Berhenti di Kamu

Elfitrieni
Karya Elfitrieni  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2018
Berhenti di Kamu

"Aku masih nggak tau sebenarnya ini waktu yang tepat atau nggak buat kamu datang. Tapi terima kasih, karna kamu tak membiarkan lukaku menganga dalam waktu yang panjang."
***

Malam itu hujan turun deras. Di balik jendela kereta, hanya kelap kelip lampu kendaraan yang terlihat, selebihnya kabur diterpa hujan. Suara derasnya tak terdengar, samar oleh mesin kereta yang menderu. Sudah lima jam novel bersampul merah menemani habiskan waktuku di kereta. Seharusnya keretaku sudah sampai di stasiun pemberhentian terakhir, tapi hujan menahannya di Bangil, entah untuk berapa menit lagi.

Ting

Berkali-kali handphone ku berbunyi, mengingatkan pesan dari seorang kawan yang belum kubalas lima menit lalu, tandanya dia tak sabar hingga mengirimkan pesan lagi. Dia bersikeras menjemputku di stasiun meskipun sudah berkali-kali kukatakan bahwa keretaku akan sangat lama terlambat. "Nggak apa-apa, aku juga sambil ngopi kok," katanya.

Sebelumnya kami tak sedekat ini, hanya sekedar teman ngopi biasa, temen yang kadang suka saling cari kalau lagi sepi. Baru sebulan terakhir ini dia menjadi orang pertama yang selalu menanyakan kabar di setiap pagi, yang namanya selalu memenuhi notifikasi handphone. Sekali tiba-tiba datang di depan kos untuk mengajakku berburu kuliner setelah dua minggu dinasku di luar pulau, memintaku menemaninya beli sepatu baru (walaupun akhirnya malah dapat tas baru). Terkadang kami hanya memutari kota, sembari dia mendengarkan celotehanku untuk menghilangkan penat akan pekerjaan. Dulu kami tak sedekat ini. Dia banyak berubah, dan aku takut menduga-duga.

Kami banyak bercerita, tentang pekerjaan, tentang hidup, atau sekedar cerita tentang makan siangku yang sambalnya sangat pedas hingga tak kuhabiskan separuhnya. Dia tahu aku bukan orang yang banyak bicara, jadi dia selalu banyak bertanya untuk memancing pembicaraan kami tak pernah putus. Seringkali aku hanya menjadi pendengar setianya, mengamati dia menyeruput kopi sedikit demi sedikit sambil bercerita pengalaman hidupnya yang lucu. Perasaanku kutahan sampai disitu, sebagai seorang teman baik yang saling mengisi sepi.

Malam semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 22.45 ketika akhirnya seluruh penumpang kereta diminta untuk pindah ke bus yang disediakan oleh pihak KAI. Banjir belum surut juga, rel kereta masih terendam air. Aku buru-buru mengirim chat, memberikan kabar dan memaksa dia untuk tak menungguku. Tapi tetap saja, "ah gapapa, ini juga belum mau pulang kok, biar sekalian nanti pulangnya bareng aja, kan searah sama jalan pulangku," katanya.

Selang satu jam kemudian, bus tiba di stasiun pemberhentian terakhir. Dia sudah disana, duduk di sepeda motor sambil menggenggam satu helm lagi untuk kupakai. Dia berusaha mencairkan suasana dengan mengajak bercanda, karena melihat wajahku yang masih kusut akibat terlalu lama terjebak di dalam kereta.  Kemudian ada jeda, dia diam untuk beberapa menit saja, membiarkanku menikmati suasana jalanan yang kini lengang, atau entah dia sedang memikirkan apa.

"Kamu mau tau nggak kenapa aku sering banget nanyain tentang semua hal tentang kamu?" tanyanya tiba-tiba.
 
"Apa?"
 
"Aku pengen tau kamu itu gimana, karna aku mau ceritain semua tentang kamu ke ayah mama. Biar nanti, aku bisa ke rumahmu untuk minta kamu dari orang tuamu disana."
 
Jeda beberapa detik, otakku masih perlu waktu untuk mencerna segalanya. "Apaan sih, udah malem ini loh, nggak usah becandaan aneh-aneh."
 
"Loh aku serius ini," katanya sambil sesekali menengok ke belakang, melihat wajahku yang kala itu mungkin sudah merah padam.
 
Sudah beberapa detik berlalu, tapi otakku tak juga bekerja cepat seperti biasanya. Aku sudah kehilangan kata-kata, "kenapa, kok tiba-tiba..."
 
"Ini nggak tiba-tiba, aku udah pikirin bener-bener, bahkan sampe sebelum aku ngomong ke kamu saat ini. Dan yakinku, ya kamu itu jawabannya."
 
Rasanya ingin cepat sampai di depan kos, masuk ke kamar, kemudian membenamkan wajahku dalam bantal. Baru kali itu lampu lalu lintas di perempatan jalan terasa begitu lambat bergerak.
 
***
 
Duniaku berhenti di jam 23.59 kala itu. Angin malam tak begitu kencang, tapi entah kenapa pikiranku tiba-tiba mudah tertiup entah kemana. Udaranya pun tak sedingin biasanya, tapi hingga sampai di kamar, tanganku tak henti-hentinya gemetar, dan jantungku berdetak begitu cepatnya. Hatiku kalut tak karuan.

Tapi diam-diam, dalam doa ku-amin-i segalanya.

  • view 36