Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 12 Juli 2018   11:11 WIB
Anak Gadis Ibu

Banyak orang yang bilang bahwa wajah kami mirip, tapi mungkin wajahku agak lebih bundar sedikit. Katanya senyum kami sama, bahkan tetap manis tanpa lesung pipi di ujungnya. Ada pula yang bilang bahwa sifat kami mirip juga, apalagi keras kepalanya, tapi tak perlu kau uji siapa yang paling hebat meredam, wanita hebat ini pasti pemenangnya.

Dia bukan tentara medan perang, ataupun guru dengan banyak murid berjajar. Dia bukan dokter dengan resep obat mujarab, bukan pula chef ternama di restaurant andalan. Tapi dia bak pahlawan, guru, dokter, chef, bahkan dapat menjelma jadi apapun. Sosoknya mahsyur, terkenal hingga pelosok negara manapun. Boleh jadi kau menyebutnya dengan nama berbeda, tapi kupastikan perannya akan tetap sama dan keberadaannya tak kan tergantikan sampai kapanpun juga. Aku memanggilnya: IBUK.

Sudah sejak tujuh tahun lalu, meja makan tak riuh karna berebut paha ayam paling besar, dan perjalanan pulang ke kampung halaman dengan mobil tak ramai karena tak ada yang asik konser tunggal sepanjang jalan. Gadis Ibu yang nomor tiga betah merantau.

Anak gadis Ibu tak tahu betapa beratnya Ibu melepaskan dia merantau tujuh tahun yang lalu. Entah apa yang menyulut semangatnya untuk merantau kala itu, yang Ibu lihat; bola mata putrinya penuh dengan keyakinan. Ibu tak pernah melepas anak gadisnya merantau ke kota asing seorang diri, itu adalah yang pertama kali. Ketika adik nomor empat menangis karena merasa kehilangan teman sekamarnya, Ibu hanya tersenyum sambil memeluknya erat tanpa setetes air mata pun jatuh. Seminggu kemudian Ibu menelpon, dan si anak gadis tak dapat menahan sesenggukan karna rindu suasana makan malam yang riuh, sesederhana itu kebahagiaan yang tidak dapat dia temukan di perantauan. Ibu hanya tertawa dan menghiburnya di seberang telpon sana, serta tak henti mengingatkan untuk tak lupa makan dan ibadah.

"Nggak usah kuatir, kayak di lirik lagu itu tuh; di doaku ada namamu," candanya suatu kali. Sedang di ujung telpon, kala itu anak gadis Ibu tak tau bagaimana beratnya wanita hebat ini menahan rindu.

Seminggu, sebulan, setahun, kemudian tahun demi tahun berlalu, hingga anak gadis Ibu sudah tumbuh semakin dewasa, bertandang dari satu kota ke kota lainnya. “Sudah lulus kan, cari kerja disini aja,” ujar Ibuk, selepas empat tahun si gadis merantau. Tapi tampaknya si anak gadis amat betah merantau. Ini tahun ketujuh, tak ada lagi tangis yang mengiringi setiap kembalinya dia ke perantauan, hanya ada senyum Ibu yang selalu tegar.

Suatu kali karena pekerjaan yang padat, gadis Ibu tidak bisa pulang selama beberapa bulan. Mungkin bagi si anak gadis, itu bukan hal seberapa, tapi tidak bagi Ibu. Di ujung telepon, Ibu terisak. Iya, selama tujuh tahun merantau, sungguh, itu pertama kali mendengar Ibu terisak karena anak gadisnya yang merantau. “Nggak apa-apa, nggak usah dipikir, ibuk cuma lagi kangen aja kok,” ujar Bapak mengambil alih telepon saat itu.

Kau bisa membungkus rindu dengan berbagai cara; mencoba mendengar suaranya, melihat wajahnya dalam layar kecil telepon genggammu, atau mengucapkannya secara lisan. Sedang Ibu, memilih untuk diam dan membungkusnya dengan doa-doa panjang di sepertiga malam. Bukan karena tak rindu maka Ibu tak menelepon sesering dulu, tapi karena rindunya yang kerap membesar hingga tak bisa diungkapkan dengan sekedar ucapan.

Di antara setumpuk makanan yang dibawakan Ibu saat si anak gadisnya berangkat merantau lagi, itu rindu namanya. Di balik, “Gimana di sana? Sehat? Kapan pulang?” ada rindu terselip di dalamnya. Di dalam resep-resep makanan andalan yang sengaja Ibu masak ketika si anak gadis pulang, sesungguhnya ada rindu di dalamnya. Di pelukan erat Ibu ketika melepas anak gadisnya lagi, berjuta rindu di sana. Bersembunyi di balik alasan “takut kamu khawatir,” Ibu menyimpan rindunya sendiri, dan mengirimkannya dalam bentuk doa di sepertiga malam.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat ya Buk. Maaf anak gadis Ibuk terlalu cuek dan tak peka pada perasaan Ibuk.

Untuk kesetiaanmu mengenalkan aku akan Tuhan dan kehidupan, untuk seluruh doa yang terselip namaku di antara sujudmu, untuk segala-gala-galanya, terima kasih. 25 tahun ini dan seterusnya, terima kasih untuk curahan doa, kasih sayang, beserta segala pengorbanan yang tak akan pernah bisa terhitung.

Aku tak pandai mengucap kata-kata cinta, tapi, “Ssst... Ibuk, aku sayang. Banget.”

Karya : Elfitrieni