Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Proses Kreatif 28 Mei 2018   11:46 WIB
Dipatahkan

Langit masih gelap. Belum ada secercah sinar matahari pun yang menyapa para  pemimpi yang tengah lelap. Kota masih sunyi. Bising jalanan, deru mesin, dan klakson yang bersaut-sautan belum menghiasi perempatan-perempatan di tengah kota. Tak ada puluhan kendaraan merayap di jalan raya, semua masih rapi tersimpan di rumah si empunya.

Begitupun di sini, kawasan rumah tempat tinggal para perantau masih juga tak ada bunyi. Bahkan rumah yang ditinggali lebih dari dua puluh orang ini masih seperti bangunan tanpa penghuni; sepi. Hanya terdengar gemericik air kran yang entah siapa lupa memutar penuh tuasnya. Seluruh lampu kamar sudah padam, kecuali kamar nomor sepuluh.

Seorang gadis di kamar nomor sepuluh masih terjaga. Lampu sembilan watt di langit kamar tampaknya sudah panas, namun gadis ini tampaknya belum berminat untuk memadamkannya cepat-cepat. Kedua bola matanya masih asik menatap layar laptop, menyaksikan aktor korea berwajah imut memainkan perannya. Namun walau berulangkali sang aktor bertingkah konyol, gadis penonton ini tetap diam dengan tatapan kosong.

Aku pikir, sedikit guyonan dalam sebuah acara televisi ini sudah bisa sedikit mengusir duka. Tapi aku salah. Berkali-kali sang aktor bertingkah memancing tawa, laraku tetap sama.

Hatinya bersusah-payah berusaha menentramkan tangan yang gemetaran menahan luapan emosi. Napasnya sudah tak beraturan, seolah beban berat menahannya, hingga tercekat di tenggorokan. Pandangannya tak lagi ke layar, dialihkan ke langit langit kamar; berharap dengan begitu ia bisa bertahan.

Jangan jatuh.. tegaklah.. jangan sampai ada kubangan di pelupuk mata...

Kemudian wajahnya tertunduk dalam. Titik titik air jatuh di antara kaos hitam yang ia kenakan. Tidak, dia bukan kalah. Dia sedang dalam proses memenangkan emosi yang menyekapnya erat.

Berhentilah.. Kali ini berhentilah mengalir..

Lututnya gemetar. Kali ini badannya bergetar hebat. Mungkin itu kali pertama ia menangis, meraung karna satu hal semacam ini. Didekapnya lutut dengan erat, digenggamnya tangan erat-erat pula. Sejenak kemudian air mengalir dari kedua pelupuknya, bak banjir yang tiada habisnya.

Begini ya rasanya patah. Sesak.

Telepon di ujung meja bergetar tak henti-henti, sebuah panggilan masuk.

"Halo ta, ada apa?" ujar suara di ujung telepon tiba-tiba, “sori yaaa hapeku tadi ketinggalan di kos, ini baru liat ada banyak panggilan dari kamu.”

Tapi tak ada jawaban.

"Ta, kenapa?", tanyanya sekali lagi.

Kemudian cerita yang ingin dia sampaikan tak terucap dan  tangisannya yang pecah sudah menceritakan seberapa remuk hati yang pecah berulang-ulang. Entah berapa lama, hanya tangis yang keluar. Dia butuh pendengar, dia butuh genggaman untuk dikuatkan.

Ada kalanya seseorang tidak butuh nasehat dan petuah di atas masalahnya, tidak dapat menceritakan segala luka yang menghinggapinya, bahkan tidak dapat menuliskan juga dalam untaian kata. Ada kalanya dia hanya butuh bahumu untuk bersandar, meluapkan segala rasa hanya dalam bulir-bulir air mata.


Kali ini ijinkan aku sejenak menjadi seorang abg labil yang sebegitu rapuhnya diterpa rasa. Aku janji, hal kekanakan semacam ini adalah yang terakhir kalinya.

Karya : Elfitrieni