami?”

Niar heran. Ada apa nih Sofyan tiba-tiba mengajukan diri menjadi imam. Dengan sedikit ragu dan heran dengan sikap suaminya, Niar mengangguk dan mempersilakan suaminya untuk menjadi imam. Ini baru kali pertama mereka solat jamaah. Biasanya mereka solat sendiri-sendiri. Dan ternyata solat jamaah perdana itu begitu lama. Kaki Niar sampai pegel. Dia sengaja memijit-mijit kakinya usai berdoa. Sofyan yang melihat hal itu jadi berkomentar:

“maaf ya, tadi aku bacanya pelan-pelan soalnya takut salah, jadi lama”

“o..”

Usai solat, Sofyan memberanikan diri mendekati Niar. Disentuhnya lengan istrinya itu perlahan. Niar mulai takut. Dia memang takut membayangkan saat itu tiba. Saat dia harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Dan malam itu Niar semakin menjerit. Ya Allah, dosakah hamba jika hamba melakukannya dengan terpaksa?

 

“Huek huek” Niar berusaha mengeluarkan apa saja yang  telah masuk ke perutnya. Kepalanya pening, dan tubuhnya pun lemas. Ini sudah sore hari, kenapa masih mual aja, ini mah bukan morning sick lagi, pikirnya.

Di sudut lain, Sofyan asik dengan handphone nya, beberapa kali Niar menatapnya berharap ada sedikit perhatian darinya. Sayang, dia malah berjalan keluar rumah ketika Niar menatapnya.

Niar menangis, kenapa dia ya Allah, kenapa laki-laki seperti itu yang Kau pilihkan untukkku? Udah jelek, males ibadah, ga perhatian lagi. Istrinya mual-mual gini malah dicuekin. “Sabar niar, mungkin kamu belum diperlihatkan aja sama Allah kebaikan yang ada pada sofyan”   Niar menenangkan diri dengan mengingat kata-kata Arni, sahabatnya.

Sebenarnya Niar belum siap hamil, usia pernikahannya dengan Sofyan baru sebulan. Apalagi nantinya niar akan ditinggal oleh sofyan berlayar. Ya, sofyan memang seorang pelaut, ABK tepatnya. Salah satu alasan orangtua niar menjodohkannya dengan sofyan adalah karena pekerjaan sofyan tersebut. Bagi orang desa seperti orangtua Niar, nikah dengan orang pelayaran itu enak, karena bisa dapat uang banyak dalam waktu singkat. Niar membayangkan kala itu, jadi, setelah nikah aku akan ditinggal selama dua tahun? Enak banget ya jadi laki-laki, pulang, menghamili istrinya, pergi, pulang-pulang anaknya sudah besar. Dan sekarang Niar benar-benar akan mengalaminya. Ya Allah, lengkap sudah penderitaanku nanti.

Kehamilan Niar termasuk agak berat, hampir tiap hari dia mual-mual selama trisemester pertama. Untungnya keberangkatan Sofyan bisa ditunda hingga mereka mengadakan syukuran empat bulan kehamilan sekaligus mendoakan sang calon ibu dan bayinya agar sehat selamat hingga lahir ke dunia. Lambat laun Niar sudah mulai bisa menerima Sofyan sebagai suaminya sekaligus ayah dari bayi yang dikandungnya meskipun Niar belum bisa mencintainya. Rasa cuek sofyan sudah banyak berkurang. Seringkali niar ditawari pengen apa dan langsung dibelikan kala itu juga. Hingga saat itu tiba, saat Sofyan harus berangkat berlayar.   Bagaimanapun Sofyan adalah ayah dari jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Dan niar meneteskan air mata kala sofyan berpamitan dan mencium keningnya. “Doakan aku  ya, aku akan selalu mendoakan de Niar dan bayi kita” Pamitnya. Niar mengangguk pelan tanpa kata. Ya, setelah ini dia harus menjalaninya sendiri, menjaga bayi yang ada dalam perutnya, dan melahirkannya kelak.

Allah Maha Adil, Dia tidak akan membebani hambaNya melebihi kemampuan hambaNya tersebut. Kehamilannya yang masih tersisa lima bulan dijalaninya dengan mudah, hingga Niar melahirkan secara normal seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki pada bulan juni 2014. Niar sangat bersyukur karena wajah anaknya cukup tampan, tidak seperti bapaknya. Dinamakannya sang bayi Muhammad Adhil Fadhlan, sesuai kesepakatan Niar dengan Sofyan jika anak mereka laki-laki.

“Wah cakepnya, bapaknya sudah liat? Kapan bapaknya pulang?” tanya para tetangga yang menjenguk niar dan bayinya. Niar menggeleng, bapaknya masih di laut, ga ada sinyal disana.

 

 Adhil kini menjadi hiburan tersendiri bagi Niar. Niar sangat bersyukur dikaruniai seorang anak. Terlebih anaknya laki-laki. Banyak teman-teman kerjanya yang hanya mempunyai anak perempuan. Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun belum dikaruniai seorang anakpun. Niar memilih resign dari tempat kerjanya agar bisa mengurus Adhil sepenuhnya. Dia tidak ingin sedetikpun melewatkan tahap demi tahap perkembangan anaknya tersebut. Dia tidak ingin Adhil kekurangan kasih sayang sehingga memilih resign dari tempat kerjanya, terlebih suaminya belum bisa ikut mengasuh Adhil.

Tepat satu bulan setelah Niar melahirkan, Sofyan menghubunginya. Dari suaranya Niar bisa tahu betapa gembiranya sofyan mendengar bahwa putranya telah lahir. Tidak banyak yang Sofyan ucapkan, hanya ucapan terimakasih karena telah mau mengandung dan melahirkan Adhil. Ah, baru kali ini Niar terharu mendengar ucapan Sofyan.

Alhamdulillah Adhil tumbuh seperti bayi-bayi sehat pada umumnya. Niar merawatnya dengan baik. Namun mengurus anak sendiri karena suami sedang berlayar terkadang membuatnya kewalahan dan menjadikannya berandai-andai. Andai bapaknya Adhil itu andi, betapa lengkap kebahagiannya. Astaghfirullah, ga boleh Niar, kamu sudah menikah, Niar mengingatkan dirinya sendiri.

Lima belas bulan sudah usia Adhil, waktu terasa begitu cepat, begitulah yang dirasakan Niar. Niar mulai risau karena hari itu akan segera tiba. Hari dimana suaminya, yang tidak lain ayah dari Adhil, akan pulang dari berlayar. Bagaimana nanti kalau dia pulang sementara aku belum bisa mencintainya? Bagaimana kalau nanti dia sering minta dilayani?

Niar menatap Adhil, selama ini, dirinya berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi Adhil. Niar bahkan sudah biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang umumnya dilakukan laki-laki seperti mengajari Adhil bermain bola, mengajaknya naik sepeda motor dan keliling kampung, ataupun mengayun Adhil seperti pesawat terbang.  

Dan hari itupun tiba. Sofyan sudah berada di depan pintu rumah mereka. Ya, rumah yang dibangun Niar dari hasil kiriman sofyan selama dua tahun. Niar sedikit gugup menyambut Sofyan. Sofyan bergegas menuju ke kamar, dilihatnya Adhil yang sedang tertidur pulas, lalu menciuminya, meluapkan rasa rindunya pada buah hatinya dengan Niar. Sebenarnya Sofyan jg sangat rindu pada Niar, namun ditahannya keinginan untuk memeluk dan mencium istrinya itu.

“Gimana kabar de niar?” Sofyan membuka obrolan

“Baik, mm..kamu gimana?”

“Sofyan terperanjat, hatinya bertanya-tanya, “kamu?” niar masih memanggilku kamu meskipun kini sudah ada Adhil? Jangan-jangan Niar ga suka dengan kepulanganku, atau bahkan niar berharap aku takkan pulang selama-lamanya?

 

Malam itu Niar tampak risau, sudah dua hari Sofyan ga pulang ke rumah. Selasa pagi Sofyan pamit pada Niar untuk menemui orangtuanya yang tinggal di kampung sebelah untuk melepas rindu karena dua tahun tidak bertemu. Kalo kemarin malam menginap disana sih wajar, pikirnya, lha ini apa mau menginap lagi? Ingin rasanya Niar mengiriminya sms sekedar bertanya apa suaminya itu akan menginap lagi di rumah emak, panggilannya pada ibu mertuanya itu, namun hal itu urung dilakukannya. Niar terlalu gengsi, selama ini dia tidak pernah memulai sms duluan meskipun mereka sudah menjadi suami istri. Apa yang harus aku lakukan Ya Allah? Tiba-tiba ada sebersit keinginan untuk masuk ke kamar Sofyan. Ya, Niar memang menyediakan kamar khusus untuk Sofyan di dalam rumah yang mereka bangun. Dan sejak tiga hari yang lalu Sofyan pulang, Niar tak pernah sekalipun memasuki kamar itu. Niar memilih tidur dengan Adhil dan belum pernah tidur sekasur lagi dengan Sofyan sejak kepulangannya.

Tak seperti dugaannya, kamar itu rapi, tidak ada satu baju pun yang tergeletak di kasur seperti dugaannya, hanya ada kaos oblong dan celana pendek yang menggantung di kapstok belakang pintu. Di atas meja tergeletak tas ransel yang sofyan bawa ketika datang. Penasaran Niar ingin membukanya. Tidak ada yang istimewa di dalamnya, hanya sebuah buku, beberapa batang rokok, korek api,  dan  Alqur’an yang sampulnya sudah terlepas. Mata bening Niar tiba-tiba melihat secarik kertas persis di sebelah tas ransel itu, aih kenapa aku ga liat ini dari tadi, dibacanya perlahan

Untuk de Niar, aku ga bisa bikin puisi, jadi aku salinkan puisinya Fahd Pahdepie untuk de Niar, dengan sedikit perubahan, sebagai ungkapan perasaanku     

Aku memang tak pernah memberimu bunga

ataupun mengucapkan cinta dengan kata-kata

Tetapi setiap jum’at, di sela-sela kerjaku

Aku selalu melangkahkan kaki ke masjid

Sambil mengingatmu dan membayangkan anak kita

 

Di benakku selalu tertanam harapan dan doa

Yang selalu aku panjatkan

Terutama diantara dua khutbah

Untuk kebaikan kita

Aku, kamu, dan anak kita

Sejenak Niar terhenyak membaca puisi itu, dia pernah baca puisi aslinya di akun sosial medianya bang fahd, sapaan akrab Fahd Pahdepie.

De niar, aku tau de Niar tidak mengharapkan kepulanganku, tapi aku sungguh rindu pada de niar, juga begitu ingin bermain bersama Adhil. Sungguh beruntung aku mendapatkan de niar. Alhamdulillah ketika di Australi, aku bertemu orang baik ketika kapal sedang berlabuh di Sydney, dia mengajakku bekerja di pabriknya. akhirnya aku nekat meninggalkan kapal saat itu juga, itu aku lakukan karena kalo di kapal susah mau solat lima kali sehari. Bekerja sebagai buruh penangkap ikan itu tidak kenal waktu solat.  Pemilik pabrik itu keturunan india dan seorang muslim, dia mau menerima karyawan gelap sepertiku yang tidak mempunyai visa darat, asalkan kerjanya bener. Katanya dia bisa membaca kegundahan hatiku kala itu, itulah sebabnya dia mengajakku. Sengaja aku tidak cerita hal ini ke de niar karena ga pengin de niar atau bapak dan emak kuatir, yang penting aku masih bisa kirim transferan tiap bulan dari gajiku ditambah lemburan-lemburan hampir setiap hari.   

Tiba-tiba hape niar berdering, sofyan memanggil

“halo” sahutnya

“halo, salamualekum, Niar ini bapak, ini bapak cuma mau ngasitau, sofyan dirawat sejak tadi siang”

“dirawat? mas sofyan kenapa pak?”

“bapak juga ga begitu paham, kalo ga salah paru-paru, tapi paru-parunya kenapa bapak kurang paham, kamu besok pagi kesini ya nemenin sofyan, nanti Adil dititipin ke emak aja”

“trus yang nemenin mas sofyan malam ini siapa pak?”

“bapak nanti yang nginep sini, tapi bapak mau nganter emak pulang dulu, biar emak tidur di rumah saja”

Paru-paru?  Apa karena mas sofyan tidak bisa lepas dari rokok? Pikiran Niar kemana-mana, dia takut, dia takut mas Sofyan kenapa-napa, tepatnya dia takut mas Sofyan akan meninggalkannya dan Adhil..

Barangkali, lelakimu tak memberi bunga

Tak mengucapkan cinta dengan kata-kata

Tetapi setiap jum’at, di sela-sela lelah kerjanya

Dia selalu melangkahkan kakinya ke masjid

Sambil mengingat namamu, dan mengenang senyummu

Di matanya terpancar masa depan

Di dadanya berdegup harapan

Lalu diantara dua khutbah dia berdoa

Untuk kebaikan kalian berdua

Barangkali,

Demikianlah cara dia mencintaimu

Adakah yang lebih romantis

Dari laki-laki semacam itu?

-fahd pahdepie-       

  • view 280